Over Night - Taerosé

181 25 3
                                        

🦋

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🦋

Paris, 05 Feb 2017

     Langitnya kemerahan pada sore hari yang kelihatan sedikit lebih pucat pasi dari kemarin. Entah karena Rosé sedang sedih jadi dua mata yang baru saja mengurai air ini kebingungan atas warna-warna di sekitar, atau cuaca yang sebenar-benarnya memanglah tidak sehangat kemarin. Dia tidak tahu pasti, tapi jelas sekali jika suara patah-patah yang sayup didengar lain dari hiruk-pikuk potongan kapital Perancis ini adalah degup jantungnya sendiri; keras, berdenyut debam-debum, perih.

     Sedang tidak hujan, Rosé masih punya otak untuk tidak berharap akan basah kuyup hari ini. Lebih-lebih lagi ini hari terakhir sebelum dia memutuskan untuk angkat kaki dari Paris. Kasar sekali sampai disebut angkat kaki, tetapi kilas kemarin yang bahkan masih belum kering di ingatan terus berputar. Dia hancur pada kepingan paling kecil yang lantas kembali patah di detik-detik terakhir. Katakanlah berlebihan, biar saja. Rosé terlampau tahu kalau dia sendiri pun pada angin bernyanyi keras saja sudah ingin menangis—hanya karena suara itu seakan terus usik damainya di malam hari.

     Akan tetapi, hei, ini bukan sesepele itu. Kemarin dia lihat sendiri kalau Taehyung, kekasihnya, tengah mabuk dalam kondisi yang sungguhan berada di stadium akhir. Taehyung sampai tertidur di depan rumah, padahal jika hanya mabuk biasa saja lelaki itu cuma berlagak seperti orang baru saja makan terlalu banyak roti.

     Taehyung adalah sekeping misteri. Rosé sudah jadi kekasih kakek buyut itu selama lima tahun. Gila saja, hampir seperempat hidupnya kalau dipikir ulang. Namun kendati sudah lima kalender dia ganti, kehidupan Taehyung tetaplah asing.

     Tidak tersentuh.

     Dekat, tetapi jauh.

     Taehyung pemaksa, ingin tahu segalanya. Sedangkan dia hanya bisa diam dan terus-menerus murka karena Tae kerap kali menekuk wajah di malam hari tanpa tahu apa sebab di baliknya. Selalu malam hari. Padahal Paris terlalu indah untuk Taehyung cuaikan seperti croissant yang hangat.

     Dia dan Taehyung berseberangan. Tidak pernah temui satu kepala dalam satu badan pemikiran, seakan dia begitu salah berada dalam lingkup cara berpikir Taehyung yang rumit. Lima tahun tidak cukup untuk membuat dia bisa menguasai teknik Taehyung merampas bumi, di mana gelap terang begitu kontras di mata lelaki itu.

     Langkah kaki Rosé terhenti di depan pintu kayu kamar. Bau alkohol sudah hilang, tidak sia-sia dia pergi dengan membanting pintu depan supaya Taehyung tahu kalau ini sungguh sudah mencapai batas. Oksimoronnya tidak tanggung-tanggung.

     "Ossié, sampai kapan kau mau datang dan pergi dengan membanting pintu begitu?" keluh Taehyung. Pria yang telah menginjak usia kepala tiga itu terus menggaruk rambut seraya melihat penampilan acak-acakan Rosé.

Your Eyes TellCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang