7 | Pertengkaran🥀

1K 111 12
                                        

Jika dihadapi dengan kepala dingin, semua masalah akan berakhir sesuai dengan apa yang kita inginkan.

🥀🥀
______

Sella keluar dari lift dengan langkah lebar. Baru saja Felix menghubunginya dan mengatakan bahwa Ben masuk rumah sakit. Sella yang tengah berada di butik segera pergi kerumah sakit, tentunya ia sudah izin dengan suaminya karena takut jika Elang menanyakan keberadaannya yang tak ada di butik di jam kerjanya.

Sella menemukan Felix didepan ruangan VVIP 5. Sella menghampiri putranya yang terlihat tengah kebingungan.

"Bang?" panggil Sella. Ia langsung memeluk Felix, berusaha menenangkan sang putra. Karena Sella tau, Felix sangat panik saat ini.

"Bukan aku yang buat Ben kayak gini, Bun," ucap Felix lirih.

Sella mengangguk dan mengusap punggung Felix dengan lembut. "Iya, Bunda tau."

Felix melepaskan pelukan sang Bunda. Ia menundukkan kepalanya karena takut, takut sang Bunda memarahinya atas keadaan Ben saat ini.

"Bunda tau Abang nggak salah. Nggak usah takut, ya? Gimana keadaan Ben? Kata Dokter Beni apa?" tanya Sella.

"Dokter Beni lagi bicara sama Ayah."

Sella mengerutkan keningnya. "Ayah? Ayah udah sampe sini?" tanya Sella bingung.

Felix mengangguk. "Sebelum aku nelpon Bunda, aku nelpon Ayah, Bun. Aku panik, aku--"

"Nggak apa-apa, Bang." Sella kembali memeluk Felix. Sella sudah tau jika Felix sangat takut, apalagi sudah ada Elang disini. Sella bisa mendengar dengan jelas debaran jantung sang putra yang begitu cepat dan kencang.

"Sekarang kita masuk, ya? Bunda yakin, Ben pasti baik-baik aja." Tangan Sella tak berhenti mengusap lengan Felix. Felix terlihat menggelengkan kepalanya pelan.

"Bunda ada yang masuk, Abang tunggu sini." Felix merasa sedikit tenang, degup jantungnya berangsur normal akibat sentuhan sang Bunda yang menenangkan.

Sella menatap Felix khawatir. "Ben masuk rumah sakit bukan salah Abang, ya? Abang nggak usah merasa bersalah. Bunda masuk ya kalo Abang masih panik. Kalo udah Abang masuk temenin Bunda, oke?" ucapan lembut Sella bagai sihir ditelinga Felix. Felix mengangguk dan tersenyum tipis.

Sella tersenyum, melihat senyum tipis Felix menandakan bahwa putranya itu jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Dengan langkah pasti, Sella masuk ke dalam ruangan untuk melihat dengan jelas kondisi Ben. Sementara Felix memilih duduk di sofa yang memang disediakan diluar.

Felix mengusap wajahnya kasar. Harusnya jika ia bisa menjaga Ben, Ben tidak akan masuk rumah sakit. Dengan riwayat kesehatan Ben, seharusnya Felix bisa lebih hati-hati dan mengingatkan Ben akan sesuatu hal yang boleh dan tidak boleh Ben lakukan.

"Felix."

Felix mendongak dan langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya refleks menengok kesamping kanan setelah tangan sang Ayah melayang pada pipi kanannya.

"Kamu janji sama Ayah untuk menjaga Ben? Kenapa Ben bisa kayak gini lagi, Felix." Elang kalut. Dadanya naik turun menandakan ia sangat marah. Felix hanya bisa memegangi pipinya sembari menunduk. Ia tak punya keberanian untuk melawan. Jangankan melawan, menjawab pertanyaan sang Ayah saja, rasanya Felix tak bisa.

"Jawab Ayah, Felix."

Felix masih terdiam. Felix memejamkan matanya dan merasakan kepalanya terasa berat. Ia takut, ia sangat takut.

"Felix Hardhan Angkasa!" teriak Elang.

Felix sempat tersentak dan mendongak. "Maaf, Yah," ujar Felix pada akhirnya. "Maaf Felix nggak bisa jaga Ben dengan baik. Maaf kalo--"

PATH OF DESTINYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang