9 | Kasih sayang🥀

930 88 10
                                        

Jangan pernah meragukan kasih sayang seorang Ibu. Karena jika bisa, Ibu akan mempertaruhkan apapun, bahkan nyawa sekalipun. Asal anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja.  -Sella Amalia

🥀🥀
______

Cia keluar dari rumahnya setelah mendengar deruman mobil masuk ke dalam perkarangan rumah. Sudah hampir seminggu ia hanya memiliki waktu sebentar dengan kedua orang tuanya dan juga Abangnya. Terutama Ben, ia rindu dengan Abang keduanya karena sudah seminggu ini ia tak bisa menemui Ben. Ayah dan Bundanya sangat melarangnya untuk datang ke rumah sakit. Cia sudah menangis, meraung, mengamuk sekalipun, Elang tetap melarang Cia bagaimanapun caranya.

Cia melihat Felix yang keluar dari mobil. Dengan langkah besar, Cia menuruni anak tangga dan memeluk kaki jenjang Felix sembari menangis.

Felix terkejut melihat adik kecilnya menangis sesenggukan sembari memeluknya. Felix menghela napas. Setelah seharian belajar dan disambung dengan tambahan belajar di tempat lesnya, ia dengan hangat memberikan senyum dan kenyamanan untuk adiknya.

"Kenapa sayang? Hey, Cia belum boleh peluk Abang. Abang abis dari luar, Abang masih kotor, belum bersih-bersih." Felix berusaha melepaskan pelukan Cia. Nihil, gadis kecil itu justru berteriak semakin kencang saat Felix hendak melepaskan pelukannya.

Felix tetap melepaskan pelukan gadis itu perlahan. Ia berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan Cia. Ia mengambil handsanitizer dan mengusap tangannya dengan cepat. Setelah memastikan tangannya kering, ia beralih menangkup kedua pipi adik kecilnya.

"Cia ngapain keluar sendiri? Suster Kiki kemana?" tanya Felix. Suster Kiki adalah pengasuh Cia yang baru dan ia baru bekerja seminggu ini. Karena Cia sering ditinggal sendiri, Elang memilih Kiki sebagai suster terbaik di tempat LSM. Mempunyai sertifikat sebagai baby sister, dan juga pengalamannya sudah banyak. Dan itu baik untuk pertumbuhan Cia menurut Elang. Sementara pengasuh Cia sebelumnya, ia tempatkan di tempat lain dan Elang memastikan pengasuh sebelum Cia sebelumnya ditempatkan di tempat yang sangat layak.

"Cia suruh Sus Kiki pulang. Cia nggak mau tidur sama Sus Kiki lagi," ujar Cia lesu.

"Cia udah makan?" Felix mengganti topik pembicaraan, Felix sadar akan sesuatu. Tubuh Cia sangat dingin. Ia ingin sekali merengkuh tubuh mungilnya, tapi ia baru pulang dan belum membersihkan tubuhnya.

Cia menggeleng, ia memang belum makan. ARTnya memang sudah memasak, namun Cia menolak karena ia tak ingin makan sendirian.

Felix menghela napas, ia mengajak Cia masuk karena diluar semakin dingin. Ia juga mengajak Cia untuk masuk ke dalam kamarnya.

"Cia duduk di ranjang dulu bisa? Abang mandi dulu ya?"

Cia mengangguk mendengar perkataan Felix. Ia naik ke ranjang dan melihat Felix dengan seksama. Felix tersenyum dan meletakkan tasnya. Tanpa berlama-lama, Felix masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya agar kuman yang menempel di tubuhnya hilang.

Awalnya Felix hendak berendam. Kepalanya terasa sangat berat, namun melihat keadaan adiknya, ia memilih berendam lain kali. Karena butuh waktu lama untuk ia berendam, apalagi saat kepalanya terasa berat seperti sekarang.

Felix menghabiskan waktu lima belas menit dikamar mandi. Felix keluar setelah menggunakan kaos putih dan celana pendek. Ia terdiam saat melihat Cia yang sudah menutup matanya rapat dan meringkuk.

PATH OF DESTINYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang