03. Gavin dan Masa Lalu

677 150 42
                                        


Sierra
HAHAH
ya makanya lo tuh klo jd cowok teguh pendirian kek
perasaan manusia tuh bukan soal essay
yang diperbanyak bukan teori, tapi praktek tau gak

Pemuda itu mendecak setelah merunduk dan membaca chat dari sahabatnya. Memang tidak ada gunanya curhat sama sahabat cewe, ujung-ujungnya bukannya dikasih saran malah dimaki-maki. Tapi kalau bukan ke situ ya siapa lagi.

Masih pagi, koridor sekolah kebanyakan masih sepi. Para siswa belum banyak yang berdatangan. Hanya satu dua orang saja yang lewat.

Gavin—nama pemuda itu—mengangkat gelas plastik berisi es kopi di tangan kanannya kemudian menyedotnya hingga tersisa setengahnya. Pagi-pagi sekali setelah meletakkan tas di kelas, Gavin menyempatkan diri untuk membeli es kopi di kantin. Niatnya sih untuk menghilangkan rasa kantuknya setelah semalaman begadang.

Karena tangan kanan Gavin memegang gelas plastik, Gavin menggunakan tangan kirinya untuk mengetikkan pesan kepada Sierra.

Gavin
lo udah bilang ini berkali-kali
sampe bosen gue

Sierra
lo tuh soal ginian bego, makanya gue bilangin berkali-kali biar INGET

Sierra tuh emang nggak ada abisnya kalau soal ngata-ngatain Gavin. 11/12 lah sama mama dan kakak perempuannya.

"EZRA SINI LO!"

Samar-samar Gavin mendengar suara seseorang seperti sedang bertengkar. Alih-alih mencari tahu siapa itu, Gavin justru terus melangkahkan kakinya. Pemuda itu hanya sesekali melirik ke depan. Dia masih fokus mengetikkan pesan hingga tiba-tiba kaki kanannya seperti tersandung sesuatu.

Gavin terkejut tak sampai jatuh, tapi jadi reflek melempar gelas plastiknya. Bersamaan dengan itu seorang cowok yang menyandung kaki Gavin tadi sudah tersungkur jatuh di samping kakinya.

BYUUURRRRRRRRRRR!!!!!

Suara tumpahan air sukses mengalihkan perhatian beberapa orang di sepanjang koridor. Jantung Gavin makin berdebar kencang ketika melihat dampak dari perbuatan yang baru saja dia lakukan. 

"ASTAGHFIRULLAH!!!"

"ASTAGHFIRULLAH NYAI!!!!!"

"GIVAAAA!!!!"

Rena, Lia, dan Naresh berlarian menghampiri Giva yang sudah basah kuyup tersiram air kopi. Sweater, rambut, dan seragam sekolahnya sudah berubah warna sekarang. Terlihat kotor dan kecoklatan.

Sementara itu, Giva di tempatnya hanya diam saja, masih syok. Namun berikutnya, tangan kanannya bergerak membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. Dari situlah Gavin jadi tau, bahwa Giva sedang diam menahan kemarahan. Terbukti dari wajahnya yang memerah disertai tatapan tajam dari sepasang matanya. Yang menatap Gavin dan membuatnya jadi tak bisa berkutik.

Lidah Gavin terasa kelu, tiba-tiba jadi tak bisa bicara, tapi ingin memanggil gadis itu.

Saat Gavin maju melangkahkan kakinya untuk bertanya keadaan Giva, Giva malah berlalu pergi dan melewati Gavin begitu saja. Rahang gadis itu mengeras bersamaan dengan wajahnya yang terangkat.

Ezra yang tadinya tersungkur kini berusaha bangkit setelah Giva terlihat menjauh. Dia merapat ke belakang punggung Gavin meminta perlindungan, barangkali para sahabat Giva mau melampiaskan emosi padanya. Nyatanya tidak, justru mereka malah berjalan menghampiri Gavin.

"Vin..." panggil Naresh.

"Gue nggak tau lagi deh, Giva lagi kumat galaknya. Gue benar-benar nggak bisa jamin kalau lo bisa selamat hari ini," kata Naresh dengan dramatis.

We're the SameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang