Rasa sakit ini sudah tidak bisa terhitung. Namun saat melihatmu, rasa ini sedikit demi sedikit berkurang. Hanya hilang sedikit, tidak bisa hilang sepenuhnya.
🥀🥀
______
"Anastasya Faradita?"
Tasya menghentikan langkahnya saat namanya disebut. Tasya menoleh, mencari sumber suara itu. Ternyata tepat dibelakangnya, seorang lelaki tersenyum kearahnya dan mendekat.
"Lo anak baru yang dibilang sama Dimas, ya?" tanyanya.
Tasya mengangguk dan memasang senyum ramah. "Iya, gue anak baru itu. Lo--"
Lelaki itu mengulurkan tangannya. "Gue Ben, ketua kelas yang bakalan lo tempatin selama sekolah disini. Kayaknya, kepala sekolah juga udah bilang sama lo 'kan kalo gue bakalan dateng?"
Tasya mengangguk. "Iya, sorry gue ngerepotin."
Ben terkekeh. "Santai aja, ini udah jadi salah satu tugas gue. Yuk ke kelas. Tas lo masih didalem? Mau gue yang ambil atau-"
"Gue aja. Sebentar. Lo tunggu sini aja."
Tasya berlari kearah ruang kepala sekolah. Meninggalkan Ben disana bersama lelaki yang berada diruang seni.
Sementara Ben, ia melirik kearah ruang seni. Ia bisa melihat jelas lelaki yang tengah melukis itu. Senyum Ben mengembang, tatapannya sangat tulus dan menggambarkan kebanggaan. Ben menggeleng dan terkekeh pelan.
"Ternyata niatnya ke seni masih kuat juga," gumam Ben pelan.
Ben tersadarkan saat Tasya mendekat kearahnya. Ben mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang agar teman barunya ini tidak merasa canggung dengannya. Ben harus bisa sedikit mencairkan suasana, karena bagaimanapun, Tasya adalah murid baru yang belum beradaptasi.
"Yuk, kita ke kelas."
🥀🥀
Jam istirahat. Sudah 10 menit Felix duduk di ujung perpustakaan dengan beberapa buku yang ada didepannya. Sesekali, Felix menguap karena reaksi tubuhnya yang kekurangan oksigen. Itu istilah biologinya. Namun, intinya ia mengantuk.
Kala namanya, teman sekelas Felix yang sedari tadi duduk disampingnya. Kala menoleh kearah Felix yang sedari tadi menguap tanpa henti.
"Lo ngantuk, Fel?" tanya Kala.
Felix menoleh dan menggeleng. "Kurang oksigen aja," jawab Felix enteng.
"Lo yakin? Mata lo merah. Bergadang lo semalem?"
Bohong jika Felix berkata tidak. Jujur saja, semalam ia harus mengulas materi yang ia dapatkan saat les tadi. Karena dibantu Ben, ia lolos dan materinya berlanjut. Padahal, ia belum terlalu paham. Hal itu mengharuskan ia kembali membuka dan mempelajari hal itu sendirian. Awalnya, Felix hanya akan belajar sampai jam 12. Namun nyatanya, ia selesai di jam 3 pagi. Itu sebabnya sekarang ia sangat mengantuk.
"Gue nggak bergadang. Lanjut aja bacanya, takut ada pertanyaan nanti dikelas, kalo gue nggak bisa jawab, lo yang jawab," ujar Felix mengingatkan.
Kala mengangguk dan kembali membaca bukunya. Kebetulan, mereka akan melakukan prrsentasi setelah jam istirahat ini selesai. Sebenarnya, Kala tak begitu dekat dengan Felix walaupun ia selalu satu kelas dengannya. Felix memang ceria, namun entah mengapa, Kala merasa seperti ada jarak diantara keduanya. Kala menghela napas dan menutup bukunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PATH OF DESTINY
Teen Fiction[Spin Off My Future Story] 🥀🥀 "Kenapa harus aku orangnya?" "Karena itu kamu, Felix." "Apa nggak ada pilihan?" "Ada, ikuti takdir atau menyerah." Felix Hardhan Angkasa namanya, seorang putra sulung dari keluarga ternama. Laki-laki yang memiliki seg...
