Masih Flashback...
Elang menyugar rambutnya frustrasi, berusaha menenangkan diri dan menahan amarah agar tidak dilampiaskan kepada gadis kesayangannya yang sedang salah paham.
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kasar sebelum berdiri dan melangkah lebar mengejar Rea yang berjalan pergi.
"Rea..."
Elang mempercepat langkahnya, berusaha menyamai langkah kecil Rea yang terburu-buru. Namun, gadis itu sama sekali tidak mengindahkan panggilannya.
"Berhenti, Rea..."
Tetap tidak ada respons. Bahkan langkah Rea semakin cepat.
"Dengar, Rea! Berhenti, abang bilang!"
Nada suara Elang meninggi. Nada yang bahkan belum pernah ia gunakan untuk menegur gadis yang paling berharga baginya itu.
Rea tersentak mendengar bentakan tersebut. Namun, ia tetap meneguhkan hati dan melanjutkan langkahnya. Saat jemarinya menyentuh kenop pintu belakang panti dan hendak membukanya, suara Elang kembali menggelegar.
"EDREA LETESHIA!"
Tubuh Rea membeku.
"Jangan coba-coba..." Elang menarik napas kasar. "Jangan sekali-kali kamu melewati pintu itu sebelum pembicaraan kita selesai!"
Mata Rea langsung berkaca-kaca. Kakinya terasa lemas. Tangannya gemetar. Jantungnya berdebar tak terkendali. Ia ketakutan. Sekaligus terluka.
Belum pernah sekali pun Elang membentaknya seperti itu.
Kesabaran Elang yang sudah setipis benang akhirnya putus. Ia menyentak pergelangan tangan Rea tepat saat gadis itu hendak mendorong pintu.
Tubuh Rea berputar mendadak hingga punggungnya membentur daun pintu.
"Apa-apaan kamu, Rea? Dengarkan penjelasan orang sampai selesai! Jangan langsung pergi seperti..." Ucapan Elang terhenti. Matanya membelalak. Dadanya seperti dihantam sesuatu yang keras.
Rea menunduk. Bahu gadis itu bergetar hebat.
Kedua tangannya saling meremas. Air mata menetes tanpa henti dari wajah yang tertunduk.
Seketika amarah Elang lenyap. Berganti penyesalan yang menghantamnya telak.
"Sayang..." Dengan panik ia menangkup wajah Rea dan mengangkatnya perlahan.
Wajah itu pucat. Mata, hidung, dan bibirnya memerah karena tangis. Pipinya basah oleh air mata.
"Maaf..." Suara Elang melemah.
Ia langsung menarik Rea ke dalam pelukannya.
"Maaf, sayang. Abang nggak bermaksud membentak kamu." Tangannya mengusap punggung Rea yang masih terisak.
"Abang lepas kendali." Dengan sabar, Elang merangkul Rea kembali menuju bangku taman belakang.
Ia mendudukkan gadis itu di sampingnya.
Namun saat Rea hendak memberi jarak, Elang langsung meraih pinggangnya dan menariknya kembali mendekat.
"Kenapa kamu pergi sebelum mendengarkan abang sampai selesai?"
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.
"Aku pergi karena pembicaraan kita sudah selesai."
"Sudah selesai bagaimana?" Nada sinis tak mampu disembunyikan Elang.
"Ya... selesai. Abang bilang mau keluar dari panti." Rea mengembuskan napas pelan. "Aku bisa apa? Itu hak abang."
"Tatap abang saat bicara." Elang mengangkat dagu Rea agar menoleh ke arahnya.
Rea memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan keberanian. Ketika membukanya kembali, ia menatap tepat ke dalam mata Elang.
"Abang nggak punya kewajiban menjelaskan apa pun ke aku. Itu hak abang. Abang bebas menentukan hidup abang sendiri." Suara Rea mulai bergetar. "Karena ini hidup abang. Bukan hidupku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
