Jam delapan lewat sepuluh menit, Gavin tiba di rumahnya setelah mengantarkan Giva pulang dengan selamat. Pemuda itu memarkirkan mobilnya di garasi rumah lalu beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Gavin menghela napas. Rasanya banyak sekali energi yang dia keluarkan untuk hari ini, ditambah lagi tubuhnya sedang tidak fit. Dia merasa begitu lelah.
Saat hendak menutup pintu kamar, pandangannya jatuh kepada gitar yang terletak di pojok ruangan. Itu gitar yang dibawakan oleh Giva tadi.
Gavin meraih gitar itu, kemudian mulai memainkannya berniat menguji suara. Akan tetapi, pikirannya jadi tak fokus. Berbagai peristiwa masa lalu mulai muncul dalam pikirannya tanpa dia minta.
“Gavin, sekolah yang bener ya! Ingat udah SMP lho jangan diem-dieman sama temennya.”
Gavin menanggapi ucapan mamanya dengan sekali anggukan beserta senyuman manis. “Iya, Ma,” kata Gavin sembari meraih tangan kanan mamanya dan menciumnya.
“Gavin pamit ya, Ma. Hati-hati!”
Mamanya Gavin tersenyum sambul melihat putra kecilnya yang kini sudah duduk di bangku SMP itu. Kebetulan, hari ini hari pertama Gavin masuk SMP.
Gavin memasuki gerbang sekolah barunya dengan wajah datar. Sejujurnya, dia malas sekali harus ikut masa orientasi seperti ini. Dia juga malas dengan tugas-tugas MOS yang terlihat aneh. Entah kenapa, tidak ada hal yang membuatnya semangat hari ini.
“RENAAAA!!!!”
Sungguh teriakan ini terdengar begitu nyaring di telinga Gavin. Pemuda itu sampai reflek memejamkan mata dan menutup kedua telinganya. Namun, tidak disangka bahwa refleknya tersebut malah membuat Gavin menabrak seseorang yang berjalan depannya.
Harusnya Gavin yang minta maaf, tetapi justru seorang gadis di depannya yang meminta maaf. “Eh astaga, maaf ya. Aku nggak sengaja, aku juga kaget dan berhenti waktu denger temenku teriak tadi,” ucap seorang gadis di hadapannya.
Gavin membalas dengan anggukan. “It’s okay.”
Gavin berniat pergi dari sana. Namun, kehadiran seseorang justru menyita perhatiannya.
“Kalian nggak apa-apa?”
Seorang gadis lain datang dengan wajah panik. “Duh! Maafin aku ya, kupikir teriakanku nggak akan sekenceng itu.”
“Minta maaf kamu, Giva. Teriakanmu kayak TOA obral baju di CFD tau!!” ucap Rena.
Gadis yang dipanggil Giva itu malah menyikut lengan Rena. “Nggak separah itu juga ya!”
“Bener kok!”
“Ih enggak!!! Suaraku bagus tau! Kata papaku aja suaraku merdu.”
“Merusak dunia.”
“Ihhh Rena!!!!”
Rena hanya terkekeh melihat sahabatnya yang langsung merajuk itu. Rena sangat puas menjahili sahabatnya. Bagi Rena, raut wajah Giva ketika merajuk terlihat lucu di matanya.
Begitu juga di mata Gavin.
Eh! Mikir apa sih dia ini???
“Halo! Nama kamu siapa?” tanya Giva membuyarkan lamunan Gavin.
Gavin tak langsung menjawab, dia hanya memandangi uluran tangan Giva. Giva dan Rena saling menatap satu sama lain, bertanya-tanya kenapa pemuda di hadapan mereka ini tak kunjung membalas uluran tangan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
We're the Same
Roman pour Adolescents[yejeno]. "Mau segimanapun gue ngejar, tokoh utama akan selalu dapat tempat lebih. Pada akhirnya dia yang akan menang, walau saat ini dia kalah. Dan sayangnya gue bukan tokoh utama itu. Gue ada, supaya tokoh utama bergerak maju untuk dapat apa yang...
