Ft. BTS - Blackpink
Okular larap berdiskusi di penghujung kisah yang telah lampau melewati konklusi. Mereka memang tak menemukan tamat dalam barisan narasi, tetapi mereka menjumpai petuah renta di setiap akhir senja yang kian menua pada pertemuan ga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🦋
"Kemarin kulihat si Jeon sedang bermain tenis. Heran sekali, 'kan?" tanya Jennie yang baru saja tergopoh-gopoh lari dari serambi kanan lapangan kampus. Dengan membawa sebotol minuman segar, ia ambil kursi lain di sebelah Lisa yang tengah menumpu dagu malas-malasan.
Tidak berminat sebenarnya untuk menanggapi Jennie, lebih-lebih ini menyangkut topik yang amat tidak penting sama sekali. Tidak punya korelasi apa-apa dengannya. Jadi, dia membalas lemas, "Heran kenapa, Kak?"
Jennie meletakkan botol yang meninggalkan setengah dari isi semula ke atas meja sembarangan. Lantas menyahut antusias, "Ih, kau masa tidak tahu, sih?" Ia tidak membiarkan Lisa menjawab kendati kalimat tersebut adalah sebuah pertanyaan. "Senior-senior sampai rela untuk tetap di kampus padahal kelas sudah selesai, tahu! Itu momen langka, lho. Padahal pada pekan lalu aku juga bermain tenis, tapi kursi-kursi malah sepi. Menyebalkan." Diakhiri dengan dengkus kasar.
Lisa memutar bola mata malas. "Kenapa Kakak baru sadar?" Bertanya, ketus. "Jungkook itu suka cari perhatian. Bingung, kenapa bisa dahulu aku tergila-gila pada si Jeon itu."
Jennie yang dengar jelas kejengkelan Lisa pada tiap-tiap huruf dalam dialog adik tingkatnya itu hanya mampu tersenyum kecil. Omong-omong, Lisa dan Jeon Jungkook dahulu sempat menjalin hubungan. Tidak bertahan lama, tetapi rasa-rasanya tetap saja fakta tersebut tidak bisa untuk dianggap sebagai angin lalu. Apalagi ini mengenai Jeon Jungkook, mahasiswa aktif kampus. Singkat cerita, Lisa dan Jungkook memutuskan untuk mengakhiri hubungan usai dua bulan berkencan. Entah mereka berpisah karena sebab apa. Akan tetapi, terlihat setelah keputusan tersebut diambil hubungan mereka tidak dalam kondisi baik-baik saja.
"Sialan, Jeongguk! Sakit!" teriak Lisa sembari usap pipi kanan memerah yang jadi korban aksi kekerasan Jungkook—cubit pipi.
Ya, begitu contohnya. Jungkook selalu usil untuk ganggu Lisa yang kelihatan tak pernah punya semangat hidup. Sedangkan Lisa seperti enggan untuk membalas tapi terus mengeluh.
"Salah sendiri kau kencan dengan teman sekelas," kata Jennie, "kalau sudah kandas begini, kau jadi susah sendiri, 'kan?"
Ya, Lisa mana tahu kalau Jeon itu pemuda berengsek, jadi saat ada kesempatan emas di depan mata siapa pula yang tidak akan mengambilnya, bukan?
Sebenarnya, hubungan Lisa dan Jungkook masih bisa diperbaiki jika saja saat itu Lisa mau sedikit saja mendengar permohonan Jungkook. Pemuda Jeon yang terkenal dengan kesenangannya berganti-ganti wanita tiap minggu tersebut sungguhan jatuh cinta pada Lisa, tetapi karena sudah terbiasa berkencan dengan banyak wanita ia sedikit kesulitan dalam menyesuaikan diri. Lisa tidak suka dipermainkan, maka putus hubungan dengan Jungkook adalah opsi yang paling tepat untuk dia jalankan. Namun, meski keduanya sepakat mengakhiri hubungan, seisi kampus pun tahu kalau dari kedua belah pihak belum menjumpai kesepakatan untuk pindah ke lain hati. Mereka adalah rahasia umum.
Lisa mengarahkan langkah meninggalkan kelas. Sembari menenteng tas kanvas bergambar beruang cokelat dengan pijak kaki terburu-buru. Dia punya kebiasaan untuk berdiam diri sejenak mengistirahatkan tubuh pada alas-alas bumi hijau dibarengi deras aliran sungai dekat kampus. Jadi tatkala kaki kirinya menutup perjalanan, Lisa lekas duduk di atas rumput tanpa alas lain seraya menatap sungai besar berair tenang di depan. Suasana seperti ini selalu mengantarkan dia pada saat di mana perlakuan manis Jungkook terasa begitu memabukkan.
Hatinya lapang ketika tahu Jungkook menyetujui ajakan berpisah yang dia ajukan pada saat itu. Akan tetapi, dia tidak punya kesediaan untuk membiarkan ketertarikannya pada Jungkook memudar seperti cat rumah yang digilas air hujan. Dia terlalu dalam ketika sepakat mencintai si pemuda Jeon. Dia tidak punya niat sama sekali untuk mengganti Jungkook dengan kenangan lain.
Lisa menggenggam korek. Jangan salah kaprah, Lisa tidak merokok. Dia tandang ke piggiran sungai bukan tanpa sebab yang jelas. Dia menyimpan satu kotak kecil makanan, dipandangnya kotak itu lamat-lamat. Lantas bersenandung lirih, "Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Jeongguk, selamat ulang tahun." Dia menutup melodi pilu itu dengan bertepuk tangan. Sumbu lilin bahkan belum dia bakar karena terlalu sakit merayakan hari bersejarah seseorang yang belum tentu mengingat hari lahirnya juga.
Lisa tahu betul kalau makna dari mencintai tidak melulu menjurus pada kebersamaan dan lilit ikatan yang memenjara. Dia memaknai cinta dengan tenang, menatap air sungai yang mengingatkannya pada kerinduan akan cinta kasih Jungkook yang lenyap sekejap mata. Jungkook pernah menitipkan dunia lelaki itu padanya, lalu secara acak dan bijak dia memutuskan hubungan dan menyudahi semua dengan hati yang lapang--memberikan hak milik dunia itu pada Jungkook kembali.
"Panjang umur, Ggukie."
Dia memang merindukan Jungkook, tetapi tak pernah sekali pun terbesit untuk menjadi tuan rumah bagi jejak-jejak kaki Jungkook yang senang berkeliaran. Dia dan Jungkook merupakan oksimoron. Antonim yang saling berikatan. Kendati saling berikatan, antonim tetaplah berseberangan.
🦋
N o t e !
Hai, karena aku mulai kebingungan mau isi cerita ini dengan kisah apalagi, jadi mungkin kalau kalian berkenan bisa request apa adegan/ alur/ amanat, etc, yang mau kalian temui di cerita ini. Jangan lupa cantumkan juga nama tokohnya siapa aja, ya!
Feel free, jangan malu. Aku bakal langsung bikin kisahnya kalau ada waktu!