Tangan mungil Baekhyun yang lembut yang berada di area selangkangan celana pendek Kai seharusnya tidak terlalu mengganggunya, tapi memang begitu kenyataannya. Chanyeol menyadari bahwa dia memikirkan Baekhyun lebih dari yang seharusnya dan dia tidak mengerti mengapa. Memutuskan untuk benar-benar mengeluarkan Baekhyun dari pikirannya adalah satu-satunya cara agar Chanyeol bisa sedikit berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Baekhyun tidak suka diabaikan. Dia pikir dia tidak terbiasa karena Chanyeol selalu ikut campur dalam urusannya. Kurangnya perhatian yang dia dapat dari Chanyeol sedikit membuatnya sedih, karena jumlah perhatiannya yang diberikan kepada Yang Mulia Kris yang sangat berlebihan — bahkan yang lebih menjengkelkan adalah Kris tidak memiliki batasan apapun yang berhubungan dengan Chanyeol.
Seringkali, Baekhyun mencoba untuk mendapatkan perhatian dari Chanyeol karena dia harus mengakui bahwa dia merindukan argumennya dan saling menghina dengan si raksasa. Tapi karena Chanyeol menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang kerja kecilnya, satu-satunya saat Baekhyun melihatnya adalah saat Chanyeol meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamar mandi.
Menggunakan Nugget sebagai alasan, Baekhyun masuk ke kamar mandi aula utama — kebetulan kamar mandi yang sama yang akan digunakan Chanyeol — dan mendorong Chanyeol menjauh dari toilet.
“Apa yang kau lakukan!?” Chanyeol berteriak saat dia didorong ke dinding.
“Nugget perlu buang air kecil,” gumam Baekhyun sambil meletakkan kaki belakang Nugget di tepi dudukan toilet sambil memegangi sebagian besar tubuhnya.
Chanyeol mengerutkan kening pada alasan bodoh Baekhyun. “Satu, anjing bisa buang air kecil di luar. Dua, dia tidak akan kencing di toilet sialan itu. Penisnya akan menembakkan kencing di dinding. Sekarang keluarlah.”
“Tapi aku mencoba mengajari Nugget cara—“
Chanyeol melambaikan tangannya dan mendorongnya ke samping pintu. “Aku tidak punya waktu untukmu sekarang, Baekhyun. Pergilah,” kata Chanyeol dengan nada keras.
“Tapi-“
“Pergilah.”
Baekhyun mengerucutkan bibirnya dan keluar dengan mengangkat bahu. “Baiklah,” gumamnya, membawa Nugget di bawah lengannya. “Ayo kita keluar baby. Chanyeol sepertinya sedang kesal...” kata Baekhyun sambil menggumamkan kata-kata itu pada Nugget.
Chanyeol memperhatikan saat Baekhyun menyeret kakinya keluar dari kamar mandi. Kemudian dia membanting kedua telapak tangannya ke meja wastafel, menundukkan kepalanya saat dia mengerang frustasi karena fakta bahwa jika Baekhyun mendadak masuk lebih lambat setelah dia masuk kedalamnya, dia mungkin akan melihat Chanyeol sedang menyentuh dirinya sendiri. .
-
-
Di ruang loundry, Baekhyun memasukkan semua pakaian Chanyeol ke dalam mesin cuci, tapi ketika Nugget terus menggonggong, Baekhyun harus berbalik dan melihat apa yang mengganggu anjing itu. Saat dia menoleh, dia melihat Nugget seperti dalam keadaan terancam, menggonggong pada salah satu kaus kaki Chanyeol.
Baekhyun tertawa dan meringkuk. Dia mengambil ujung kaus kaki itu dan menyodorkannya ke wajah Nugget, yang yang membuat Nugget mundur karena tidak menyukainya. “Ada apa, baby? Kau tidak menyukainya?”
Sekali lagi, Baekhyun mengayunkan kaus kaki di depan Nugget dan Nugget mundur sambil menggeram. Meski menggeram, Baekhyun tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat melihat kemarahan anak anjing yang tiba-tiba karena kaus kaki itu. Sekali lagi, Baekhyun meletakkan kaus kaki itu tepat di depan hidung Nugget, tapi kali ini, Nugget sudah muak dan melawan, menggigit kaus kaki itu dan merebutnya dari tangan Baekhyun.
Khawatir dengan sifat agresif nugget, Baekhyun mengerutkan kening dan mencoba mengambil kaus kaki itu kembali. “Nugget, kembalikan kaus kaki jelek itu pada Daddy!” perintahnya, tapi Nugget tidak mau mendengarkan. Setelah mereka berdua mendengar suara robekan kecil, Nugget melepaskannya dan Baekhyun memenangkan lomba tarik menarik itu.
Baekhyun berdiri untuk memeriksa kaus kaki itu. Dia melihat di mana sobekan itu berada, tetapi dia juga melihat lubang tempat gigi Nugget tenggelam dan tercipta. Baekhyun mengerutkan kening untuk beberapa waktu saat dia memikirkan kemungkinan reaksi Chanyeol, tapi kemudian dia memutuskan untuk tidak peduli dan melemparkan kaus kaki itu ke dalam mesin cuci bersama dengan yang lainnya.
-
-
Saat malam tiba, Kyungsoo sedang memasak bersama Kai yang mencoba mengikuti perintah Kyungsoo. Ketika Baekhyun keluar dari aula dengan ransel Kai di pundaknya. Kyungsoo berhenti meminta Kai untuk mendapatkan ini dan itu dan Kai berhenti bekerja saat mereka berdua memperhatikan Baekhyun.
“Mau kemana?” Kyungsoo bertanya saat matanya beralih ke tangan Baekhyun di mana dia memegang tali merah di leher Nugget.
“Ke suatu tempat,” jawab Baekhyun kembali. Dia melingkarkan ujung tali Nugget ke kursi dan bergegas ke pintu depan untuk mengambil sepatunya. Ketika dia kembali, dia dengan cepat memakainya sebelum mengambil tali kembali ke tangannya.
“Baekhyun, suatu tempat’ bukanlah jawaban,” bantah Kyungsoo. Ketika Baekhyun tidak menjelaskan lebih jauh, Kyungsoo menyerahkan pisau kepada Kai dan segera mengikuti Baekhyun keluar ke pintu belakang.
“Tunggu!” Kai memanggil dari belakang. “Bagaimana tentang-“
“Teruslah mengaduk!” Kyungsoo menjawab dengan tajam.
Kai menangkap nada tajam Kyungsoo dan melirik ke arahnya. “Oke, astaga...” gumamnya sebelum mengalihkan perhatiannya dari apa yang terjadi di luar.
Setelah Kyungsoo meninggalkan tugas dapur di tangan Kai, asistennya, dia menyusul Baekhyun tepat saat Baekhyun sedang menuruni tangga menuju jalan setapak menuju laut.
“Baekhyun! Aku bertanya lagi padamu! Kau mau kemana !?” Kyungsoo berteriak sebelum dia mengulurkan tangan dan menarik Baekhyun untuk berhenti. “Matahari hampir terbenam dan kau tahu bagaimana jika Chanyeol tahu kau pergi ke laut saat senja!”
Baekhyun berkedip. Dengan tangannya yang bebas, dia meraih ke samping ransel Kai dan mengeluarkan senter. Kemudian dia menyalakannya dan mengarahkannya ke wajah Kyungsoo, membuat Kyungsoo melepaskannya.
“Aku tidak pergi ke laut,” kata Baekhyun. “Aku akan mengajak Nugget piknik.”
Kyungsoo memberinya tatapan tak percaya. “Piknik !? Ini sudah hampir gelap!”
“Tapi aku bisa melihat bintang lebih baik di kegelapan yang terbuka,” gumam Baekhyun saat dia melihat ke atas dan mengarahkan senternya ke bawah.
“Itu gila, Baekhyun!” Kyungsoo berkata dengan putus asa. “Kau tidak bisa berpiknik dalam kegelapan dengan seekor anjing! Masuklah kembali. Aku hampir selesai ...”
“Tidak apa-apa, Kyung,” ucap Baekhyun. “Kami hanya akan pergi kesana untuk beberapa saat,” dia beralasan, mengarahkan senter ke jalan setapak.
“Baekhyun,” kata Kyungsoo dengan nada memarahi. “Chanyeol tidak akan menyukai ini. Kau tahu itu. Kenapa kau melakukan ini ketika kau tahu dia hanya akan marah padamu!?”
“Dia tidak akan marah padaku,” desah Baekhyun. “Seperti yang aku katakan, aku hanya pergi sebentar ke sana.”
“Bagaimana dengan makan malam?”
“Aku membuat sandwich sendiri beberapa waktu lalu dan aku mengemas makanan Nugget di salah satu wadah kecilmu.”
Kyungsoo menutup bibirnya. Dia tidak akan membahas fakta bahwa Baekhyun menggunakan salah satu wadah makanannya untuk menyimpan makanan anjing di dalamnya.
“Baik, tapi serius, Baek! Chanyeol—“
“Dia tidak akan peduli.”
“Sejak kapan dia tidak pernah peduli tentang apa pun yang kau lakukan?”
Baekhyun menghela nafas. “Dia tidak akan peduli karena aku hanya pergi sebentar ke sana. Bukannya aku melarikan diri. Aku hanya akan duduk dan makan sandwich dengan Nugget.”
Kyungsoo tahu dia tidak akan memenangkan perdebatan ini karena ia tahu betapa keras kepalanya Baekhyun. Sambil menyilangkan tangannya, Kyungsoo menyerah. “Baiklah—Tapi ketika Chanyeol datang dan menanyakan keberadaanmu, aku tidak akan melindungimu. Jika kau dimarahi, aku tidak akan peduli.” Dia mendengus dan memindahkan poninya ke samping. “Sekarang, jika Kau pergi, temanmu mungkin akan membakar dapurku karena dia berbohong tentang tahu cara memasak.”
Baekhyun tidak bisa menahan tawa atas kritik Kyungsoo pada Kai. Mungkin dia tidak sepenuhnya mengerti bagaimana pekerjaan Kai terutama untuk menyajikan makanan, bukan memasaknya. Bagaimanapun, itu tidak masalah. Baekhyun memenangkan perdebatannya dan mulai memimpin Nugget menuju ke garis pantai.
Ketika mereka sampai di tempat yang Baekhyun katakan pada Kyungsoo, dia menyadari bahwa cahaya dari rumah itu mengganggu langit malam. Dia melihat sekeliling dan terlihat cahaya matahari yang memudar, dia melihat sebuah bukit tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan perkiraan, hanya perlu berjalan lima sampai sepuluh menit.
Berjalan dengan Nugget di sisinya, Baekhyun membawa mereka berdua semakin jauh dari rumah.
-
-
Di meja makan, Chanyeol langsung memperhatikan kursi kosong yang seharusnya ditempati Baekhyun. Bahkan sebelum dia membuka mulutnya, Kyungsoo mendahuluinya.
“Dia di luar bersama Nugget.” Ketika Kyungsoo melihat raut wajah Chanyeol, dia menjelaskan dengan tenang. “Dia duduk di pantai, makan sandwich dan memberi makan anjingnya. Dia bilang itu seperti piknik malam.”
“Dia ada di pantai?”
“Di luar,” Kyungsoo mengangguk. “Dia tidak berenang. Dia hanya duduk.”
“Apakah Kau melihatnya langsung?” Chanyeol bertanya.
Kyungsoo berhenti dan semua mata di meja tertuju padanya. “Tidak ... tapi aku mempercayainya.”
Chanyeol tidak menyukai jawabannya dan memiliki firasat di dalam dirinya yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dia berdiri dari tempat duduknya. “Kyungsoo, kau tidak melihatnya. Dia mungkin—“
“Chanyeol, biarkan dia bernafas,” potong Sehun, menarik perhatian semua orang. “Bukankah dia berumur dua puluh dua tahun? Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Kita semua tahu dia aneh, tapi dia tidak pernah melakukan sesuatu yang membahayakan anjingnya. Biarkan dia sendiri sekali saja. Kau membuat dirimu gila sendiri karenanya.”
Setelah ucapan terakhir Sehun, Chanyeol kembali duduk, karena kenyataannya, Sehun benar. Dia membuat dirinya menjadi gila karena Baekhyun. Mengabaikannya dan tidak peduli mungkin adalah jalan yang terbaik bagi mereka berdua.
-
-
Tangan Baekhyun dengan lembut membelai Nugget yang sedang berbaring di dadanya. Merasa nyaman dalam selimut di bawahnya, Baekhyun berjuang untuk menjaga matanya tetap terjaga, jadi dia berkata pada dirinya sendiri bahwa dia hanya akan memejamkan matanya saja.
Meskipun dia tidak bisa melihat bintang-bintang lagi, Baekhyun terus membelai dan berbisik tentang bintang-bintang kepada Nugget.
“Nugs, jika kita adalah rasi bintang, kau akan menjadi Little Dipper dan aku akan menjadi Big Dipper ... Kita akan menjadi pasangan konstelasi yang lucu, bukan?” Baekhyun tertawa kecil sebelum menguap. “itu pasangan yang bagus—big and little... kupikir kita akan menjadi pasangan rasi bintang yang lucu...”
Menguap untuk terakhir kalinya sebelum diseret tidur, Baekhyun mendesah puas.
“Dan bagian terbaiknya adalah, kedua dippers itu tidak pernah terpisah jauh satu sama lain ...”
-
-
Sekitar tengah malam ketika Kris akhirnya memutuskan untuk bangun dari tempat tidur karena perasaan yang dia miliki sejak makan malam. Mengenakan mantel hitamnya, Kris berjalan dengan susah payah keluar dari rumah melalui pintu belakang dan mulai mencari Baekhyun yang dia tahu belum kembali.
Ketika Baekhyun tidak berada di dekat rumah, Kris mengeluarkan beberapa kutukan karena mengantuk sebelum melihat sekelilingnya. Dia bisa pergi ke kiri atau ke kanan, tetapi dia memutuskan untuk pergi ke arah sebuah bukit kecil.
Kris setengah terjaga, seakan hanya kerangkanya saja yang berjalan. Setelah berjalan selama beberapa menit, dia hampir tidak bereaksi ketika dia menemukan tubuh Baekhyun dan Nugget yang sedang tidur. Nugget telah meluncur dari tubuh Baekhyun dan tertidur sedikit ke samping.
“Oh, ini dia, sweet ass...” Kris menguap. Dia menjilat bibirnya yang kering untuk sesaat sebelum berlutut di atas selimut Baekhyun. “Aku hanya akan ... bergabung denganmu, cantik ...”
Mendorong Baekhyun untuk beringsut, Kris membaringkan dirinya dan segera menutup matanya. Dalam tidurnya, Baekhyun berguling, menghadap Kris, lalu dia mengayunkan tangan dan kakinya ke tubuh Kris. Kris sebagai balasannya menggerutu dan memeluk Baekhyun, meraih dan menyentuh pantatnya.
“Fuck, this is nice ...” gumam Kris sebelum tertidur.
“Diam, Chanyeol ...” jawab Baekhyun dengan lembut sebelum mulai tidur lagi.
-
-
Jam demi jam berlalu dan malam semakin dingin. Satu hembusan udara dingin menerpa tubuh sensitif Baekhyun dan membangunkannya. Awalnya dia hanya bergerak, tapi kemudian dia mengusap matanya dan mulai menarik diri dari tubuh besar di sebelahnya.
“Yah...Chanyeol, turun dari tempat tidurku...Tutup jendela...” gerutu Baekhyun. Saat tubuhnya tidak bergerak dan udara terus menerpanya, Baekhyun duduk. “Chany—“
Baekhyun berhenti ketika pikirannya dengan cepat menyadari di mana dia berada: di luar. Dia bergegas untuk menemukan senternya dan ketika dia menemukannya, dia segera mengarahkannya ke tubuh di sebelahnya. Yang mengejutkannya, dia menemukan Kris, bukan apa yang dia pikir adalah Chanyeol.
Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa dia baru saja tidur dengan Kris. Seharusnya tidak lucu, tapi Baekhyun tetap tersenyum lelah.
Membangunkan Kris, Baekhyun menggosok matanya. “Yah... Manusia pohon, bangun...” Kris tidak mau bangun jadi Baekhyun menampar wajahnya. “Ayolah...”
Kris mengerang kesakitan, tapi tetap terbangun. Meskipun Kris tidur nyenyak, dia merasa lebih tersadar dari pada Baekhyun saat itu. Baekhyun mengambil waktu untuk mengenakan ranselnya dan meraih selimut dengan lengannya. Kris memilih untuk membawa Nugget.
Saat mereka berjalan kembali, Baekhyun sering tersandung, jadi Kris memegang tangannya dan membiarkan Baekhyun bersandar padanya.
“Tanganmu ...” gumam Baekhyun. “Besar seperti milik Chanyeol...”
“Tanganku lebih baik dari Chanyeol...”
Baekhyun bersenandung. “Tidak juga. Tangannya lebih lembut. Kau perlu melembabkan tanganmu, Kris ...”
-
-
Chanyeol duduk di salah satu kursi dapur, terus menerus melihat waktu. Saat itu jam tiga pagi dan Baekhyun masih belum ada di kamarnya. Keparat itu tidak ada di luar, juga tidak di area tempat tidur gantung. Chanyeol bahkan memeriksa beberapa kamar kosong dan Baekhyun tidak ada di salah satu kamar itu.
Selama beberapa jam terakhir, yang didengar Chanyeol hanyalah keheningan. Ketika dia mendengar pintu belakang terbuka, dia segera mengangkat kepalanya.
Pada awalnya, kelegaan membanjiri dirinya, tetapi kenyataan bahwa dia melihat Kris menghancurkan kelegaan itu. Kenapa Kris bersamanya? Bahkan kapan Kris meninggalkan rumah? Apa yang Baekhyun lakukan dengannya, Park Chanyeol, benar-benar muak memikirkan semua itu.
Kris melihat ekspresi wajah Chanyeol berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya dan dengan cepat menjatuhkan tangan Baekhyun. Dia dengan lembut mengembalikan Nugget kepada Baekhyun, yang masih terlihat sangat mengantuk, dan kemudian mengusap wajahnya sekali.
“Aku akan kembali ke kamarku,” katanya pada Baekhyun, sambil tersenyum. “Sampai jumpa beberapa jam lagi. Ngomong-ngomong, aku suka suaramu. Bagus.” Kris menyeringai dan pergi dengan seringai itu saat dia berjalan kembali ke kamarnya.
Saat dia pergi, Chanyeol tidak mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun dan mereka berdua saling memandang untuk waktu yang lama sebelum Chanyeol berdiri dan mulai berjalan menyusuri lorong.
Baekhyun mengikuti karena kamar mereka berseberangan. Jalannya hening dengan suasana mencekam di sekitar mereka berdua. Mengetahui bahwa Chanyeol sedang marah, Baekhyun mencoba meredakan situasinya melalui penjelasan.
“Aku sedang menunjukkan Nugget bintang-bintang... Kurasa kami tertidur,” kata Baekhyun sambil tertawa kecil. “Dan kupikir Kris adalah kau karena kalian berdua terlihat sama... Di luar sangat gelap jadi aku tidak bisa melihat.”
Dia berhenti sejenak, menunggu Chanyeol mengatakan sesuatu, tapi dia tidak membalasnya. “Kau tahu, jika kau marah, sebaiknya kau mengatakan sesuatu...” gerutunya saat mereka sampai di kamar mereka.
Akhirnya, Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. Baekhyun berharap Chanyeol akan berteriak atau memarahinya, tapi Chanyeol menyampaikan kalimat yang jelas dan singkat:
“Aku tidak punya apapun untuk kukatakan kepadamu ... kembalilah ke kamarmu.”
Maaafff udah ga lama up :(
Jangan lupa vote dan komen ya, terimakasi dear🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Not Intended (Indonesia)
FantasiaDalam upaya untuk menyelesaikan perseteruan keluarga tiga generasi, Baekhyun harus menikah dengan seseorang dari keluarga lain. Menjadi anak pemberontak yang diam-diam, dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dua hari sebelum pertemuan keluarga yan...
