5 years ago
Sifra Maree
Aku memukul bisep Jungkook saat dia mengatakan itu. Lalu dia hanya tertawa sembari berkata, “I’m just joking, alright?”
Dan aku pun ikut tertawa. Kami kembali lanjut bercerita sembari makan Taco Bell nya.
Secara tiba-tiba aku bertanya padanya, “Kau tidak punya kekasih?”
“Aku?” dia menunjuk dirinya sendiri. “Sekarang ini tidak ada. Kenapa?”
“Tidak. Hanya bertanya saja.” Ujarku. “Tapi aku sedikit tidak percaya, sih. Kau tampan. Mana mungkin tidak punya kekasih?”
Jungkook terkekeh. “Oh, menurutmu aku tampan?”
“Don’t be so full of yourself.”
“Hei, kau yang bilang.”
“Fair enough.”
Dia kembali tertawa lagi. Kemudian dia menjelaskan. “Untuk sekarang aku belum tertarik untuk punya kekasih. Aku tidak suka untuk diatur.”
“Maksudmu?”
“Hmm . . . aku itu ingin bebas. Maksudku adalah jika aku sedang bermain, tidur, atau bertemu siapa pun, aku tidak perlu memberitahu kekasihku.”
“Kalau begitu jangan punya kekasih.”
“Oleh karena itu aku tidak punya.” Dia menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya. “Sewaktu aku bersama dengan Harriet, dia itu seperti anak kecil. Dia memintaku untuk menghubunginya setiap jam. Aku harus memberitahunya dengan siapa aku bertemu, dan jika aku ingin bermain game, dia memberiku waktu selama tiga puluh menit saja, setelah itu aku harus kembali meneleponnya.”
Benar, sih. Aku saksi bagaimana keduanya menjalin hubungan. Harriet memang sangat kekanak-kanakan. Wajar saja jika Jungkook trauma dan belum memiliki kekasih sampai sekarang.
Aku mengangguk. “Ya, aku mengerti. Kalau aku di posisimu, mungkin aku akan mengakhiri hubunganku dengan Harriet. Walau dia sahabatku, but sometimes I can’t with her.”
“Ya. Tapi aku sangat mencintainya waktu itu. Jadi kupikir itu hal wajar saat menjalin hubungan.”
“Right.”
Jungkook melirik jam yang ada di dinding. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Kalau semakin larut nanti aku takut untuk mengantuk dalam perjalanan.”
“Oh, okay. I’ll see you out.”
Jungkook bangkit dan mengambil kunci mobilnya.
Kami berdua berjalan keluar dari flat-ku, lalu menuju ke tempat di mana dia memarkirkan mobilnya.
“Oh, right. Jangan lupa kembalikan pakaianku serta hoodie milikku, alright? Harus kau sendiri yang mengembalikannya.”
“Why?”
“Kalau Harriet lagi yang mengembalikannya, aku akan menemuimu lagi.”
Aku mengangguk. “Ya sudah, ya sudah. Nanti aku yang akan mengembalikannya.”
“Good.” Dia masuk ke dalam mobilnya. “Cepat masuk ke dalam flat.”
“Okay. Hati-hati, Jungkook.”
“Iya. Bye.” Dia melambaikan tangannya. “See you tomorrow.”
Lagi, aku mengangguk.
Jungkook dan mobilnya pun pergi dari area flat-ku. Kemudian aku menaiki lift untuk menuju ke flat.

YOU ARE READING
THE PROBLEM IS YOU
Fanfiction[🔞] Aku dan Jeon Jungkook itu tidak akan pernah menjalin hubungan. Well, bahkan kami saja tidak bisa berada dalam satu ruangan yang sama tanpa bertengkar. Aku benci Jeon Jungkook. Sangat, sangat membencinya.