"Anjir. Naresh nggak ada permintaan tolong yang lebih enak gitu ya?"
"Dikira enak gitu nganterin risol dari ruang kelas di ujung belakang sampe ruang osis mpk di ujung depan."
Sambil membawa rantang berisi risol mayo pesanan Naresh, Giva berkali-kali mengeluh karena jauhnya jarak antara ruang kelas dan ruang osis mpk.
Tadi saat Naresh sedang rapat osis, dia baru ingat bahwa risol buatannya masih ketinggalan di kelas. Daripada balik lagi, dia akhirnya meminta tolong ke Giva untuk membawakannya ke ruang osis mpk.
Saat hampir tiba di ruang osis mpk, Giva perlahan-lahan mengatur napasnya yang mulai tak beraturan. Kenapa tiba-tiba perasaannya jadi tak enak. Padahal sebelumnya biasa saja.
Giva tiba di depan sebuah ruangan bertuliskan 'RUANG OSIS/MPK'. Giva mengangkat tangan kanannya, mulai mengetuk pintu ruangan tersebut dengan hati-hati. Bersamaan dengan ucapan kata salam.
"Assalamualaikum..." katanya.
Sebuah suara seseorang di dalam ruangan menyahuti sapaan Giva. "Waalaikumsalam, masuk aja," kata seseorang tersebut.
Giva menekan handle pintu. Membuat pintunya terbuka perlahan. Cewek itu menyembulkan sedikit kepalanya sembari berkata, "permisi, mau cari Naresh. Katanya, disuruh nganter risolnya." Giva menunjukkan rantang risol bawaannya.
Seorang gadis cantik beralmet sekolahnya yang berdiri bersama beberapa orang di dekat papan tulis tiba-tiba membalas ucapan Giva. Sepertinya Giva tahu cewek itu siapa. Itu Karina. Sekarina Megantara. Wakil Ketua OSIS SMA Brawijaya 5.
"Oh risolnya Naresh, danusan kan?" tanya Karina.
"Iya."
"Masuk aja nggak apa-apa, Giv." Karina mempersilakan Giva untuk masuk lebih dalam ke ruangan.
Anggota osis/mpk lain yang tadinya memperhatikan Giva saat cewek itu datang, kini kembali menyibukkan diri membahas proker masing-masing. Tak begitu memperhatikan Giva.
"Ini." Giva menyodorkan rantang risol tersebut kepada Karina. Karina menerimanya dengan senang hati.
"Makasih ya," balas Karina.
Melihat kedua mata Karina menyipit seperti memberikan senyuman, Giva jadi ikut membalas dengan senyuman juga kepada gadis cantik berambut panjang itu.
Meskipun Giva tersenyum, hatinya merasa seperti tidak tenang saat berada di dalam ruangan ini. Sebelum pamit pergi, Giva mengalihkan pandangannya ke sekitar.
Sepasang matanya jatuh dan bertabrakan dengan tatapan dari sepasang mata milik seseorang yang berdiri di samping Karina.
Sepasang mata itu menatapnya lama. Membuat Giva jadi bertanya-tanya kenapa dia sampai menatapnya begitu.
Wajah seseorang itu tampak familiar meskipun sebagian wajahnya tertutupi oleh masker. Dan Giva seakan ditarik kembali untuk mengingat masa lalu. Tapi cewek itu merasa seperti tak yakin.
Giva masih bertanya-tanya dalam benaknya.
Siapa dia?
Anak baru?
Rasanya seperti pernah mengenal.
Dan kenapa jantungnya seakan berdetak lebih kencang?
"Giva!!"
Panggilan Karina mengangetkannya.
"Eh?" Giva mengerjapkan kedua matanya, berusaha kembali fokus. "Apa?"
"Lo mau balik ke kelas kan?" tanya Karina.
"Iya," jawab Giva.
"Boleh minta tolong nggak? Panggilin Ezra sama Rendi ke sini," pinta Karina.
KAMU SEDANG MEMBACA
We're the Same
Genç Kurgu[yejeno]. "Mau segimanapun gue ngejar, tokoh utama akan selalu dapat tempat lebih. Pada akhirnya dia yang akan menang, walau saat ini dia kalah. Dan sayangnya gue bukan tokoh utama itu. Gue ada, supaya tokoh utama bergerak maju untuk dapat apa yang...
