"Kook, ayo ikut Mama kenalan sama tetangga baru.."
Jungkook kecil mendongak dari mainannya yang berserak di lantai ruang tengah. Mamanya sudah melambai di dekat pintu depan, membawa baki dengan dua stoples kue kering yang baru selesai dipanggang. Kening Jungkook berkerut kesal, merasa waktu mainnya diinterupsi.
"Ngga usah manyun gitu, ayo cepetan sini ikut Mama. Atau nanti ngga dapat jatah cookies cokelat, nih.." sahut Mama Jungkook dengan senyum dikulum, geli dengan tingkah putra bungsunya.
"Kalau ikut Mama, berarti dapat jatah dobel, ya?" tawar Jungkook dengan mimik serius, yang tetap terlihat menggemaskan di mata sang Mama.
"Perhitungan banget, anak ini.. hayuk!"
Tanpa membereskan barisan kereta api yang ia mainkan, Jungkook beranjak dengan langkah cepat ke arah Mamanya. Ia mengekor langkah sang Mama sambil menarik lembut sisi rok terusan beliau yang berkibar pelan tertiup angin, suara Jungkook menggema pelan, "wuss.. wuss.."
Belum sampai ke seberang, rumah tempat tetangga baru tinggal, sebuah suara keras mengagetkannya. "Mamaaa.." refleks tangan Jungkook meraih kaki sang Mama, memeluknya erat sambil mengintip penasaran.
Sumber suara tadi adalah pintu mobil yang dibanting persis di depan rumah tetangga baru. Namun bukan itu yang membuat Jungkook kecil tercengang, melainkan pemandangan yang menurutnya begitu heroik.
Saat anak kecil seumurannya bersedekap seolah menjadi perisai pemisah antara dua orang dewasa yang sedang berseteru. Tatapannya begitu marah dan berani, menghujam ke arah sang pria dewasa, yang ternyata merupakan ayah gadis itu.
"Bawa tante itu pergi! Dia udah buat Mama nangis! Ayah jahat!" sahutnya lantang. Tidak peduli tatapan sekeliling. Wanita dewasa di belakangnya terlihat membungkuk sambil berbisik lembut, menariknya perlahan ke dalam rumah.
"Kalau mau pulang jangan bawa tante itu kesini! Atau aku usir Ayah juga!" seruannya terdengar sebelum sosoknya menghilang di balik pintu.
Jungkook masih mematung terkesima saat Mamanya menggamit pelan, pandangannya prihatin.
"Ayo, Ma, kita antar kuenya!" sosok anak perempuan tadi membuatnya penasaran. Ia ingin tahu lebih banyak.
Alih-alih meneruskan langkah ke rumah tetangga baru, Mama berbalik kembali ke rumah mereka. Membuahkan kerutan heran di dahi Jungkook kecil.
"Besok pagi-pagi aja,ya.. kita bawakan bubur ayam ya buat tante Yeon dan Yerimie, oke?"
'Jadi namanya Yerimie..' batin Jungkook, mencatat nama itu dalam pikirannya dengan sungguh-sungguh.
...
"Seenggaknya dulu aku pernah lebih tinggi dari kamu, Kook.."
"Tapi tetap aku yang lebih kuat, kan.." goda Jungkook sambil menoleh ke arah gadis yang tingginya kini sekepala lebih rendah dibanding dirinya itu. "Tenang, Rim, aku volunteer jadi ksatriamu kalau kamu kesulitan, kok.. kan nanti SMA kita bareng lagi."
Yerim tidak menjawab. Jungkook baru menyadari itu saat langkah Yerim tak lagi menyamainya, gadis itu membeku beberapa meter di belakangnya. Tatapan Yerim tertuju pada sebuah mobil yang terparkir tepat di halaman rumahnya. Mobil yang bagi Jungkook tak asing, namun sepertinya amat sangat mengusik Yerim. Insting protektif Jungkook mulai terketuk.
"Kenapa.."
Tak menunggu pertanyaan Jungkook selesai, Yerim berlari ke arah rumahnya, terburu-buru. Ia tiba tepat saat pintu depan terbuka, memperlihatkan Ayah Yerim menarik tuas koper dan menenteng satu tas punggung. Mama Yerim bergelayut ragu di tangan kiri pria itu, ingin menahan namun sadar ia tak akan sanggup.
"Mau kemana Ayah?" Yerim tegas bertanya meski dengan nafas terengah sehabis berlari. Jungkook menjaga jarak beberapa jengkal di sisi luar halaman rumah Yerim, berjaga-jaga.
"Kemasi barangmu Yerim, ayo ikut Ayah!" balas Ayah Yerim, tak kalah tegas.
Yerim tetap tak beranjak seperti perintah Ayahnya. Tatapannya kini bergeser ke arah Mamanya, yang terlihat begitu pasrah dan terluka.
"Ayah belum jawab pertanyaan Yerim! Kenapa harus pergi?"
Ayah Yerim melempar koper dan tas punggung ke dalam jok belakang. Gesturnya sarat emosi.
"Ayah akan pindah. Yerim ikut Ayah! Cepat kemasi barangnya dan kita berangkat 10 menit lagi."
Punggung Tante Yeon, Mama Yerim, terlihat bergetar. Matanya mengiba ke arah puteri satu-satunya. Memintanya bertahan, namun tak beliau lisankan.
Situasi di depannya sungguh membuat Jungkook kesal setengah mati, kecewa dengan perilaku Ayah Yerim terhadap keluarganya. Beberapa kali Yerim sempat bercerita tentang kondisi orang tuanya dan situasi pernikahan mereka. Posisi rumit yang mendidik Yerim untuk menjadi dewasa lebih cepat dibanding usianya. Jauh dalam hatinya Jungkook khawatir kalau Yerim akan menuruti perintah sang Ayah. Lamat ia berdoa...
"Silakan Ayah pergi, nggak perlu menunggu Yerim. Yerim tetap tinggal dengan Mama.." desis Yerim dingin tanpa keraguan. Ia lalu berbalik memapah Mamanya kembali ke dalam rumah.
Ayah Yerim melempar batang rokok yang tinggal setengah, menginjaknya kesal. Ia memandangi punggung putri dan istrinya sesaat sebelum masuk ke dalam mobil dan beranjak pergi. Saat mobil itu melintas di dekatnya, Jungkook melihat sesosok perempuan duduk di kursi penumpang di sisi Ayah Yerim.
Amarah Jungkook memuncak. Ia mengalihkan pandangan pada Yerim yang memeluk pundak Tante Yeon sambil bersandar ke sisi tubuh wanita itu. Sebuah pemandangan yang meremukkan hati.
Detik itu, Jungkook berikrar pada dirinya sendiri akan melindungi Yerim seumur hidupnya.
---
w/n. imagining little kook and yerm together makes me giddy :)
cr: pic isn't mine.
And yeah, I was the worst when it comes to my fic progress.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taken
Romanceshe asks of how does it feel like to be wanted, feel loved and never get left behind? he looks at her, softly, answers "you should just trust me.."
