Pagi itu Rea terbangun dan langsung mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera. Ia menggeliat pelan lalu menatap sekeliling kamar. Seingatnya, semalam ia tertidur bersama Elang di sofa. Namun pagi ini, ia bangun sendirian dan sudah berada di dalam kamar.
Memutuskan mengesampingkan rasa penasarannya, Rea memilih mandi terlebih dahulu.
Tiga puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah berganti. Sebuah tank top hitam dan hot pants senada membalut tubuhnya.
Tanpa suara, Rea mendekati Elang yang sedang sibuk di depan kompor, lalu memeluk pinggang pria itu dari belakang.
"Lagi masak apa, Bang?"
Rea menelusupkan kepalanya dari sela lengan Elang untuk mengintip isi wajan.
"Rea, jangan begini deh."
Suara Elang terdengar serak dan tidak nyaman.
"Kamu duduk aja di sana." Ia menunjuk meja makan yang berada tepat di samping kanan mereka.
"Wanginya sampai bikin aku kebangun."
Rea sama sekali tidak mengindahkan perintah itu. Ia justru semakin nyaman memeluk pinggang Elang sambil terus mengintip masakan yang sedang dibuat pria tersebut.
"Oh iya, Abang mindahin Rea ke kamar jam berapa? Kok aku nggak kebangun sama sekali, ya?" Kali ini Rea menjauhkan kepalanya dari sela lengan Elang dan menyandarkan pipinya di punggung hangat pria itu.
"Kamu kan emang tidur kayak mayat."
Rea terkikik pelan. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya dan menggesekkan hidung ke punggung Elang berulang kali.
"Rea!" Teguran Elang terdengar lebih keras.
"Jangan begini. Duduk di sana! Kamu nggak dengar Abang ngomong apa?"
"Ihh, Bang Elang kayaknya nggak kangen sama Rea, deh." Dengan bibir mengerucut, Rea akhirnya melepaskan pelukannya dan berjalan menuju meja makan.
"Kamu nggak tahu apa yang bisa terjadi kalau terus melakukan hal-hal mengejutkan seperti itu."
Rea mengernyit bingung, tetapi memilih diam.
Beberapa menit kemudian, Elang menghidangkan nasi goreng buatannya di depan Rea yang masih enggan menatap ke arahnya.
"Marah?" Elang mengusap lembut puncak kepala wanita itu, lalu mengecup cepat keningnya.
"Abang mandi dulu, ya. Kalau kamu udah lapar, nggak apa-apa makan duluan."
Rea tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan punggung Elang yang perlahan menghilang di balik pintu kamar. Tatapannya kemudian beralih pada nasi goreng di depannya, sementara pikirannya melayang ke mana-mana.
"Kok belum makan?" Suara Elang membuyarkan lamunannya.
Pria itu duduk di samping Rea dan mulai menyendok nasi goreng ke piring wanita tersebut. "Kamu nungguin Abang?"
Tangannya mengusap lembut pipi Rea.
"Iya. Rea mau makan sama Abang."
"Yaudah, yuk dimakan." Elang tersenyum ceria sambil mengambil dua sendok nasi goreng.
"Kamu pasti udah kangen masakan Abang, kan?"
Rea hanya mengangguk karena sedang sibuk menikmati suapan pertamanya.
"Habis ini kita belanja, ya. Kulkas udah kosong. Yang ada cuma telur sama beras."
"He'em." Jawaban Rea terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh makanan.
Elang terkekeh. "Laper apa doyan, Neng?"
"Dua-duanya."
"Semalam kamu makan apa? Kok lapar banget?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
