chap 10. kembali lagi

1.4K 162 45
                                        

Happy reading....

.

.

.

Kembali Sana dan Chan menghabiskan waktu di taman, anak itu menarik tangan Sana untuk mengikutinya menuju suatu tempat. Ia ingin menunjukkan kepada Sana bagaimana hebatnya sang kakak saat sedang berlatih baseball bersama dengan teman temannya.

Disini sekarang Sana dibawa, di tepi lapangan memperhatikan anak anak lain tengah berlatih baseball.

"Apakah kakakku bermain dengan bagus?"

"Ya, tentu saja. Kenapa kamu tidak bergabung ikut bermain dengan mereka, Chan?"

"Tidak bisa. Mereka tidak mengizinkanku ikut karena aku payah dan tidak bisa bermain sebagus mereka. Aku hanya akan mengacaukan saja."

"Bukan karena kamu payah, tapi karena kamu kecil. Kakakmu dan teman temannya tidak mengajakmu bermain karena mereka takut melukaimu. Sabarlah, nanti satu atau dua tahun lagi pasti kamu sudah bisa bermain bagus. Bahkan lebih bagus dari mereka, percaya kan?"

"Hem! Iya aku percaya!" Balas Chan dengan kembali bersemangat.

Sana mengusap kepala Chan dengan lembut. Meski hanya bisa menonton Chan dan Sana sudah cukup senang melihat kepiawaan anak anak kecil itu dalam memukul bola bahkan menangkapnya dengan tepat.

Takkk

Sebuah bola berhasil di pukul dengan keras, bola itu melambung jauh dan tepat mengarah ke Sana dan Chan. Kedua orang itu tidak memperhatikan arah datangnya bola karena sedang asik bercanda satu sama lain. Sana baru menoleh saat kakak Chan menyerukan namanya, tapi begitu ia menoleh sebuah bola sudah tepat berada di depannya.

Bugggg....

Bola itu berhasil mengenai kepala Sana dengan amat keras sampai membuat Sana langsung terkapar jatuh.

"Astaga Kakak.. kamu baik-baik saja?" lirih Chan yang panik melihat Sana sudah terjatuh ditanah sambil memegangi erat kepalanya.

Sana hanya mengerang kesakitan, suara suara dari orang lain seolah tidak bisa masuk ke gendang telinganya. Hanya ada bunyi bising yang mengisi seluruh kepalanya. Itu sungguh menyakitkan, kepala Sana serasa akan pecah.

Orang orang sudah berkumpul mengelilingi Sana, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya bisa diam memperhatikan apa yang sedang terjadi.

"Tzu-tzuyu? Siapa Tzuyu? Argkk sa-sakit sekali.." lirih Sana sebelum dirinya kemudian jatuh pingsan.

.

.

.

'Aku minta maaf, aku pernah jahat sama Sana. Tapi aku janji tidak akan pernah jahat lagi kepada Sana.'

'Sana jangan dimakan, kita harus memasaknya dulu kalau Sana ingin memakannya.'

'Sana, lihat lah hadiah yang aku belikan untuk Sana ini. Apa Sana suka?'

'Sana tau kenapa perut Sana terus terusan membesar? Itu karena ada adik bayi yang tinggal di perut Sana.'

'Adik bayi di dalam sini adalah anak kita berdua, Sana.'

'Sana jangan takut ya, ada aku disini menemani Sana. Sana tidak akan sendirian.'

'Sana, adik bayinya akan segera keluar. Kita akan punya adik bayi sekarang.'

'Sana, jangan tinggalin aku ya. Aku dan juga adik bayi butuh Sana. Sana harus terus bersama ku, berjanjilah.'

Kedua mata Sana kembali terbuka, keringat dingin membasahi seluruh wajah cantiknya.

So Bad - satzu (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang