Lara memarkirkan mobilnya di depan tempat les matematika Bara. Hari ini supir yang bertugas untuk mengantar - jemput Bara tidak bisa bekerja, dikarenakan harus mengantarkan istrinya kontrol ke rumah sakit.
Lara melihat tidak ada tanda - tanda Bara akan pulang. Lara memutuskan keluar dari dalam mobilnya dan menghampiri satpam yang berjaga di sana.
"Pak, maaf saya mau tanya" ucap Lara sopan.
"Oh iya neng, mau nanya apa?"
"Ini biasanya lesnya keluar jam berapa ya?"
"Ohh, sekitar jam lima sore neng" jawab satpam tersebut.
Lara menangguk - anggukan kepalanya, dilihatnya arloji yang ada di pergelangan tangannya. Dilihatnya masih pukul 04:30, masih ada setengah jam lagi.
Lara melihat adanya coffe shop di samping tempat les Bara tersebut. Lara memutuskan untuk menunggu Bara seraya minum kopi di coffe shop tersebut.
··············
Lara meminum secangkir hot caramel latte tersebut, ia memejamkan matanya menikmati. Dan saat ia membuka matanya, ia dapat melihat Ajil yang sedang memarkirkan motornya tepat di samping mobilnya. Lara juga melihat, Ajil berjalan kearahnya.
"Lo kenapa sih? Gue telfon ngga diangkat, gue mau ketemu lo selalu gabisa" ucap Ajil seraya duduk di kursi yang ada di hadapan Lara.
"Apa sih Jil, nggak usah gede - gede, gue malu"
"Lo sayang nggak sih Ra sama gue?" Tanya Ajil serius, terlihat dari matanya yang menatap Lara dengan dalam.
"Sayang lah, ngapain sih pake nanya kayak gitu segala"
"Kalo sayang, lo jangan lebih mentingin Ryan dong daripada gue" tutur Ajil.
"Lo ngomong apa sih Jil? Siapa yang lebih mentingin Ryan? Sok tau lo"
"Gue tau Ra, gue bukan anak kecil lagi. Gue tau lo suka ketemu Ryan kan?"
"Gue gak ketemu Ryan, lo aja yang salah paham. Udah ya Jil, gue lagi males ribut. Gue benci banget liat pasangan ribut, apalagi sekarang malah gue yang ribut" ujar Lara. Ia menaruh selembar uang berwarna merah untuk membayar minumannya, lalu pergi menghampiri Bara yang telah keluar dari tempat lesnya.
·········
"Kamu tadi abis ketemu sama Ajil?" Tanya Ryan yang kini sedang bersama Lara di sebuah kedai nasi goreng pinggir jalan favorit Lara.
Lara hanya menanggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Ryan.
"Kapan Ra kamu mau putusin dia buat aku?" Tanya Ryan.
Lara meletakkan garpu dan sendoknya, ia juga menghela nafasnya.
"Nggak tau kenapa, aku belum mau aja mutusin dia kak" ucap Lara tanpa melihat kearah Ryan.
"Kenapa? Kamu sayang sama dia?"
Lara menggeleng, "nggak. Aku cuma kasian" ucap Lara, ia tidak berbohong. Rasa sayang Lara untuk Ryan jauh lebih besar dibanding rasa sayang untuk Ajil saat ini.
"Aku bakal tunggu sampai rasa kasian kamu untuk Ajil selesai, abis itu kamu putusin dia ya? Terus jadi satu - satunya pacar aku" tutur Ryan membuat Lara tersenyum lembut kearahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AJILARA (SELESAI)
Teen Fiction"Lo ngapain nembak gue?!" "Gak tau" "DASAR ORANG GILA!!" Pernah gak sih ngerasain rasa suka sama seseorang tapi kata hati lo lebih ngedorong lo buat nembak orang yang sama sekali gak pernah lo pikirin buat jadiin dia pacar? Itulah yang dirasakan Aji...
