Butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan Sana yang sekarang menjadi sosok Sana yang dulu, sekiranya lima tahun bukan waktu yang singkat bukan.
Dengan segala macam pengobatan, terapi, konsultasi dari semua pihak yang berpengalaman akhirnya Sana kembali. Wanita itu berhasil sembuh dari penyakit yang menyerang mentalnya. Bisa kembali hidup normal selayaknya wanita pada umumnya.
Tetapi meskipun sudah sembuh sepenuhnya, saat ini Sana masih saja berada di negara asal bunga sakura. Tempat kelahiran sang ayah. Sebuah tragedi lain menimpanya, seolah takdir tidak mengizinkannya memperoleh kebahagiaan.
Saat ia masih menjalani pengobatan sebuah kecelakaan menimpanya, mobil yang ditumpangi Sana dan ibunya mengalami kecelakaan tunggal. Untunglah Sana, ibunya dan si supir masih bisa diselamatkan meski cedera yang mereka alami cukup serius.
Yang paling parah adalah Sana yang saat itu duduk di samping kemudi. Ia duduk disana tanpa memakai sabuk pengaman, membuat kepalanya menghantam keras bagian depan mobil hingga menyebabkan ia tak sadarkan diri selama dua hari.
Dokter bekerja keras untuk bisa menyelamatkan Sana, dua hari tak sadar akhirnya pada hari ketiga Sana berhasil membuka matanya. Namun naas, ia mengalami amnesia. Sana tak bisa mengingat semuanya, dokter mengatakan bila sebagian ingatan milik Sana terhapus sementara.
Tak ada yang bisa mereka lakukan untuk membuat Sana ingat kembali, namun mereka mengatakan bila ada kemungkinan nantinya memori memori itu akan muncul dengan sendirinya. Tetapi mereka juga tidak bisa menjamin ingatan Sana bisa kembali seratus persen. Semua ini tergantung kondisi dari Sana itu sendiri.
Dan salah satu bagian ingatan yang terhapus itu ialah seseorang bernama Tzuyu, pria yang sudah banyak memberi kesan di hidupnya. Itu menjadi point plus untuk ayah Sana karena beliau tak perlu repot membereskan pria itu dari hidup putrinya.
Sekarang Sana duduk sendiri di sebuah taman, matanya terfokus pada kalimat demi kalimat yang tersusun pada sebuah novel. Kesukaan Sana sekarang ialah membaca novel, ia tak tahu sejak kapan menyukai cerita karangan indah seperti itu, yang dia ingat hanya dulu buku tentang anatomi tubuh, penyakit penyakit berbahaya, juga berbagai macam saraf tubuh manusialah yang setiap hari ia baca.
Entahlah Sana tidak mau repot memikirkan hal itu, mungkin cita cita untuk menjadi seorang dokter sudah berubah dan dia tak tahu kapan ia merubahnya.
Sebuah cupcake coklat tiba tiba saja terulur didepannya, Sana segera mengangkat kepalanya dan mendapati sosok kecil nan tampan yang tengah tersenyum manis kepadanya.
"Untukku?" Tanyanya dibalas anggukan bersemangat dari bocah kecil itu hingga Sana merasa takut leher bocah ini akan cedera karena terlalu semangat menganggukkan kepalanya.
Sana tersenyum lalu menerima cupcake tersebut dengan senang, "Ahh terima kasih banyak, kamu baik sekali."
Si kecil ini lalu duduk disamping Sana. Keduanya menikmati makanan manis yang dibawa si anak tadi bersama sama.
"Kakakku menggangguku lagi, kali ini dia merusak hasil gambarku yang sudah susah payah ku buat. Dia sangat menyebalkan, aku tidak mau punya saudara seperti dia." Keluh anak itu kepada Sana.
Sana melirik kearahnya sebentar, ah pantas saja anak ini sedari tadi memasang wajah ditekuk rupanya ia tengah kesal dengan kakaknya untuk yang kesekian kalinya. Wajah kesal menggemaskan itu membuat Sana tidak.bisa menahan senyumnya.
"Jangan billang seperti itu Chan, kakakmu pasti tidak sengaja melakukannya. Mau bagaimana pun dia tetap kakakmu. Paham?" ucap Sana mengingatkan.
Anak itu tidak menjawab perkataan Sana, dia memilih untuk makin memajukan mulutnya sambil mengayun ngayunkan kaki pendeknya yang menggantung di tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
So Bad - satzu (END)
FanfictionDunia ini di penuhi oleh orang jahat. Apa salahku? aku hanya ingin bahagia. Apa kebahagianku itu mengganggu mereka? -SN
