Sewindu bergumul abu pada sisi yang usang digigit debu. Urat pelipis menonjol pamer singkat sangu. Pilu biru berubah jadi kelabu. Kemarahan selalu memuncak pangkal pada sore hari tiap menenggak secangkir temu. Ribuan alasan murka dikantongi untuk menangkan ego yang congkak meski semu. Marah, kesal, lalu sendu. Mereka masih bersatu kendati jalinannya rumit begitu. Yoongi tunak jatuh pada pesona Jennie yang punya aura merah jambu, meski perempuan berusia dua puluh tujuh itu selalu ingin dia kutuk jadi batu.
Jennie tidah tahu kenapa egois selalu tandang tatkala Yoongi menaruh resah pada telapak tangannya sepulang kerja. Pagi, siang; sampai mereka jemu menatap huruf-huruf merah menyala-nyala dari bibir Jennie yang terus terbuka. Jennie katakan dengan lantang, ia tidak egois, tetapi jika Yoongi datang, maka secara sistematis murka dan teman-temannya akan muncul dengan mudah membentuk aliansi impulsif yang dipenuhi gelora. Seakan debat di antara ia dan Yoongi adalah serangkaian lomba.
Seperti pada cuplikan ini, mereka tengah tertidur dengan baju lusuh bau keringat--otak mereka jemu diperas seharian oleh alat elektronik di balik kubikel kantor. Namun, lelah Jennie punya jenis yang berbeda. Bila letih mencumbu Yoongi dengan cara tertidur pulas, maka letih yang Jennie miliki adalah mengungkit-ungkit kesalahan sang kekasih sampai pertengkaran mulai punya tanda kemunculan.
Mata Yoongi terpejam penat ditutupi lengan kanan. Telinganya aktif mendengar suara Jennie yang meledak. Jennie marah lagi setelah minggu ini lunas empat kali tengkar pada hari yang berbeda. Dia juga tidak mengerti kenapa Jennie berubah menjadi perempuan sensitif akhir-akhir ini.
"Aku lelah harus begini terus."
Baiklah, jika Jennie sudah berkata demikian, mau tak mau Yoongi harus cepat bertindak. Kendati sekali lagi dia harus merendah. Rasa cintanya pada Jennie harga mati, dia rela membujuk Jennie semalam suntuk sampai perempuan Kim itu tersenyum lebar menyentuh kantung mata.
Dia kecup kepala Jennie yang bertumpu pada lengan kirinya. Kemudian dengan hati lapang berbisik rendah, "Maaf, ya, akhir-akhir ini aku selalu membuatmu kesal."
Jennie terlena pada lengan-lengan egoistis yang gelayuti pola pikirnya untuk membudak Yoongi agar terus bersedia mengalah dan meminta maaf. Seakan hanya ia yang diperbolehkan marah dan murka sedangkan Yoongi bahkan tak boleh menekuk bibirnya ketika berbicara. Mendengar kata maaf sekali lagi di bibir merah jambu Yoongi membuat ia menahan diri agar tidak berteriak senang. Katakanlah ia gila, tetapi yang ia lakukan semata-mata karena cinta.
Kalau yang ia dengar dari cerita teman-teman, wanita memang suka merajuk. Di mana tujuan utama adalah perhatian yang harus seluruhnya pasangan curahkan tanpa perlu ada tanda tanya dulu pada akhir kalimat. Namun, dilihat dari kondisinya akhir-akhir ini, apa ia masih sejenis wanita? Ia sendiri tidak yakin, sepertinya sudah berubah jadi iblis, sih.
Jennie merapatkan tubuh. Seduktif, mengecup sepanjang rahang Yoongi hingga kulit pucat lelakinya berubah merah merona seperti bibir. Ia tidak akan menyesal sudah mengedepankan egois, karena ia rasa setimpal dengan bagaimana cinta begitu melimpah mengalir pada sekujur tubuh Yoongi. Ketika satu panggilan lolos dari bibir Yoongi yang terbuka, ia lekas menyimpulkan senyum.
"Terima kasih sudah selalu bersedia meminta maaf padahal kau pun tahu sebenarnya ini bukan perkara siapa yang salah."
Yoongi mengecup bibir Jennie beberapa detik sebelum melabuhkan tatapan lurus pada mata perempuan Kim yang terus berpendar penuh cinta ketika dia menatapnya. "Aku juga ingin marah seperti kau yang tanpa sebab tiba-tiba murka, tetapi yang keluar dari bibirku setiap kali memiliki amarah adalah ucapan cinta. Tuhan tidak adil padaku, ya?" Lantas mengecup bibir Jennie sampai posisinya tak lagi berdampingan melainkan berhadapan, di mana dia dominan di atas Jennie seraya mempertahankan jalinan labium. Dia tidak pernah lelah mencintai Jennie, dia juga tahu Jennie pun demikian.
Ego yang Jennie pupuk hingga dewasa ternyata tak Yoongi anggap sebagai hama, melainkan lelaki itu rawat laksana anak. Di mana kasih sayang tercurahkan begitu besar pada tiap-tiap akarnya. Benar kata Yoongi, amarah yang keluar dari bibir lelaki itu bukan caci maki, tidak pula nada tinggi. Alih-alih membentak, Yoongi akan dengan agresif memeluknya sambil terus-menerus mengucap betapa dia mencintainya.
Kalau sudah begini, tidakkah ia diperbolehkan untuk merawat ego sampai tumbuh menua? Sebab, hangat Yoongi pada daun-daun egonya sangat memabukkan.
Katakan Jennie racun, maka Yoongi akan bersedia merendahkan suara lalu mendekatkan bibir pada telinga.
Yoongi akan berbisik setelahnya, "Kalau begitu biarkan aku untuk terus menjadi penawarnya."
🦋
N o t e !
Hai, karena aku mulai kebingungan mau isi cerita ini dengan kisah apalagi, jadi mungkin kalau kalian berkenan bisa request apa adegan/ alur/ amanat, etc, yang mau kalian temui di cerita ini. Jangan lupa cantumkan juga nama tokohnya siapa aja, ya!
Feel free, jangan malu. Aku bakal langsung bikin kisahnya kalau ada waktu!
See u ♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Eyes Tell
Historia CortaFt. BTS - Blackpink Okular larap berdiskusi di penghujung kisah yang telah lampau melewati konklusi. Mereka memang tak menemukan tamat dalam barisan narasi, tetapi mereka menjumpai petuah renta di setiap akhir senja yang kian menua pada pertemuan ga...
