Elang masih kesal. Ia sebenarnya sudah meminta izin kepada atasannya untuk libur hari ini, tetapi akhirnya membatalkannya. Entah kenapa, melihat Rea tidak bergantung padanya pagi ini, setelah apa yang mereka lakukan semalam, justru membuatnya kesal.
Rasanya tidak ada gunanya ia berada di rumah jika bukan untuk membantu Rea sepanjang hari. Elang sempat berpikir bahwa setelah semalam, Rea akan semakin manja kepadanya, semakin membutuhkan dirinya dalam hal-hal kecil sekalipun. Namun kenyataannya?
Wanita itu baik-baik saja.
"Argh..." Elang mengacak rambutnya frustrasi.
"Bang... Bang Elang..."
Suara Rea terdengar ragu dari belakangnya.
Elang menoleh dan mengangkat alis seolah bertanya ada apa, tetapi mulutnya tetap terkatup tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Rea yang tadi panik langsung menyusul Elang tanpa sempat mengenakan pakaian, hanya membalut tubuhnya dengan handuk. Namun begitu melihat ekspresi pria itu yang tampak marah, langkahnya terhenti.
"Abang nggak makan dulu?" tanyanya pelan.
Rea tetap berdiri di ambang pintu kamar, tidak berani mendekati Elang yang sedang duduk di sofa.
"Nggak. Kamu makan aja."
Dengan cuek, Elang mengalihkan pandangannya ke ponsel di tangannya yang hendak ia gunakan untuk menghubungi atasannya.
"Tapi nasi gorengnya ada dua porsi. Aku nggak bakal sanggup ngabisin sebanyak itu."
"Kalau nggak habis, tinggal dibuang. Repot amat."
Nada suara Elang terdengar lebih keras dari yang ia maksudkan. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Bahkan ia tidak mengerti kenapa bisa bersikap sekekanakan ini.
Rea sempat tersentak.
"Abang kenapa sih? Salah Rea apa?"
Awalnya suaranya terdengar kesal, tetapi getaran di akhir kalimat itu tidak bisa ia sembunyikan.
Mendengar suara Rea yang nyaris menangis, hati Elang langsung melunak. Ia mengembuskan napas panjang.
Ia tidak akan pernah sanggup membuat wanitanya bersedih.
Elang menoleh ke arah Rea yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar. Tubuh wanita itu hanya terbungkus handuk yang bahkan tidak mampu menutupi paha mulusnya sepenuhnya. Jejak-jejak kemerahan masih terlihat samar di sana.
Baru saat itu Elang sadar bahwa sejak tadi Rea bahkan belum mengenakan pakaian.
Ia segera membuang pandangannya.
"Masuklah, Rea. Pakai baju dulu. Kamu bisa kedinginan. Nanti abang nyusul setelah kamu selesai berpakaian."
Suaranya terdengar pelan, seolah sedang menahan sesuatu.
"Tapi Rea udah kedinginan, Bang."
Suara Rea sedikit bergetar.
Anehnya, getaran suara itu justru membuat Elang semakin gerah.
Ia mengernyit, lalu menoleh kembali ke arah Rea.
Dan seketika matanya membelalak.
"Rea!"
Wanita itu kini berdiri dengan kikuk tanpa balutan handuk, kedua tangannya saling bertaut di depan tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan, Rea?" seru Elang frustrasi.
Dengan langkah cepat ia mendekat. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Elang meraih pinggang Rea dan menariknya ke dalam pelukan.
Tubuh mereka nyaris menempel.
Aroma tubuh Rea langsung memenuhi indra penciumannya, membuat napas Elang terasa berat. Ia menunduk, menatap wajah wanita itu sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke lehernya.
Sesaat kemudian, ia meraih handuk yang tadi jatuh dan membungkus tubuh Rea kembali.
"Jangan begini, Rea."
Suara Elang terdengar serak di dekat telinga wanita itu.
"Kamu nggak tahu abang udah susah payah nahan diri dari tadi. Jangan lakukan hal seperti ini lagi kalau nggak mau abang kehilangan kendali."
Ia mengecup puncak kepala Rea dengan lembut, lalu memeluknya erat.
"Ayo. Kamu harus segera pakai baju sebelum sarapan ini berubah jadi makan siang."
Elang menuntun Rea kembali menuju kamar.
Namun langkah wanita itu terhenti.
Rea tidak bergerak. Ia hanya menatap Elang dengan mata yang masih memerah akibat tangisnya tadi.
"Kenapa, sayang?" tanya Elang sambil mengusap pipinya perlahan dengan ibu jari.
Rea menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
"Rea... mau abang seperti semalam."
Ucapannya keluar terbata-bata.
Elang langsung menunduk menatapnya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa yang kamu bilang, Rea?"
Rea tidak menjawab.
Ia hanya meremas kaus Elang dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
Malu setengah mati.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
