"Tae."
Taehyung yang tengah tatap langit-langit kamar dengan khidmat harus rela fokusnya dipecah ketika sang istri memanggil lemah. Dia naikkan satu alis tinggi-tinggi sebagai respons—kebiasaan dari masa pacaran sampai sekarang, tidak bisa dihilangkan, sungguh. Dia rengkuh tubuh mungil sang istri ke dalam dekapan, tenggelamkan kepala beraroma vanila itu ke teritori penghidunya. Dia selalu suka aroma Rosé yang lembut dan autentik. Dia tetap suka meski sudah lima tahun tidur di bawah atap yang sama, dibebat selimut yang serupa, dia seakan tidak kenal pasai saat berdekatan dengan Rosé.
Taehyung bisa rasakan jemari halus Rosé yang usap minyak di wajahnya dengan gerakan konsisten; dari atas, lalu ke bawah. Dia pejamkan mata untuk nikmati belai cuma-cuma yang Rosé sumbangkan untuk kulit keriputnya. Dia menikahi Rosé saat wanita itu menginjak usia dua puluh empat tahun, sedangkan dia tengah memasuki usia tiga puluh dua tahun.
Banyak waktu yang terbuang pada usia pernikahan berangka tiga. Dia dan Rosé sama-sama punya kesibukan. Dia yang ditelan kertas serta layar laptop seharian di kantor, sedangkan Rosé yang dililit perkara orang tiap hari. Rosé adalah pengacara wanita yang paling diandalkan dalam firma hukumnya. Well, dia patut bangga untuk yang satu itu.
"Maaf, Tae." Rosé terisak. "Maaf, padahal kita sudah lalui lima tahun lamanya, tapi Tuhan masih setia saja kosongkan isi rahimku, Tae. Maafkan aku, ya?" Ia kecup bibir Taehyung setelah selesai utarakan kalimat tadi.
Taehyung bereaksi. Dia kian peluk daksa mungil itu kuat-kuat. Dia cium pula pucuk kepala wanitanya beberapa kali. Yang tadi itu merupakan permintaan maaf kesekian dari bibir Rosé; rutin terjadi. Setiap malam atau saat hadir waktu senggang dan suasana tengah dukung wanita itu untuk jilat luka-lukanya sendiri, Rosé akan selalu lontarkan kata maaf beserta penyebab. Dan penyebabnya selalu sama; ia belum bisa berikan seorang bayi.
Dia rangkum sepasang rahang Rosé pada dua belah tangan. Satukan cuping hidung kemerahan Rosé yang tersumbat ingus dengan cuping hidungnya yang masih sehat. Dia berkata, "Aku tidak pernah menuntut apa-apa tentang kehadiran bayi. Karena aku tahu, kita sudah berusaha, hanya saja Tuhan lebih tahu kapan kita siap untuk diberi amanat besar berupa seonggok kehidupan. Tidak apa-apa, tidak masalah. Aku masih punya banyak waktu untuk berikan sperma padamu, jangan takut."
Rosé terkekeh sembari pukul dada Taehyung yang telanjang. Ia kecup dua tangan Taehyung yang penjarakan wajahnya. "Aku takut kalau suatu saat nanti; saat tubuhku tidak lagi terlihat ramping; saat kurva tanda penuaan sudah tertoreh di sepasang pelipis; saat gigiku mulai ompong, kau akan tinggalkan aku di sini—seorang diri. Aku hanya takut kau merasa bosan denganku yang sudah tua, Tae. Aku takut ditinggal sendiri dengan status janda tua tanpa anak." Ia menangis lagi.
Taehyung berdecak seraya usap punggung Rosé yang bergetar. "Aku lebih tua darimu, kalau saja kau mulai amnesia tentang selisih usia kita." Terkekeh sebentar, kemudian dia menyambungkan, "Aku tidak bisa jamin tentang rasa bosan, karena jujur, ada masa di mana aku akan jemu sekali bertemu denganmu dan lebih memilih untuk berendam menggunakan setumpuk laporan pekerjaan di kantor. Namun sumpah demi Tuhan, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian."
Rosé buka celah bibirnya, hendak utarakan argumen yang jelas akan selalu kontra dengan sang suami. Namun belum sempat sua-sua ketakutan terlanting dan lolos dari bibir, Taehyung ternyata lebih gesit dari seekor belut. Pria yang kadang irit sekali saat merangkai kalimat itu sudah raup bibirnya dengan ciuman basah. Mau setangguh apa pun Rosé diciptakan oleh Tuhan, ia tetap akan luluhlantak ketika Taehyung sudah bertindak.
Lelaki Kim itu lepas penyatuan labiumnya dengan sang istri. Dia kecup sekali lagi material kenyal berwarna merah jambu tersebut sebelum paksa Rosé masuk lebih dalam ke teritori rengkuhnya. "Sudah, pejamkan mata saja. Besok pagi kita lanjut lagi diskusinya, ya. Sekarang tidurlah, Rosié."
Maka, seakan sudah dirakit untuk saling memahami, bisikan Taehyung pun menjelma menjadi pengantar kalut Rosé di pertengahan malam yang penat kala rembulan bersiap menyambangi rawi pada pergantian hari.
🦋
KAMU SEDANG MEMBACA
Your Eyes Tell
PovídkyFt. BTS - Blackpink Okular larap berdiskusi di penghujung kisah yang telah lampau melewati konklusi. Mereka memang tak menemukan tamat dalam barisan narasi, tetapi mereka menjumpai petuah renta di setiap akhir senja yang kian menua pada pertemuan ga...
