Present Time
Sifra Maree
“Let’s get drunk tonight!”
Bersama dengan rekan-rekan kerjaku, kami mendatangi Harrods dan berencana untuk meminum sebanyak-banyaknya, dikarenakan ini adalah Jumat malam.
Aku menoleh pada Daphne dan kekasihnya yang meminum scotch dari bibir ke bibir. Well, mereka berdua memang menjalin hubungan, jadi tentu saja mereka sering sekali melakukan PDA.
Boleh dikatakan bahwa aku cemburu, sih. Aku juga ingin punya kekasih. Tapi aku tidak ada waktu untuk berkencan dan lain-lainnya. Hidupku saja sudah dipenuhi dengan pekerjaan. Jadi, waktu adalah hal yang sangat berharga. Aku tidak bisa membuang-buang waktu sesuka hatiku.
Claire—rekan kerjaku juga—mengatakan pada Daphne, “Ew, quit with the lovey-dovey act!”
Daphne mencibir. “Tidak mau.”
“Ugh,”
“If you are jealous, get yourself a boyfriend.”
Semuanya pun tertawa. Tapi Claire tidak pernah terluka dari semua perkataan Daphne. Dia tahu bahwa Daphne hanya bergurau saja.
Kemudian, Allen menambahkan, “Benar itu. Kau memang harus punya kekasih, Claire, agar tidak cemburu lagi jika melihat Daphne dan Oscar melakukan PDA.”
“Hei, aku tidak cemburu. Lagipula, aku punya kekasih.”
“Really?”
“Ya.”
Soal itu, aku tahu bahwa Claire memang mempunyai kekasih. Dia menjalin hubungan dengan CEO di perusahaan kami. Namun hubungannya itu rahasia. Aku bisa mengetahui hubungan mereka juga karena ketidaksengajaan sewaktu aku melihat Claire keluar dari ruangan Mr. Kim dengan pakaiannya yang berantakan.
Setelah itu, Claire memberitahuku semuanya.
Oscar menaikkan alisnya. “Claire punya kekasih? Wow, for sure? Who’s the lucky guy?”
“Rahasia,” ujar Claire. “Yang memerlukan kekasih di sini itu Sifra. Dia sudah terlalu lama sendiri. Bukan begitu, Sif?”
Aku membasahi bibirku. “Well, I don’t need a boyfriend.”
“Kenapa?”
“Hanya membuang-buang waktu saja. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, jadi untuk apa punya kekasih?”
Allen menggelengkan kepalanya. “Jangan seperti itu, Sifra. Kau masih muda. Seharusnya kau menikmati masa mudamu dengan bertemu pria-pria, menjalin hubungan dengan mereka dan melakukan seks sebanyak-banyaknya.”
“Yup. That’s right.” Kata Claire. “Mungkin kau tidak perlu menjalin hubungan, but you really need to get laid, honey.”
Benar, sih. Aku rindu seks. Sudah begitu lama aku tidak melakukan seks. Mungkin karena belum ada pria yang dekat denganku, jadi aku tidak melakukan seks.
Terakhir kali aku melakukan seks itu empat tahun yang lalu saat aku menjalin hubungan dengan Jimin.
“Um, bagaimana jika aku menyiapkan kencan buta untukmu, Sif? Ada temanku dari New York yang baru saja datang ke sini. Well, dia lahir di London, tapi kemudian pindah ke New York, dan baru kembali lagi ke sini. Mungkin kau bisa menjalani kencan buta dengannya. Siapa tahu cocok?”
Claire membelai tanganku. “Um, bukankah itu hal bagus? Kau harus mencoba kencan buta dengan temannya Oscar.”
“Do I have to?”

YOU ARE READING
THE PROBLEM IS YOU
Fanfiction[🔞] Aku dan Jeon Jungkook itu tidak akan pernah menjalin hubungan. Well, bahkan kami saja tidak bisa berada dalam satu ruangan yang sama tanpa bertengkar. Aku benci Jeon Jungkook. Sangat, sangat membencinya.