BAB 5

8.5K 261 0
                                        

Setelah menunggu Elang hampir satu jam dengan perasaan cemas, Rea mulai gelisah. Ini adalah rekor mandi terlama yang pernah dilakukan pria itu. Seingatnya, Elang selalu menjadi sosok yang praktis dan tidak suka membuang waktu.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunannya. Akhirnya pria itu keluar dengan handuk yang menggantung rendah di pinggang dan rambut basah yang masih meneteskan air hingga membasahi lantai.

"Bang, lantainya basah tuh." Dengan spontan Rea mendekat dan menunjuk jejak air yang ditinggalkan Elang.

Elang menatapnya dengan kening berkerut.
"Kamu kok belum tidur?"

Rea berdecak pelan. Ia melewati Elang yang sedang dalam mode sewot dan berjalan menuju kamar mandi.

Elang mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan tajam. "Rea! Kembali ke kamar. Kamu harus sudah tidur jam segini."

"Apaan sih, Bang? Nggak usah ngegas bisa?"

Masih memperhatikannya, Rea berjalan santai mendekat sambil membawa handuk kecil.
"Sini, biar aku keringin rambutnya. Tuh, lantai jadi basah. Airnya netes terus dari rambut Abang."

"Nggak usah. Kamu tidur. Siniin handuknya."
Elang mengambil handuk dari tangan Rea, lalu berbalik dan berjalan lebih dulu. Saat tidak mendengar langkah wanita itu di belakangnya, ia menoleh.

"Nunggu apa lagi, Rea? Ayo. Kamu harus tidur."

"Abang nggak merasa kelewatan?"

Langkah Elang terhenti. Ia membalikkan tubuh dan menatap Rea yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mandi. "Ada apa, Rea? Kenapa kamu bicara begitu?"

Ketika tak mendapat jawaban, Elang mengembuskan napas pelan. Ia mendekat, merangkul bahu Rea, lalu menuntunnya menuju kamar.

"Nggak ingin menjelaskan ke mana Abang pergi dan kenapa baru pulang selarut ini?" Rea yang sudah duduk di tepi kasur menatap punggung Elang yang sedang sibuk mencari pakaian untuk dikenakan.

Ia sempat melihat bahu pria itu menegang sepersekian detik. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Rea. Abang ada urusan pekerjaan yang mendesak tadi." Suara Elang terdengar lebih pelan dari biasanya.

Rea memilih diam. Ia berbaring dan memunggungi pria itu.

Tak lama kemudian, ia merasakan kasur bergerak. Selimut ditarik menutupi tubuhnya, disusul lengan hangat yang melingkar erat di pinggangnya.

"Tidur ya, Sayang. Abang capek dan ngantuk banget." Elang mengusap punggung tangannya lembut. "Besok kita lanjut lagi. Sekarang kamu harus tidur. Abang temenin sampai kamu lelap."

Padahal Rea sudah tidak mengantuk. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya. Tatapan Elang malam ini juga berbeda. Terlalu berat. Terlalu penuh beban. Seolah ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.

Tapi apa?

Bang Elang nggak mungkin tega, kan?

Iya, kan?

Atau... apakah Bang Elang masih orang yang sama?

Rea menggeleng frustrasi. Mikir apa sih, Re?

"Kenapa, Re?"

"Nggak apa-apa."

Elang memegang bahunya pelan.
"Menghadap ke Abang sini, Re. Biar Abang elus rambut kamu. Kamu harus tidur. Abang juga udah ngantuk."

Rea membalikkan tubuh dan menuruti permintaannya. Ia menelusupkan wajah ke dada bidang pria itu sambil mendekap pinggangnya erat.

"Yaudah. Abang tidur aja kalau udah ngantuk."
Suaranya terdengar samar, tenggelam di dada Elang.

Faded (END/REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang