Baru kemarin rasanya Jisoo memakan begitu banyak tawa sampai dia kenyang. Namun seperti biasa, Tuhan selalu tahu cara terbaik untuk peringatkan dia bahwa hidup tidak semudah itu. Dia dilahirkan untuk menjadi kuat, semua manusia punya kewajiban begitu, katakanlah kalian setuju.
Di atas meja masih ada dua gelas kopi yang entah kenapa dia seduh padahal dia hanya butuh satu.
Lupa, dia kesepian.
Jisoo cuma mengulas senyum ironis saja. Ya, dia sendiri, lagi. Setelah sekian lama beradaptasi dengan keberadaan Namjoon, dia harus memeluk dingin seorang diri lagi. Sebab, dia terlalu terbuai, dia lupa bahwa yang ada selama ini hanya dirinya sendiri. Barangkali kalian juga lupa, maka dari itu peluk diri sendiri karena sampai nanti pun yang kalian miliki hanya kesendirian.
"Melamun lagi, Soo-ya?"
Baiklah, Jisoo hanya membual. Dia tidak sedang berada dalam fase berduka atas kepergian Namjoon yang entah ke mana. Kalian tahu, dia hanya merasa kosong. Pelarian paling baik ya, menyalahkan orang. Dan kasihan Namjoon, dia hanya punya Namjoon untuk disalahkan.
Jisoo menenggak isi gelas pertama yang telah habis uapnya. Tidak juga sih, semua sudah dingin, telah sirna hangat embun yang singgah di sana lalu-lalu. Dia menengadah, memberi Namjoon gurat lelah. "Sulit sekali berdamai dengan rasa sepi, Joon."
Dua palung indah kepunyaan Namjoon tercetak maklum. Jujur saja, Namjoon ini satu-satunya manusia yang mengerti Jisoo—bahkan dia sendiri tidak mengerti dengan kemauan pribadi. Namjoon memaklumi ketidakpuasan Jisoo terhadap dirinya sendiri, terhadap apa-apa yang dia lakukan padahal hampir segala hal selalu Namjoon beri apresiasi asal dia yang kerjakan itu sendiri.
Sedikit bercerita, pernah dalam satu hari yang dingin, dia iseng saja mencoba membuat cokelat panas. Sungguh, ini sederhana, 'kan? Namun tidak begitu pada respons Namjoon yang tampak berlebihan. Norak. Kira-kira begini kata Namjoon pagi itu.
"Good job, Girl. Kau hebat sekali pagi-pagi buta begini sudah punya tenaga untuk membuat dua gelas besar cokelat panas."
Sembari menepuk kepalanya dengan bangga. Itu hanya secuil kejadian saja. Norak, tapi dia tidak bohong kalau apresiasi sekecil itu membuat dia bersemu.
Bahkan orang sebaik Namjoon masih kerap dia salahkan atas ketidakpuasannya terhadap dunia. Dia merasa perlu melampiaskan emosi yang bercokol beranak-pinak ini pada Namjoon, padahal dia jelas tahu kalau Namjoon tidak perlu bertanggungjawab atas hal itu. Begitulah manusia dengan keegoisannya.
Seperti sekarang, Namjoon pasti tahu dia sedang kalut. Jadi dengan gamblang lelaki itu memenjara lehernya untuk dipeluk. Kecup-kecup kecil hinggap lalu-lalang pada permukaan kepala. Astaga, Jisoo mau muntah. Kenapa Tuhan menciptakan manusia senorak Namjoon ini? Dia jadi pusing sendiri karena harus pintar-pintar memasang poker face begini.
Namjoon dengan segala kemaklumannya berkata, "Tidak masalah kalau lagi-lagi Jisoo-ku ini merasa letih. Manusiawi kok. Tapi kau harus tahu kalau yang telah kaulakukan itu sudah baik, Sayang. Dua malam lembur, kendati hanya kemarin aku bisa menemanimu di sini. Tidak masalah merasa sendirian, karena memang hanya kesendirian yang manusia miliki. Kita semua berhak mengeluh, bahkan untuk hal-hal sepele sekali pun."
Jisoo kuat-kuat menahan air mata yang hendak turun. Mengalihkan perhatian, dia menyahut, "Aku merasa kosong; kesepian. Sepertinya aku terlalu bergantung padamu selama ini, maka dari itu ketika kau begitu jauh dari jangkauanku, yang terlintas hanya ingin mati, mati, dan mati."
Iya, Jisoo juga sama norak dengan Namjoon.
Namjoon memutar kursi kerja Jisoo agar dapat melihat wajah lelah sang kekasih. Sekali lagi, ia mengukir senyum. "Tidak masalah. Mulai sekarang kau harus tahu kalau kau tidak boleh lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Kau punya dirimu sendiri untuk tersenyum, tidak ada alasan lain untuk bahagia, selain karena kau menginginkannya."
Jisoo tahu Namjoon ini bapak-bapak tua kolot yang terkadang melankolis, kadang juga terlalu kutu buku. Namun yang tak pernah Jisoo lupakan adalah betapa lelaki itu memanusiakan semua manusia yang pernah ia temui. That's why she loves him so damn much.
🦋
N o t e !
Hai, karena aku mulai kebingungan mau isi cerita ini dengan kisah apalagi, jadi mungkin kalau kalian berkenan bisa request apa adegan/ alur/ amanat, etc, yang mau kalian temui di cerita ini. Jangan lupa cantumkan juga nama tokohnya siapa aja, ya!
Feel free, jangan malu. Aku bakal langsung bikin kisahnya kalau ada waktu!
See u ♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Eyes Tell
Short StoryFt. BTS - Blackpink Okular larap berdiskusi di penghujung kisah yang telah lampau melewati konklusi. Mereka memang tak menemukan tamat dalam barisan narasi, tetapi mereka menjumpai petuah renta di setiap akhir senja yang kian menua pada pertemuan ga...
