Always.. Kalo ada typo tandain okeh?😉
Heppy reading!..
.
.
.
.
.
.Langkah kaki Arabella membawanya kembali menuju apartemen, tempat tinggal Arabella setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas. Adline lah alasan Ara pergi dari rumahnya. Hatinya hancur tatkala melihat Ian yang ia cintai sepanjang hidupnya menikah dengan adik tirinya sendiri.
Ya, Adline adalah adik tiri Arabella, adik yang dibawa ayahnya tepat seminggu kematian mendiang ibunya. Adik yang merebut segalanya dari Arabella. Kebahagiaan, kehangatan keluarga, pujian, ayah, bahkan kekasih hatinya, Ian.
Ayahnya yang selalu menyayanginya berbalik menyayangi Adline yang lemah lembut. Ara membiarkannya.
Namun, saat Adline juga merebut Ian darinya. Ara tidak bisa tinggal diam. Segala hal dia perbuat agar Ian kembali padanya. Hasilnya? Sia-sia, Ian hanya mencintai Adline. Kasih sayang yang pernah Ian berikan sirna tak bersisa.
Tidak. Hal ini bukan karena Adline. Ara pun tidak tau alasan Ian menjauhinya. Tapi, kehadiran Adline membuat Ian semakin jauh dari jangkauannya.
Kembali pada Ara, ia lemas setelah melihat keadaan Adline yang mengeluarkan banyak darah. Apa yang terjadi padanya? Ara pun tak tau.
Ara menekan password apartemennya. Biarlah, Ara tidak mau pergi ke rumah sakit. Muak rasanya melihat ayahnya dan Ian yang sangat menghawatirkan Adline. Ara tak peduli.
Setelah berada di dalam Ara langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dan menenangkan diri. Sepertinya berendam air hangat akan menenangkan pikirannya.
.
.
.
.Sementara itu, di rumah sakit...
"Tangkap Arabella!! Berani-beraninya dia meracuni Adline, wanita itu membunuh anakku. Dia akan mendapatkan balasannya!!" raung Ian murka.
"Baik tuan." sahut tangan kanan Ian dari seberang telepon.
Ardian, pria itu memerintahkan bawahannya untuk menangkap Arabella setelah mendapat informasi tentang orang yang meracuni istrinya. Ya, menurut informasi yang didapatkannya, racun penggugur kehamilan itu berada pada teh yang diminum istrinya saat mengobrol dengan Arabella.
Tersangka pun Ian layangkan pada Arabella. Wanita itu, memang selalu mengacaukan kehidupan pernikahannya. Dia bahkan berani membunuh anaknya. Dimana hati nurani Arabella sebenarnya?
Setelah menelpon bawahannya, Ian memasuki ruang rawat istri tercintanya. Dilihatnya Adline yang ternyata sudah siuman. "Adline kamu gapapa?" tanya Ian cemas.
"Ian, anakku, anak kita kemana?" tanya Adline dengan mata berkaca-kaca sembari mencengkram perutnya yang kini rata.
"Adline tenanglah, anak kita baik-baik saja, tenanglah Adline. Tuhan sangat menyayanginya." jawab Ian mencoba menenangkan sang istri.
Mendengar jawaban sang suami, tetesan bening luruh dari netra sendunya. "Tidaaak!! Anakku, anakku, Ian, dia tidak mungkin meninggalkanku!!!" raung Adline.
"Shht... Tenanglah sayang." Ian membawa Adline ke pelukannya.
"Arabella, aku nggak akan maafin kamu yang sudah buat Adline jadi kayak gini. Kamu akan ngerasain akibatnya!!" batin Ian murka.
"Ian aku mau pulang, aku gamau di tempat ini Ian, aku mohon bawa aku pulang." isak Adline mengeratkan pelukannya. Adline tidak mau berada di tempat yang memisahkannya dengan sang anak. Tidak Adline tidak mau.

KAMU SEDANG MEMBACA
Chance
RastgeleArabella, harus merasakan yang namanya penyesalan. Bukan, bukan berarti Arabella tidak pernah menyesal. Hanya saja ini adalah penyesalan terbesar dihidupnya. Kematian, bukan kematiannya, namun penyebab kematiannya. Arabella tak rela. Kalian tau? Ar...