........
Hari ini cuaca terasa redup. Awan abu-abu memenuhi langit, menutupi setiap celah yang bisa dilewati cahaya matahari.
Aku pulang ke rumah naik taksi karena kampus sedang libur akhir semester. Untungnya, ada teman yang tinggal di apartemen, jadi tempat itu tidak akan kosong selama aku pergi. Aku akan berada di rumah sekitar dua minggu.
Aku hanya menatap jendela melihat pemandangan luar, awan gelap yang menggambarkan perasaan ku sekarang.
Aku kembali ke lingkungan yang sudah hampir 2 tahun tak ku kunjungi, bukan hanya lingkungan, tapi juga kisahnya, luka nya masih membekas, bahkan sekarang aku harus membuka luka lama.
Seketika taxi yang ku naiki melewati sebuah gedung yang masih kokoh masih terawat, gedung dimana aku membuat kisah dengan nya, bukan, bukan dengan nya, namun hanya aku, kita tak pernah memulai, tapi kita sudah selesai.
Tanpa aku sadari sebuah cairan bening sudah lolos dari mataku, pas banget bersamaan dengan turunnya hujan.
SMA Satu, dimana aku dan dia di pertemukan, iya hanya sekedar di pertemuan, hanya untuk bertemu tapi bukan untuk bersama.
Bumi Arsean Dirgantara, aku manggilnya abum, aa bumi, karena katanya dia suka dipanggil aa.
Dia mengajarkan ku banyak hal, dia memberikan rasa yang tak pernah ada, bahkan lebih spesial dari martabak.
Bumi mengajarkan aku rasa sabar, kuat, bahkan mati rasa.
Aku dulu yang sangat sangat sangat bucin dengan sosok bumi, terus memaksakan diri agak bisa bersama dengan bumi, berusaha sekuat mungkin agar bisa menjadi bahu untuk dia bersandar kapan pun dia mau, menjadi telinga untuk mendengar, hingga akhirnya mengantarkan bumi kepada seseorang yang bumi anggap sebagai seseorang yang dapat membahagiakan nya, yang itu bukan aku.
Bumi benar benar meninggalkan seorang gadis dengan dunia suram nya, aku yang dulu berjuang keras melawan kejam nya dunia, tiba tiba datang lah bumi dengan segala pesonanya, aku selalu bersyukur akan hal itu. Tuhan mempertemukan dua garis lurus pada satu titik temu, padahal masih banyak titik lainnya, walaupun pada akhirnya takdir berkata kita harus berpisah, namun aku merasa paling beruntung pernah memiliki mu dihidup ku.
Jika mencintaimu itu sakit maka aku akan bersahabat dengan rasa sakit, agar aku terbiasa, karena mencintaimu itu membuat ku candu.
Hingga akhirnya aku memilih untuk pergi dari banyangan bumi, dia sudah bahagia dengan sahabat ku, jadi kenapa aku tidak, itu nggak adil.
Separuh raga ku memang pergi, hanya separuh yang lain masih tetap tinggal, aku dan biru juga putus komunikasi, hingga kita lulus SMA, aku memilih kuliah dengan jarak dari rumah yang sangat jauh, supaya aku bisa benar benar meninggal kan bayangan bumi.
2 tahun ku habiskan dengan fokus mengejar apa yang ku inginkan, tapi itu tidak membuat ku terlepas seutuhnya dari bayangan bumi. Bumi gaakan pernah lepas dari otak ku, itu kata hati ku. Melepas bumi dan menutup hati untuk beberapa waktu yang lama, itu kata otak ku. Memang tubuhku dan seluruh isinya ngga bisa solid.
"Neng berhenti sebentar ya di depan soalnya hujannya deres banget." Kata sopir taxi memecahkan lamunan ku.
Aku mengelap air mata yang memenuhi mata ku sebelum menjawab, "iya pak gapapa." jawab ku dengan tersenyum singkat.
Kita menepi di depan cafe, karena kelihatannya hujannya akan awet, aku memutuskan untuk ke cafe dulu, butuh yang anget anget.
"Pak saya mau ke cafe dulu ya, mau ikut ngga pak?" tanya ku.
"Ohh ngga neng, saya disini aja, ini juga ujan nya seperti nya awet." kata pak sopir ramah.
"Kalo gitu dultunggu sebentaruan ya pak." kata ku sebelum keluar dari mobil dan langsung berlari buat masuk ke dalam cafe, untung aku bawa payung.
Aku melangkah kan kaki ku untuk masuk ke dalam cafe, jantung ku berdetak lebih cepat, aku baru sadar ini cafe dimana aku sama dia sering kesini, cafe ini bertempat di pojok kota, ini masih di sekitar SMA Satu.
Cafe ini masih belum berubah, sama sekali tidak ada yang berubah, bahkan di sudut masih ada meja yang menjadi tempat favorit aku dan bumi kalo kita kemari, di sana masih ada bayangan aku dan dia yang sedang tertawa, bercanda, bahkan gibah bersama.
Aku mendatangi tempat itu dan duduk di sana, rasanya masih sama sejak 2 tahun yang lalu, aroma nya, ke estetikanya, pelayanannya, bahkan nomor meja nya tak pernah diubah.
Cafe Sankara. Cafe dimana bumi pernah nyanyiin buat aku dihadapan seluruh teman sekelas ku, aku tersenyum singkat melihat tempat untuk nyanyi nya.
Aku berjalan menuju tempat pemesanan, dan memesan apa yang aku ingin.
"Caramel Macchiato satu, meja no 4."
Itu minuman favorit bumi, dan aku, apa pun dulu yang bumi suka pasti aku juga suka.
"Loh biru?" kata penjaga cafe.
Aku mengerutkan alis ku,
"Aryan?" tanya ku.
"Gila lo apa kabar? makin cantik aje." kata Aryan, aku menjabat tangan dengannya.
Aryan temen sekelas ku, dia sahabat yang udah lebih dari sahabat bagi Bumi, Bumi juga sekelas dengan ku.
"Halah sama aja, gue baik, lo gimana?" jawab ku.
"Ooo jelas baik." kata Aryan sambil tersenyum, senyumnya tak pernah berubah memang dari dulu.
Aku hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Duduk dulu sono ntar gua anterin minuman lo." kata Aryan.
"Iyaa." jawab ku sembari jalan mengarah ke meja ku tadi.
Aku berkutik dengan hp, banyak banget notif dari mama.
"Halo, Ma," sapaku saat menelpon.
"Kok belum sampai?" suara Mama terdengar agak cemas di seberang.
"Hujan, Ma. Deres banget nih."
"Terus sekarang kamu di mana?"
"Lagi berhenti di kafe, mau minum dulu, hehe."
"Ya udah, hati-hati. Nanti langsung pulang, ya."
"Iyaaa," jawabku.
Panggilan pun berakhir.
Hubungan aku sama Mama tuh nggak deket-deket banget, tapi juga nggak bisa dibilang buruk. Aku emang jarang cerita soal perasaan, sedangkan Mama tipe yang cerewet dan kadang terlalu ngejagain. Sering sih kita debat gara-gara hal sepele, tapi di balik itu aku tahu dia peduli. Dia bukan tipe yang pandai mengekspresikan sayang, tapi selalu ada cara kecil yang membuatku merasa dijaga.
Aku berasal dari keluarga broken home, orang tuaku bercerai saat aku masih kecil. Mama menikah lagi, sementara Papa memilih pergi jauh.Awalnya berat banget, rasanya dunia jungkir balik. Tapi lama-lama ya udah, terbiasa. Hidup berubah, tapi aku sadar nggak semua perubahan itu berarti kehilangan segalanya.
"Permisi."
Suara Aryan mengagetkan jiwaku yang tadi entah melayang kemana, aku memalingkan wajahku yang awalnya menatap ke jendela.
Deg.
Ternyata bukan aryan yang membawa pesananku.
Melainkan Bumi.
"Apa kabar? Kemana aja?"
TBC.
req song : selamat ( selamat tinggal ) - Virgoun
ketemu lagi yey
aku bawa cerita baru nich
semoga suka yaaaaa!
jangan lupa voment follow juga!
VOTE DISINI
↓↓
KAMU SEDANG MEMBACA
BUMI BIRU
Teen Fiction[ ON GOING] Dia datang dengan ribuan pesonanya, menarik ku kedalam satu titik, titik dimana aku merasa segalanya, dimana titik terbaik menurut ku, tapi tidak menurut takdir. Dia cahaya yang paling terang dari ribuan cahaya yang ada, dia menerangi du...
