Setelah beberapa menit berjalan kaki dari supermarket, akhirnya Rea dan Elang tiba di unit mereka.
"Rea, kamu mandi dulu. Biar abang yang beresin ini." Elang meletakkan kantong belanjaan besar itu, lalu mulai memilah isinya untuk disusun ke dalam kulkas.
"Kita beresin bareng aja, Bang, biar cepat selesai." Rea mulai membersihkan sayuran. "Malam ini abang mau makan apa? Rea yang masakin, deh."
"Nggak usah. Malam ini kita makan di luar aja," jawab Elang singkat.
"Rea lagi malas keluar, sih, Bang. Pengen manja-manjaan sama abang di sini." Rea berdiri di samping Elang dan menatap pria itu.
"Baiklah," ucap Elang pasrah.
"Jadi... abang mau dimasakin apa?" tanya Rea lagi.
"Nggak usah. Pesan online aja."
Lagi-lagi Elang menjawab dengan nada datar.
"Istirahat dulu, deh. Abang kelihatan capek banget." Rea mengambil alih buah yang hendak dimasukkan Elang ke dalam kulkas.
Tak ada jawaban berarti dari Elang. Ia hanya berdiri sambil menatap Rea dalam-dalam.
"Abang sana. Masih ada waktu lebih dari empat jam sebelum makan malam. Jadi abang bisa pakai waktunya buat istirahat."
"Yuk..."
Alih-alih pergi beristirahat sendiri, Elang malah menggenggam tangan Rea dan membawanya menuju kamar.
"Eh... Bang." Rea mengikuti Elang dengan langkah terseok. "Tapi itu..."
Elang tidak mengindahkan. Ia justru terus menarik Rea dengan lembut ke dalam kamar.
Sesampainya di sana, Elang menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Ia menoleh ke arah Rea lalu menepuk sisi kosong di sebelahnya.
"Sini. Kita istirahat sebentar."
"Nggak ah. Istirahat Rea semalam udah cukup, kok. Rea mau lanjutin beresin belanjaan aja."
Baru selangkah melangkah, tangan Rea sudah dicekal oleh Elang. Rea menoleh dengan kening mengernyit.
"Sini, Rea," tegas Elang.
Mengembuskan napas kesal, Rea memilih menuruti pria itu dan berbaring di sampingnya.
"Abang kok jadi aneh gini, sih?" sungutnya.
"Menghadap ke abang, Rea."
Nada suara Elang terdengar dalam. Ia menarik bahu Rea hingga tubuh wanita itu miring menghadapnya.
"Ih, abang. Apaan, sih? Aneh banget."
Rea menatap kesal pria itu yang memaksanya. Tangannya terangkat, menyusuri rambut lebat Elang dan mengelusnya pelan.
Elang tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam sambil menatap manik kecokelatan milik Rea dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Abang kelihatan makin tua," celetuk Rea tiba-tiba.
"Hmm," gumam Elang malas.
"Abang kayaknya kelelahan dan banyak pikiran. Abang harus banyak istirahat dan refreshing."
Jemari Rea mengelus sudut mata Elang.
"Tuh, di sini udah ada kerutannya, Bang."
"Nggak apa-apa. Toh itu malah bikin abang makin kelihatan menawan," jawab Elang cuek.
"Tua!" ejek Rea.
Elang hanya bisa terkekeh pasrah.
"Abang nggak bakal bisa istirahat kalau kamu ribut begini."
"Ya udah, Rea ke dapur, ya."
Elang langsung menahan pergerakan Rea yang hendak bangkit. Ia mendekap wanita itu erat.
"Jangan. Di sini aja."
Rea diam. Ia memperhatikan wajah Elang sebelum mengulurkan tangan ke kerutan tipis di sudut mata pria itu. Memang tidak terlalu kentara, tetapi saat Elang tertawa atau menyipitkan mata, garis-garis halus itu terlihat lebih jelas.
Jemarinya mengelus perlahan sudut mata Elang, merasakan tekstur wajah pria itu.
"Kenapa, Re?"
Suara berat Elang membuyarkan lamunan Rea.
"Ha?"
"Kenapa lihatinnya kayak gitu? Kamu ilfil karena abang udah kelihatan tua?"
"Enggak lah! Rea nggak bakal pernah ilfil."
Nada suara Rea terdengar sewot.
"Rea tuh cuma heran sama diri sendiri. Kenapa ya, makin ke sini Rea malah makin jatuh hati sama abang? Padahal abang udah mulai kelihatan tua dan kerutan juga mulai muncul."
Kekehan Elang memenuhi kamar sempit itu. Ia mendekap Rea semakin erat.
"Abang nggak kelihatan setua itu, kok."
"Oh iya, Bang. Tante yang tadi, atasan abang di kantor, ya?"
Tubuh Elang sempat menegang sebelum menarik napas dalam.
"Iya. Kenapa?"
"Cantik ya, Bang? Wajahnya mulus, kencang."
"Cantikan kamu."
Rea tersenyum di dada Elang.
"Tapi tante itu ngelihatin abang kayak beda."
Suaranya tenggelam di dada pria itu.
"Enggak. Itu cuma perasaan kamu aja."
Elang mengecup sekilas puncak kepala Rea.
"Badan abang pegal, deh, Re. Baru semalam tidur di sofa udah begini."
Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ya udah. Malam ini tidur di sini aja. Enakan juga begini."
Nada suara Rea terdengar antusias.
Elang terkekeh lalu mengacak rambut Rea gemas.
"Pijitin abang, dong."
Melepaskan diri dari pelukan pria itu, Rea segera duduk.
"Ya udah, sini Rea pijat. Buka bajunya, Bang."
Rea duduk di samping Elang lalu membantu pria itu melepaskan kaus oblongnya.
"Tidurnya tengkurap, Bang."
Ia mengambil minyak urut dari laci nakas di samping ranjang, lalu naik ke atas kasur dan duduk di pinggang Elang.
"Eh, kok duduk di situ sih, Re? Yang ada abang makin kesakitan."
"Nggak usah lebay deh, Bang. Rea nggak seberat itu."
Rea mengoleskan minyak urut ke seluruh punggung Elang dan mulai memijatnya.
Beberapa menit kemudian, suara erangan puas Elang mulai terdengar. Rea memijat dengan fokus dan penuh perhatian.
"Enakan, Bang?" tanya Rea saat mendengar erangan itu.
"I-iya..."
Suara Elang terdengar parau.
"Kamu lanjutin beresin belanjaan kita tadi. Abang ngantuk."
***
Bersambung...
Revisi 7 Juni 2026
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
