"ALAAHH.. Alasan kamu aja, kan, Jae. Aku malas berdebat, ya, karena udah aku jelaskan juga.. kenapa sih kamu sulit ngerti?"
"I'm trying Rose, percaya.. gestur kak Chanyeol ke kamu bikin aku nggak nyaman, tahu nggak?"
Dua suara dengan nada yang makin meninggi itu memaksa yerim mendongak dari textbook tugasnya, membuatnya sadar es kopi susu yang dipesannya sudah mencair dan berubah warna. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, sumber suara yang mengagetkannya tadi. Serta nama panggilan yang rasanya familiar.
"Tuh, kan, mulai deh, berlebihan kamu ya. Kak Chanyeol itu murni mau bantu aku, kenapa sih?" sahut suara perempuan.
"Murni bantu kamu?? Persetan dengan niat murninya, you don't see the way he looks at you. Dia suka sama kamu, Rose!!" debat si cowok, dengan nada yang lebih tinggi.
Lewat pukul 10 malam, situasi coffee shop yang lengang membuat pertengkaran keduanya jelas menggema di seantero ruangan. Keheningan yang menyambut setelah sangkaan si lelaki tadi pun jelas terasa.
Gemerisik benda yang diambil dengan kasar dan terpaksa terdengar kemudian, disusul derap langkah dan pintu coffee shop yang ditutup terburu-buru.
Salah satu dari mereka meninggalkan yang lain. Yerim menebak dalam hati siapa yang pergi dan siapa yang tetap di tempatnya.
Sosok lelaki yang terduduk di meja sudut. Wajahnya tertunduk dengan tertutupi kedua tangan. Profilnya cukup familiar di mata yerim saat ia berjingkat pelan mendekat dengan dua gelas baru berisi cappuccino hangat di masing-masing tangan.
Jaehyun menoleh ke arah yerim saat merasakan langkah gadis itu mendekat. Mendapati wajah yang ia tahu, Jaehyun tersenyum. Meski nampak senyum itu jauh dari kata tulus.
"Maaf, aku nguping.." ucap yerim hati-hati sambil menyodorkan salah satu cappuccino hangat d tangannya. Ia mengambil tempat di seberang Jaehyun kemudian.
"Thanks. Kami berantem keras banget, ya.."
"Nggak, sih.." Yerim menggeleng polos, lalu menambahkan, "paling ya separuh blok denger.."
Senyum tipis kembali tersungging di bibir Jaehyun, kali ini terlihat lebih lepas, murni terhibur dengan keberadaan yerim.
"Yerimnya Jungkook, kan, ya?" tanya Jaehyun, "kok sendirian?"
Yerim berdecak, menggelengkan kepalanya, "kenapa selalu orang-orang menyandingkan gue sebagai Yerimnya Jungkook, sih, ya? Kami cuma sahabatan, tau.."
"Masa, sih? Kalian cocok banget padahal.."
"Cocok? Kami mungkin kalo berantem bakal lebih bar-bar dibanding kalian.." Yerim mendekap bibirnya, sadar sudah mengungkit hal yang sensitif, "sorry.. gak maksud sumpah. Maaf aku suka jeplak begini.."
Jaehyun di depannya tak tampak marah, ia malah terkekeh pelan sambil menyesap cappuccino yang tadi diberikan yerim, "no.. that's okay. We're so loud anyway. Lo sendiri? Jungkook mana?"
"Masih part-time.."jawab Yerim sambil menyesap cappuccino hangatnya. "Janji jemput gue sih, abis dia selesai.."
Merasakan Jaehyun tidak merespon jawabannya segera, yerim mengangkat pandangannya. Ia menemukan tatapan Jaehyun melekat ke arahnya. Alih-alih merasakan sesuatu yang istimewa, Yerim malah merasa tak nyaman. Aneh, karena ia seharusnya bahagia. Dia, kan, naksir Jaehyun?
"Ada yang salah di muka gue?" tembak yerim cepat untuk mengalihkan perhatian lelaki di depannya.
Jaehyun menggeleng, "No, you're okay. More than okay malah. Sedikit banyak gue ngerti sekarang kenapa Jungkook bisa sayang banget sama elo.."
"Harus berapa kali sih gue bilang kalo gue sama Kook itu.."
"Sahabatan? Iya I know.. " Jaehyun terkekeh penuh arti, "by the way, malam begini mau dijemput Jungkook kemana?"
"Ke apartemen dia. It's not what you think it is, dude.." sergah yerim saat melihat sebelah alis Jaehyun terangkat sambil tersenyum jahil, "aku perlu jasa IT people buat bikin program app untuk tugas akhir and since he's an IT guy, so.."
Jaehyun mengangguk meski senyum jahil masih terpulas di wajahnya.
Yerim terkekeh, lalu mencoba meyakinkan, "Beneran! Aku musti lulus semester ini.. so I'm desperate hiring all experts I can get. Sesuai budget mahasiswa kere macam gue tentunya.."
Mendengar itu, Jaehyun ikut terbahak, meski Yerim merasakan kilat lain dari tatapan Jaehyun ke arahnya.
"Mau nebeng gue aja? Tempat gue deket sama kompleks apart-nya Kook. Daripada elo sendiri.."
Yerim tertegun. Ragu, namun penasaran. Hati kecilnya bilang ia akan menyesali ini. Tapi, sisi dirinya yang menganggap ia naksir Jaehyun bersorak atas kesempatan yang langka ini.
Sisi yang lain mengetuk bahwa pria itu baru saja terlibat pertengkaran dengan kekasihnya dan bisa jadi hanya memanfaatkan keberadaanya di waktu yang salah. Sisi ini berusaha menahan yerim tak pergi, menunggu Kook menjemputnya.
Tapi yerim jarang merasakan ini. Merasa dibutuhkan, seperti diinginkan. Dan ia pun mengiyakan ajakan Jaehyun untuk menunggu Jungkook sambil ngobrol di tempat Jae. Sambil berdoa sisi hatinya yang lain akan mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Taken
Romanceshe asks of how does it feel like to be wanted, feel loved and never get left behind? he looks at her, softly, answers "you should just trust me.."
