BAB 11

7.2K 170 1
                                        

Rea terbangun karena rasa dingin yang tidak mampu lagi ia tahan. Ia mengerang pelan dan membuka matanya perlahan. Keningnya berkerut saat rasa ngilu menyerang sendi-sendinya ketika ia mencoba menggerakkan tubuh dan setengah duduk dengan bertumpu pada siku di atas ranjang.

Tubuhnya terasa kaku dan nyeri di beberapa bagian. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar, lalu memekik saat tatapannya jatuh pada cermin besar di samping ranjang yang memantulkan tubuh telanjangnya yang dipenuhi tanda merah.

Rea meringis, lalu memukul pelan kepalanya sendiri sambil merutuki kebodohannya. Ia menarik selimut tebal yang berada di bawah kakinya untuk menutupi tubuhnya yang mengenaskan. Setelah itu, Rea menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang dan berbaring telentang menghadap langit-langit kamar.

Saat kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, ia baru merasakan nyeri di bagian intimnya. Aroma tubuhnya juga masih bercampur dengan aroma tubuh Elang serta jejak kebersamaan mereka semalam.

Ingin rasanya menangis, tetapi ketika mengingat apa yang terjadi semalam, ia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya sangat menikmati dan menyukainya. Mengintip tubuh telanjangnya dari balik selimut, Rea tidak dapat menahan senyum dan pipinya yang memerah.

'Dasar jalang kecil,' rutuk batin Rea.

Ia kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, lalu mengerutkan kening saat tidak menemukan Elang di sana. Bahkan dari dalam kamar mandi pun tidak terdengar aktivitas apa pun.

Menyingkirkan selimut dan menurunkan kakinya dari ranjang, Rea melangkah tertatih menuju kamar mandi meskipun kewanitaannya masih terasa ngilu. Ia membiarkan tubuh telanjangnya tanpa penutup. Saat membuka pintu kamar mandi, matanya langsung membelalak ketika menemukan punggung telanjang Elang yang membelakanginya, sedang menikmati guyuran air dari shower.

Sementara itu, Elang yang mendengar suara pintu terbuka menoleh ke arah sumber suara. Ia terpaku saat melihat tubuh telanjang Rea terpampang di depan matanya. Elang memang sengaja bangun lebih dulu dan mencoba mengalihkan hasratnya yang masih menggila dengan mandi air dingin, meskipun itu tidak banyak membantu.

Ditambah lagi sekarang wanita itu muncul dengan wajah polos dan tubuh tanpa balutan apa pun di hadapannya. Seketika kejantanannya kembali mengeras. Elang meringis menahan ngilu.

"Rea..." ucap Elang nelangsa. "Kamu sudah bangun?"

Ia berusaha memfokuskan tatapannya ke wajah Rea yang tampak syok dan memerah, meskipun sebenarnya ia ingin melahap seluruh tubuh wanita itu dengan pandangannya.

"I-Iya, Bang... Ehm, Rea mandi di kamar mandi luar saja."

Rea berbicara gugup sambil buru-buru membalikkan tubuhnya. Namun, ia langsung meringis karena merasakan nyeri di bagian selangkangannya.

"Kenapa? Yang mana yang sakit?"

Suara panik Elang terdengar tepat di belakangnya. Sentuhan lembut di bahu dan perut bawah Rea membuat wanita itu seolah melupakan rasa nyeri yang tadi dirasakannya. Kini justru jantungnya yang berdegup tidak karuan, seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Tubuhnya pun gemetar saat sentuhan lembut Elang hinggap di beberapa bagian tubuhnya. Ia hanya berharap Elang tidak menyadarinya.

"Rea, sayang? Yang mana yang sakit, hm?" tanya Elang lagi.

Kini pria itu sudah berdiri tepat di hadapan Rea. Ia menunduk, meneliti wajah wanita itu sambil membelai lembut perut bagian bawahnya.

"Di sini?"

Elang mengangkat kepalanya dan menatap mata Rea yang tampak kehilangan fokus. Jemarinya menunjuk bagian perut bawah wanita itu sambil terus mengusapnya lembut.

"Eum, Bang... Rea gapapa."

Rea menjawab gugup. Ia segera menyingkirkan tangan Elang dari perut bawahnya yang hampir menyentuh bagian paling sensitif tubuhnya. Rea juga buru-buru membuang pandangan saat tanpa sengaja melihat tubuh pria itu.

"Seharusnya kamu nggak perlu terburu-buru. Masih sakit yang semalam? Mau abang mandiin aja?"

"Eh? Nggak usah, Bang. Re bisa sendiri, kok. Abang lanjutin aja mandinya," jawab Rea gugup.

Elang tidak memedulikan ucapan Rea. Ia langsung mengangkat wanita itu dan membawanya menuju tempat tidur.

"Bang? Turunin... Aku mau mandi."

Rea menggeliat mencoba turun dari gendongan pria itu sambil menahan rasa nyeri yang kembali muncul saat ia banyak bergerak.

"Jangan gerak-gerak, Rea. Nanti kamu jatuh," geram Elang sambil mengeratkan dekapannya.

Sesampainya di ranjang, ia meletakkan Rea dengan lembut di tengah kasur.

Karena salah tingkah ditatap begitu intens oleh Elang, Rea segera menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut tebal.

"Kamu istirahat aja dulu. Nanti kalau nyerinya sudah berkurang, panggil abang. Biar abang yang mandiin."

Elang berbicara santai sambil mengenakan celana pendek yang diambilnya dari lemari.

"Hah? Nggak usah, Bang! Aku bisa mandi sendiri nanti," sambar Rea panik. "Abang bisa pergi kerja."

Kalimat terakhirnya keluar saat melihat tatapan tak terbantahkan dari Elang.

"Abang nggak kerja hari ini. Seharian ini abang akan melayani kamu. Nggak ada bantahan."

Dengan nada santai, Elang langsung berlalu keluar kamar.

Rea mengembuskan napas keras saat pintu kamar tertutup. Ia baru sadar bahwa dirinya menahan napas sejak tadi ketika Elang dengan santainya mengenakan pakaian tepat di hadapannya.

Menyingkap selimut, Rea kemudian menurunkan kakinya perlahan dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia tidak mau dimandikan oleh Elang. Mau ditaruh di mana wajahnya nanti? Ia akan mandi sendiri.

Setelah mengunci pintu kamar mandi dan membiarkan air shower membasahi tubuhnya, Rea menghela napas lega.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang dibalut handuk. Pada saat yang bersamaan, Elang masuk ke kamar membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Elang mengerutkan kening saat melihat Rea yang sudah selesai mandi dan tampak segar.

"Kamu selesai mandi?" tanyanya dengan nada tidak suka.

"Iya, Bang. Badan Rea rasanya lengket dan gerah. Nggak bisa nunggu lebih lama lagi," jawab Rea memberi alasan.

Elang hanya melengos sambil meletakkan nampan di meja kecil yang berada di kamar.

"Pakai bajumu. Habis itu langsung makan."

Nada suaranya terdengar kesal. Setelah itu, ia langsung berbalik menuju pintu.

"Abang mau ke mana? Nggak makan bareng?"

Rea spontan bertanya saat Elang hendak membuka pintu. Tatapannya jatuh pada nampan yang dibawa pria itu. Di sana terdapat dua piring nasi goreng dan dua gelas air mineral.

"Kerja," jawab Elang cuek.

"Hah? Bukannya abang bilang hari ini libur, ya?"

Rea mengerutkan kening.

"Buat apa? Kamu bisa melakukan semuanya sendiri, kan? Nggak butuh bantuan abang. Jadi buat apa abang libur?"

Nada suara Elang terdengar kekanak-kanakan.

Sesaat kemudian pintu kamar tertutup cukup keras, membuat Rea terkejut dan hampir menjatuhkan rahangnya karena heran.

Ia belum pernah melihat Elang bertingkah seperti itu.

'Seperti ngambek? Masa iya Bang Elang ngambek? Ihh, nggak mungkin.'

Rea pun berperang dengan pikirannya sendiri.

***
Bersambung...
Revisi 9 Juni 2026

Faded (END/REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang