23. Bonus Chapter

553 73 123
                                        

Happy reading!

--JEKA--

"Dah rapi kali, dari tadi nggak selesai-selesai. Najis!"

Juna menoleh. Ia mendengus melihat Jeka yang sedang menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya sembari mengunyah permen karet.

"Bacot sekali anda."

"Alah, entar juga berantakan lagi." Cibir Jeka, pemuda itu menghampiri abangnya yang sedang berada di depan kaca full body. Jeka menyugar rambutnya. "Gantengan juga gue."

Juna mendesis sinis. "Tumbenan si lo ke kamar gue pagi-pagi gini?"

"Gue sebagai adek yang baik berniat menjemput abang laknat gue yang dari tadi dandan nggak selesai-selesai. Ditungguin Papa asal lo tau!"

"Cih! Adek yang baik darimananya?! Elo mah adek nggak ada akhlak!" Juna meraih ransel hitamnya yang berada di samping meja belajar, lalu berjalan keluar kamar diikuti Jeka.

Jeka tertawa pelan. "Gini-gini juga lo sayang sama gue. Yakan?"

"Terpaksa!"

Jeka melotot kecil, sedikit kaget dengan jawaban cepat dan ketus dari Juna. "Wah, serius lo?!"

"Iyalah, siapa juga yang mau punya adek modelan elo gini? Baik kalo ada maunya doang, gue si ogah!"

Jeka menyentuh dadanya dramatis. "Abang.. betapa tegahnya dirimu atas diriku..."

Juna meliriknya judes. "Mana alay lagi. Najis!"

"Wah, parah lo, Bang! Tidak berperikeadekan!"

"Bodo amat!"

"Nangis nih gue."

"Serah!"

Mata Jeka memicing sembari tersenyum mengerikan. "Oh gitu."

Juna meliriknya bingung sekaligus was-was, perasaannya mendadak tidak enak. "Kenapa?"

Tanpa aba-aba Jeka lari menghampiri Papanya dan berteriak. "PAPA, BANG JUNA ABIS NONTON BOKEP LAGI!"

Sontak Juna melotot panik. "Setan! Dia tau darimana?! Mampus deh gue!"

--JEKA--

Setelah mendapat jitakan maut berkali-kali dari Juna. Sekarang Jeka dan Juna berjalan menuju kantin. Kedua cowok itu berangkat bersama Papa menggunakan mobil. Papa memisahkan diri untuk mengambil raport anak-anak bandelnya.

"Eh, bang, lo kagak bantuin anggota lo nyiapin buat rapat wali murid?" Tanya Jeka.

"Nggak males. Entaran aja." Cuek Juna.

Jeka berdecak. "Ketua osis macam apa ini? Bisa-bisanya lari dari tanggung jawab."

Juna menoyor kepala Jeka kesal. "Tuh mulut lancar bener kalo julid."

"Eh, jangan ditoyor ngapa? Aset berharga ini!" Jeka mengelus kepalanya.

"Alah, makanya kalo nggak tau jangan asal ngomong lo! Gue udah bantuin ya, alasan kenapa kemaren gue pulang malem ya karena abis nyiapin semuanya. Dan sekarang gue tinggal ngehandle doang. Lagian, buat apa punya banyak anggota kalo nggak berguna?"

JEKA✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang