chap 2. bisa berubah

1.1K 157 27
                                        

Sana sudah rapi dengan seragam sekolahnya, gadis ini memperhatikan tampilannya sendiri di depan cermin. Terlihat jelas dirinya hanya gadis kutu buku yang cupu. Benar-benar tidak ada yang menarik darinya.

Bibirnya tersenyum tipis, tak ada yang spesial di dirinya malah masih banyak gadis yang lebih cantik, lebih populer, lebih modis dan lebih segalanya di banding dirinya namun entah mengapa Tzuyu bisa jatuh hati padanya. Itulah pertanyaan yang ingin Sana dapatkan jawabannya.

Memikirkan hal itu membuat Sana sedih, jelas sekali dia tidak sebanding dengan Tzuyu. Di perhatikan lagi penampilannya dengan seksama. Rambut kuncir kudanya coba dia lepas, rambut kecokelatan lebatnya tergerai panjang. Sedikit di sisir untuk dirapikan, itu sudah cukup untuk membuat tampilan Sana sedikit fresh.

Langkah kedua adalah kaca mata bulat yang membantu dirinya memperjelas pandangan mulai dia lepas, tentu semua menjadi buram. Diraihnya kontak lensa di atas meja lalu memakainya.

Hanya dua perubahan itulah yang Sana lakukan. Kini dia menatap puas pantulan dirinya di cermin. Serasa dirinya lahir kembali di raga yang berbeda. Mungkin dengan penampilan barunya ini akan membawa perubah yang baik untuk dirinya. Semoga saja.

"Sana... jadilah orang yang baru mulai sekarang. Semangat!" Ucap Sana menyemangati dirinya sendiri.

"Eh Sana? Cantik banget sih anak Ibu." Tegur nyonya Kim melihat penampilan anaknya yang berbeda dari biasanya.

Sang suami ikut menoleh kearah tangga di mana sang anak nampak sangat cantik.

"Anaknya Ayah emang tiap hari cantik kok, tapi kalo dandan gini jadi seratus kali lebih cantik." Tambah tuan Kim makin membuat Sana tersipu malu.

"Yayaya tentu saja, Sana kan anaknya Ibu. Tentu saja akan cantik. Ayo kemari Sana, segera habiskan sarapanmu." Ucap nyonya Kim membuat Sana bergegas duduk di kursi sebelah ibunya.

"Kenapa sekarang kamu berdandan Sayang? Aku kamu suka seseorang?"

Uhukk...

Sana tersedak begitu mendengar pertanyaan dari ayahnya. Cepat-cepat dia meraih gelas minumnya dan meneguk hingga tersisa setengah.

"Ihh Ayahhhh..." rengek Sana.

"Eiii kenapa reaksimu seperti itu? Wah jangan-jangan tebakan Ayah memang benar ya? Astaga Bu, anak cantik kita sudah mulai menyukai seseorang." Goda tuan Kim kembali.

Beliau makin puas menggoda Sana setelah pipi anak gadisnya ini merona dengan telinga yang juga memerah.

"Ahh Ibu.. tolong aku Bu, Ayah menggodaku terus tuh."

"Ibu harus bantu apa?"

"Marahi Ayah Bu, ayo cepat marahi Ayah."

"Cieee anak Ayah jadi malu malu seperti ini haha.."

"Ibuu..."

"Astaga hentikan Ayah! Apa Ayah tidak lihat pipi anak kita sudah seperti kepiting rebus?" Lerai nyonya Kim yang sudah tidak tega dengan putrinya.

"Itu bukan kepiting rebus Bu, tapi bubuk bedak warna merah itu loh. Mahasiswi yang Ayah ajar pipinya semua juga berwarna merah. Cie cie anak Ayah sudah besar, pasti sudah ada yang disukai tuh.." goda tuan Kim lagi.

"Ck Ayah.. memangnya kenapa kalo Sana menyukai seseorang? Apa ada yang salah? Anak kita kan memang sudah besar. Memang seperti apa pria yang kamu sukai? Apa dia tinggi? Kurus atau gemuk? Apakah tampan?” Ucap nyonya Kim malah membuat Sana makin cemberut.

"Ahh Ibu ternyata sama aja. Ah males ah." Rajuk Sana memajukan bibirnya seperti anak itik.

"Hahaha anak kita lucu sekali ya Bu."

So Bad - satzu (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang