Kita tidak bisa memilih untuk lahir dari keluarga mana dan juga siapa orang tua kita. Takdirlah yang menentukan. Tugas kita hanya bersyukur dan menjalani hari dengan tenang. Bahagia adalah kunci dari segalanya.
🥀🥀
_______
Elang membuka pintu rumahnya, membuka jas yang ia gunakan, dan mengendurkan dasi yang sedari tadi mencekik lehernya.
Ia membaringkan diri di sofa panjang, perjalanan dinasnya kali ini sungguh melelahkan. Ditambah, ia tak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya tiba-tiba seperti terkena sadap. Darimana Elang tau? Elang tau saat akan menghubungi Sella, ia melihat ada beberapa hal aneh pada ponsel pribadinya. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuang ponselnya dan pulang tanpa memberitahu Sella.
Kolega bisnisnya banyak, begitu juga musuhnya. Entahlah, sudah hampir beberapa minggu ini ia merasa ketenangannya sedikit terusik. Entah perasaannya saja atau bagaimana, Elang sedikit peka dengan apa yang terjadi belakangan ini.
"Ayah? Ayah udah pulang?"
Elang menoleh, ia melihat putri kecilnya yang masih memakai seragam. Sepertinya Cia baru saja pulang dan belum berganti pakaian. Elang memasang senyum dan membenarkan posisinya.
"Cia belum ganti baju? Baru pulang?"
Cia mengangguk. "Ayah baru pulang? Kok Cia nggak denger mobil Ayah?"
"Ayah pulang naik taxi tadi. Mobil Ayah ditinggal dikantor. Ayo ganti baju, Ayah juga mau mandi, ganti baju dan peluk Cia. Ayah kangen," ujar Elang.
Cia mengangguk setuju dan langsung menaiki anak tangga dengan cepat. Meninggalkan sang Ayah yang tengah menatapnya sembari tersenyum.
Kini Elang yang bangkit dari duduknya. Sedari tadi ia tak melihat Sella, dimana istrinya itu? Para ART dan pengasuh pun sepertinya tengah sibuk dibelakang. Karena jam segini, memang para ARTnya tengah memasak dan pengasuh Cia tengah membuat makanan khusus untuk putrinya itu.
Elang menaiki anak tangga dengan cepat, ia melihat kearah pintu kamar Ben. Setelah dari rumah sakit, Elang tak melihat keadaan putranya itu. Elang memilih membuka pintu kamar Ben dan melihat Ben yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya.
"How's going, boy?"
Ben sempat terkejut dan langsung menyimpan ponselnya. Elang tersenyum dan mendekat. Ben hendak menyalami namun Elang mengangkat tangannya.
"Ayah belum bersih-bersih. Ngga perlu salaman nggak apa-apa, kamu baru sehat."
Ben mengurungkan niatnya dan tersenyum pada sang Ayah.
"Ayah baru pulang? Bunda lagi jemput Abang, makanya pas Ayah masuk nggak ada Bunda," jelas Ben. Terlihat jelas dari raut sang Ayah jika ia tengah mencari sang Bunda. Tanpa pertanyaan, Ben langsung memberitahu saja.
"Ayah nggak kasih tau Bunda kalo Ayah pulang?" tanya Ben.
Elang mengangguk. "Ponsel Ayah rusak, jadi Ayah nggak bisa hubungin Bunda. Nanti kita bicara lagi, ya? Ayah bersih-bersih dulu."
Ben mengangguk mengiyakan, membiarkan Elang keluar dari kamarnya. Ben menghela napas, ia kembali memainakan ponselnya, kali ini, ia menghubungi sang Abang yang masih berada disekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
PATH OF DESTINY
Novela Juvenil[Spin Off My Future Story] 🥀🥀 "Kenapa harus aku orangnya?" "Karena itu kamu, Felix." "Apa nggak ada pilihan?" "Ada, ikuti takdir atau menyerah." Felix Hardhan Angkasa namanya, seorang putra sulung dari keluarga ternama. Laki-laki yang memiliki seg...
