"Re, lo lihat nggak tadi?" Mika meremas tangan Rea. Wajahnya tampak berseri-seri penuh kebahagiaan, dan kedua pipinya bersemu.
"Lihat apaan, Mik? Eh... ehh, tangan gue sakit, Oneng!" Rea menarik tangannya dari remasan Mika yang tidak kira-kira.
"Sori, sori, Re. Gue nggak sadar saking senangnya. Tangan lo nggak apa-apa, kan?" Mika langsung melepaskan tangan Rea dengan panik.
"Nggak apa-apa. Sekarang kasih tahu ke gue, apa yang bikin lo sesenang ini?"
"Lo lihat Kak Liam nggak tadi?"
"Kak Liam?"
"Iya, Re. Kak Liam," jawab Mika antusias.
"Hmm, kenapa dengan dia?" Rea memutar bola mata malas, lalu melanjutkan menyantap bakso yang sempat dianggurkannya.
"Dia senyumin gue, Re. Matanya yang kecoklatan natap mata gue. Lo ingat nggak tadi waktu kita pesan makan? Dia ngeliatin gue lama, terus saat gue menoleh ke dia, eh malah disenyumin. Gue nggak pernah sebahagia ini."
Mika menceritakan semuanya panjang lebar dengan tatapan berbinar.
"Terus?"
Sebenarnya Rea malas mendengarkan cerita Mika tentang lelaki itu. Sudah berapa kali ia bilang, Liam bukan lelaki baik-baik. Liam suka bermain perempuan, dan baginya satu perempuan tidak cukup. Tetapi Mika yang polos dan ceria tidak akan percaya sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Ihhh, Rea. Respons lo kok malah begitu sih?"
"Lo tahu kenapa, Mik. Habisin tuh baksonya, keburu dingin."
"Padahal gue pengen curhat ke sahabat gue, ngasih tahu betapa bahagianya gue. Tapi respons lo bikin gue sedih, Re."
Rea menyentuh tangan Mika.
"Mik... lo tahu gue sayang sama lo, kan? Lo satu-satunya orang yang gue punya setelah Bang Elang. Gue nggak mau kalau nanti hati lo dipatahkan sama lelaki itu. Liam bukan buat lo, dia nggak cocok sama lo. Jangan terlalu berharap sama dia ya, Mik?"
Mika terdiam. Ia mengaduk kuah baksonya tanpa semangat.
"Ada yang salah sama Kak Liam, Re?" tanyanya dengan suara nyaris berbisik.
Rea menghela napas pelan, lalu mengelus punggung Mika.
"Mik, lo pasti tahu berita tentang Liam, kan? Nggak mungkin lo nggak pernah dengar. Apa pun tentang dia udah jadi rahasia umum di kampus ini. Jangan sampai nanti lo jadi korbannya. Lo harus membentengi hati dan diri lo dari godaannya."
Penjelasan Rea justru membuat Mika terkekeh miris.
"Gue nggak pernah berharap sejauh itu, Re. Dia nggak mungkin tertarik buat deketin gue. Gue nggak bakal jadi korbannya karena ngelirik aja dia ogah. Masih banyak perempuan cantik yang bisa ngimbangi pesonanya. Gue cuma mengagumi."
Mika menggenggam tangan sahabatnya.
"Lo tenang aja. Gue bakal tetap baik-baik aja begini, tanpa terlibat lebih jauh dalam kehidupannya. Bahkan di dalam mimpi pun gue nggak berani ngarepin dia sejauh itu, Re."
"Gue sayang sama lo, Mik. Gue nggak mau lo terluka. Lo pantas dapat laki-laki yang lebih baik."
"Iya. Nggak akan," balas Mika yakin dengan senyum kecil.
"Baiklah, kita lupakan pembahasan tentang Liam. Lo masih ada kelas? Gue mau ngajak elo ke tempatnya Bang Elang nih. Gue udah tinggal di sana sekarang."
"Gue ikut bahagia, Re. Tapi hari ini gue nggak bisa. Soalnya jam dua siang nanti masih ada kelas, dan sore gue udah janji bantuin nyokap. Pesanan cake lagi rame."
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
