l i m a

73 12 2
                                    

Alin, Fajri dan Farhan kini sedang berkumpul di ruang keluarga rumah Fajri. Ketika hari libur seperti ini, rutinitas mereka adalah bermalas-malasan dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Mari kita absen dulu, di atas sofa ada Alin yang sedang tiduran sambil scroll  beranda Shopee. Hanya lihat-lihat dan tambahkan ke troli, urusan di check out itu belakangan.

Di bawah Alin ada Fajri yang duduk bersender pada tepian sofa, laki-laki itu sedang mabar PUBG dengan Shandy.

Di kaki Fajri ada Farhan yang sedang tiduran, dengan berbantalkan kaki Fajri.

Sementara Shandy sedang duduk di ruangan terpisah, yaitu di ruang makan.

"Ini anak bunda kenapa dari pagi tiduran aja sih?" Vera—bunda Shandy dan Fajri, datang ke ruang keluarga dengan tangan berkacak pinggang.

"Itu sofa sama karpet kalo bisa ngomong, mereka bakal ngedumel gara-gara kalian tidurin terus," omel Vera.

Farhan bangkit dari tidurnya sambil nyengir lebar, "kita tuh lagi menghemat energi bunda, besok kan kita mulai aktivitas lagi."

"Alasan." Vera berdecak mendengar jawaban Farhan.

"Aji mau mie, bunda masih punya stok kan?" Tanya Fajri yang masih fokus pada ponselnya.

"Ada, mie rebus," balas Vera.

Fajri menoleh lalu mematikan ponselnya, "kok mie rebus? Aji nggak suka."

"Ya adanya cuma tinggal itu," ucap Vera.

"Ada masalah apa lo nggak suka mie rebus?" Shandy tiba-tiba nongol.

"Mie rebus itu enak. Valid, no debat, no kecot," ucap Shandy.

Farhan berdecak, "nggak lah, enak juga mie goreng."

Fajri mengangguk setuju dan memberikan jempol pada Farhan, "yes bener banget."

"Nggak lah, enak mie rebus ada kuahnya," balas Shandy tidak mau kalah.

"Mie goreng juga bisa dikasih kuah," Fajri masih meladeni Shandy.

Shandy menggeleng kukuh, "mana bisa mie goreng pake kuah. Lagian juga mie goreng tetep harus direbus dulu, nggak bisa langsung jadi."

"Tetep aja enak mie goreng," balas Farhan membela makanan favoritnya.

"Mie rebus."

"Goreng."

"Rebus."

"Goreng."

"Rebus, nomer satu."

"Goreng paling enak."

"Rebus.

"Goreng."

"Apaan sih cuma gara-gara mie aja bikin heboh seisi rumah?" Vera menghentikan perdebatan tidak penting itu.

"Mau mie rebus, mie goreng, sama-sama enak kalo kalian bikin sendiri. Bukan nyuruh bunda buat masakin." ucap Vera sebal menatap anak-anaknya itu.

Memang kebiasaan mereka berempat, ketika ingin makan mie harus Vera yang masak. Alasannya karena mie buatan Vera jauh lebih enak dibandingkan buatan mereka sendiri. Oh tapi tidak, tetap lebih enak mie buatan mbak warkop tentu saja.

"Tau nih, mau mie apa aja tetep enak, asal makannya nggak pake sumpit." Alin ikut berpendapat.

Fajri mengacak rambut Alin, "iya itu karena lo nggak bisa makan pake sumpit."

Alin nyengir lebar mendengar perkataan Fajri. Memang Alin tidak bisa makan menggunakan sumpit, walau sudah berkali-kali diajari oleh para abangnya, tapi tetap saja. Yang ada jika Alin memaksakan makan menggunakan sumpit, dia baru selesai makan saat makanan itu sudah basi. Itupun selesai makan, karena makanannya dibuang.

TriangleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang