"Ibu, Kaori, kemarilah!" ayah yang baru saja pulang dari kantor langsung memanggilku dan ibu.
Aku menoleh pada ibu. Ibu juga menatapku, kemudian mengangkat bahu. Kami pun mendekati ayah.
"Ada apa?" tanyaku.
"Lihat, ini brosur gedung yang bisa kau gunakan untuk pernikahanmu," kata ayah seraya menyodorkan setumpuk brosur. "Pilihlah bersama ibumu."
"Ayah ..." rajukku. "Aku tidak akan menikah di gedung-gedung ini."
"Lalu?"
"Aku akan menikah di Islamic Center," ujarku.
Dahi ayah berkerut. "Apa itu?"
"Tenang saja, Ayah. Katanya, laki-laki itu yang akan mengurus semuanya," sahutku enggan.
"Laki-laki itu?" kerut di dahi ayah makin bertambah.
"Maksudnya, Shinichi," ibu menjelaskan.
Ayah mengangguk-angguk. "Lalu, bagaimana soal gaun pengantinmu?"
"Aku akan memakai pakaianku sendiri," jawabku.
"Pakaian orang Arab itu?" tanya ayah keras.
"Sudah kubilang, kan, itu bukan pakaian orang Arab," ralatku.
"Kau mau memakainya di hari pernikahanmu?"
Aku mengangguk.
"Kau mau menutupi rambutmu juga?" tanya ayah lagi.
Kembali aku mengangguk.
"Dame! Zettai dame! (Tidak boleh! Pokoknya tidak boleh!)" kata ayah tegas.
"Kalau begitu, aku tidak mau menikah!" ancamku.
"Nani?!"
"Ayah, kan, sudah janji akan menerima keislamanku asalkan aku mau menikah dengan laki-laki itu. Jadi, Ayah harus membiarkan kami menikah sesuai aturan Islam," jelasku santai. "Lagi pula, ini juga keinginan laki-laki itu."
Ayah membuang napas berat. "Laki-laki itu, laki-laki itu, berhenti menyebutnya seperti itu!" tegur ayah.
Aku merengut.
"Baiklah, kalau memang itu keinginan kalian. Kalian benar-benar dua anak muda yang keras kepala." Akhirnya ayah menyerah.
"Para orang tua juga keras kepala untuk memaksa kami menikah," gumamku pelan.
"Nanda tte (apa yang kau katakan)?"
"Nandemo nai (bukan apa-apa) ..." sahutku.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Hankachi
EspiritualGara-gara bertabrakan dengan seorang laki-laki di depan Miyamoto Cafe, Kaori kehilangan saputangannya. Dia juga dipaksa ayahnya menikah dengan Okumura Shinichi, laki-laki yang sama sekali tidak dikenalnya. Suatu hari, Kaori menemukan saputangan yang...
