"Re, ponsel lo bunyi terus tuh dari tadi. Pusing nih gue," ucap Mika yang sedang duduk di meja belajar. Ia terganggu mendengar nada panggilan dari ponsel Rea, padahal sedang mengerjakan tugas.
"Males," ucap Rea pelan.
"Jawab sih, Re, teleponnya. Itu siapa? Bang Elang? Sini, biar gue yang ngomong."
"Jangan, Mik... Nggak usah." Rea menyembunyikan ponselnya ke dalam selimut.
"Ya udah. Makanya angkat dong teleponnya, Re. Dia nelpon bertubi-tubi tanpa jeda gitu. Udah dari tadi, kan?"
"Udah... Udah nggak nelpon lagi. Udah ah, lanjutin tuh tugas lo."
Rea kemudian berbaring, memiringkan tubuhnya dan menekuk kaki, menenggelamkan tubuh hingga leher ke dalam selimut. Tatapannya kosong ke depan.
"Lagian lo aneh. Masa tiba-tiba pengen nginap di rumah gue? Padahal kan rencananya malam ini gue nginap di tempat lo."
Mika menatap Rea curiga.
"Atau jangan-jangan lo lagi marahan sama Bang Elang? Teleponnya juga nggak lo jawab-jawab. Biasanya kan mata lo ada bintang-bintangnya kalau udah ngomongin Bang Elang. Ini sekarang muka lo kelihatan bete."
"Kepo. Gue males bahas dia, Mik."
Rea memilih menutup mata, pura-pura tidur untuk menghindari pembicaraan tentang Elang.
"Gue nggak bakal biarin lo lepas malam ini, Re. Lo harus cerita ke gue."
Nada Mika terdengar mengancam.
Nada panggilan dari ponsel Rea kembali terdengar. Mika memicingkan mata.
"Angkat, Rea! Lo kenapa sih? Kasihan tau Bang Elang. Kayak panik gitu nelponin lo non-stop."
Rea menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Ia menggeser ikon jawab.
"Ha-halo, Bang?" cicitnya. Pipi Rea memerah tanpa sebab.
"KAMU DI MANA?! Kenapa dari tadi teleponnya nggak dijawab?!"
Suara keras Elang terdengar dari seberang.
"Aku di rumah Mika, Bang. Tidur di sini malam ini. Temanku. Aku udah pernah cerita, kan, tentang Mika ke abang? Itu loh, Bang, yang..."
Ucapan Rea terpotong.
"Aku nggak peduli, Re, tentang teman kamu itu! Sekarang kirim alamatnya, biar abang jemput."
Perintah Elang terdengar keras.
"Ta-tapi malam ini aku mau tidur di sini, Bang. Boleh ya, Bang?"
Terdengar helaan napas kasar dari seberang.
"Aku udah panik banget tadi, Re. Kamu tahu?"
Elang menjeda sejenak. Napasnya terdengar putus-putus seperti habis berlari.
"Gak tahu lagi harus ngomong apa, Rea. Abang pulang kerja, rumah gelap. Ditelepon nggak diangkat. Coba kamu lihat, sudah berapa panggilan tak terjawab dari abang."
"Maaf, Bang."
Rea memilin selimut yang menutupi dadanya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu jijik sama abang?"
Suara Elang terdengar nelangsa.
"NGGAK, BANG!"
Rea langsung bangun dari posisi berbaringnya.
"Terus kenapa kamu menghindar? Kalau memang kamu bilang lagi nggak pengin lihat muka abang, nggak apa-apa. Abang maklum. Tapi harusnya kamu ngasih kabar. Kamu di mana, sama siapa. Bukan kayak gini. Abang panik. Tadi bahkan udah mau lapor polisi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Faded (END/REVISI)
RomanceCerita Dewasa. 18+ Rea dan Elang tumbuh sebagai anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua yang seharusnya melindungi mereka. Sejak kecil, keduanya hidup di panti asuhan, saling mengisi kekosongan yang tidak pernah mampu diberikan oleh keluarga. Bag...
