Jeon Jungkook

820 85 4
                                    

5 years ago

Sifra Maree

Tentunya aku terkejut dengan Jeon Jungkook yang tiba-tiba bertanya mengenai ukuran payudaraku. Dia sudah gila atau bagaimana?

Aku menaikkan alisku saja dan tidak menjawab pertanyaannya.

Tapi Jungkook menarik nafas dan menjelaskan. “A-aku tidak tahu berapa ukuran payudara Kakakku. Mungkin sama seperti dirimu.” Katanya sembari melihat ke arah dadaku.

Aku segera menyilangkan tanganku pada dadaku. “Huh?”

“Breast pumps nya.”

“Oh. Well, kenapa kau tidak tanyakan saja pada Kakakmu?”

Jungkook hanya mengendikan bahunya, lalu dia mulai perlahan mengemudikan mobilnya itu.

Karena keadaan sunyi di dalam mobil dan aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya, jadi aku hanya menoleh pada jendela mobilnya dan menatap ke arah jalan raya yang sangat sepi dari kendaraan.

Hingga akhirnya, kesunyian itu lenyap saat Jungkook bertanya, “Harriet sudah punya kekasih baru, ya?”

“Huh?” aku menoleh ketika mendengar suaranya itu. “I guess.”

“Kau sahabatnya dan tinggal bersamanya. Bahkan kau tidak tahu siapa kekasih barunya itu?”

“Aku memang sahabatnya, tapi aku tidak pernah mengusik kehidupannya—terlebih lagi mengenai percintaannya.”

“Really? Then what about you?”

“What do you mean what about me?”

Jungkook kembali mengendikan bahunya, “Tidakkah kau punya kekasih?”

“No.”

“Satu pun tidak ada?”

Aku mengangguk. “Satu pun tidak ada.”

“How come?”

“Entah. Mungkin memang aku tidak terlalu menarik di mata pria. Terlebih lagi, aku juga tidak peduli, sih. Aku tidak memfokuskan diriku untuk mencari kekasih.”

“As if.”

“Serius!”

“Well, tapi ada pria yang kau suka, bukan?”

Aku mendecak, “Of course ada!”

“Siapa? Park Jimin?”

“Well . . . iya.”

Jungkook tertawa. “Serius? Kau suka padanya?”

“Dulu, saat masih di freshman. Why?”

“Tidak. Hanya saja aku tidak menyangka seleramu itu adalah pria seperti Park Jimin.”

“Memangnya ada apa dengan Park Jimin? Dia itu pria incaran semua orang. Semua wanita—well, bahkan pria—suka padanya. Dia juga baik. Meskipun playboy, sih.”

“Lalu kalau kau suka padanya, kenapa kemarin kau menghindarinya saat dia mendekatimu?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak tahu. Aku merasa tidak nyaman saja. Terlebih saat kami berbicara, pandangan matanya mengarah pada dadaku. Such a pervert.”

“Pervert itu bukan hal baru lagi untuk pria, Sifra. We love boobs. Loves to see them, touch them, and kiss them.”

“Ew, why?”

“Karena memang sudah seperti itu sejak dulu! Astaga, kau ini aneh sekali, sih? Pria yang tidak mesum terhadap wanita itu menurutku sedikit tidak masuk akal.”

THE PROBLEM IS YOUWhere stories live. Discover now