Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
~Happy reading~
Hari kian berganti, waktu pun semakin berlalu. Tak di rasa kini tepat sembilan bulan sudah wanita berklan Uchiha itu mengandung. Badan langsing dan perut ratanya dahulu kini kian hari kian membesar.
Layaknya ibu hamil, Sakura tentu mengalami beberapa fase yang tak ia alami sewaktu tak mengandung. Misal mengidam, ah ingatkan apa saja yang ia inginkan waktu itu. Untungnya Sasuke selalu sabar dan berusaha untuk menurutinya.
Di dalam ruangan serba putih, Sasuke setia berdiri disamping Sakura seraya menggenggam erat tangannya. Bulir-bulir keringat di dahi wanitanya itu mulai bermunculan. Sakura terlihat sangat pucat dan lesu. Sedari tadi ia tak berhenti mengalami kontraksi hingga pembukaan yang sudah berlangsung sekitar 20 menit.
Sebagai suami yang siaga, Sasuke berusaha tak akan lepas dari pandangan Sakura. Ia selalu berada disisi wanitanya itu terlebih dalam kondisi seperti ini. Aa, melahirkan. Perjuangan antara hidup dan mati bukan sesuatu yang bisa dianggap mudah mengeluarkan seorang manusia dalam rahim wanita. Perlu perjuangan besar untuk mendapatkannya. Nyawa, tentu adalah taruhan utamanya.
Dengan dibantu beberapa perawat yang lain, Shizune selaku medisyang menangani proses persalinan Sakura kini mencoba setenang mungkin dalam menjalankan tugasnya.
"Terus Sakura, sedikit lagi kau pasti bisa....Ayo!" Shizune terus mengarahkan Sakura. Sakura mendorong, semakin mendorong tak perduli dengan kain sprei yang sudah berantakan karena ulahnya.
~o0o~
Dilain tempat, tepatnya didepan ruang persalinan Sakura. Terlihat Sarada, Ino, Hinata, Naruto serta Kakashi-sensei tengah terdiam menunggu disana. Aa, mereka berdua -Naruto dan Kakashi-sensei- turut menyempatkan diri untuk ada. Kedua lelaki yang terpaut umur lumayan itu berdiri bersandar didinding dekat pintu. Sementara Sarada, Ino dan Hinata sama-sama duduk disalah satu kursi tunggu. Sebenarnya jika Shikamaru dan Temari tak sedang pergi ke Suna karena urusan mendadak, mereka juga pasti ada disini menunggu seperti yang lain.
"Sarada-chan, jangan terlalu khawatir ya. Percayalah semuanya akan baik-baik saja." Hinata mengelus lembut punggung tangan Sarada. Ia tahu jika gadis Uchiha itu gelisah, terlihat dari ia yang sedari tadi tak berhenti meremas jari jemarinya.
"Proses persalinannya juga pasti sebentar lagi akan selesai." lanjut Hinata.
Ino bergeser dan mengusap pundak Sarada. "Benar, kau tahu Mamamu seperti apa kan? Dia pasti bisa melewati ini. Tenang saja."
Sarada tersenyum kearah Ino dan Hinata. Ia mengangguk. "Terimakasih, Bibi."
~o0o~
Rasa cemas juga takut seketika menghampiri Sasuke. Iya, dirinya takut. Seorang Uchiha Sasuke merasakan takut sekaligus tak tega melihat istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan bayi mereka. Proses kelahiran Sakura kali ini mengingatkannya kembali saat dimana Sakura melahirkan Sarada. Saat itu, Sasuke turut menyaksikan semuanya, melihat jelas apa saja yang terjadi hingga sang putri dilahirkan. Ia seakan dejavu.