Home - Liskook

277 32 0
                                        

    Di pagi hari yang tak begitu cerah, Jungkook dan Lisa memutuskan untuk bertemu di sebuah danau. Lisa menolak tawaran Jungkook ketika pria itu hendak menjemputnya. Jungkook yang penurut pun hanya terima-terima saja dan mengikuti permintaan Lisa untuk langsung tandang ke danau yang sudah mereka jadikan tempat berkencan di bulan-bulan sebelumnya.

    Dan di sini Lisa terduduk sembari menekuk lutut. Jungkook belum datang. Tidak mengherankan sebab jarak rumah Jungkook dan jarak rumahnya menuju danau sangat tak layak untuk dibandingkan. Jungkook menempuh jarak yang lebih jauh dengan memakan waktu lama dibanding dengannya. Tapi dia senang, Jungkook tak keberatan mengenai hal tersebut. Air danau berwarna sedikit kehijauan dikarenakan lumut-lumut membangun sebuah negara untuk pribadi di sana, ada beberapa daun dari bunga teratai yang tampak segar dan ringan sekali berada di atas air. Hanya ada dua daun yang mengikutsertakan teratai di atas punggung, sedangkan yang lain hanya kosong melompong dengan permukaan melebar.

    "Maaf, aku terjebak macet," ungkap Jungkook selepas duduk bersila di tepi danau menemani Lisa yang masih tercenung tatapi permukaan hijau air danau.

    Lisa mengangguk maklum. "Tidak masalah, aku paham."

    Jungkook tahu Lisa seperti ia paham warna kesukaannya sendiri. Lisa sedekat itu. Lisa gamblang kendati terkadang remang. Ia amati betul-betul bagaimana cara Lisa merampas batu dari atas rerumputan yang punya kerapatan jarang-jarang, menggenggam benda itu untuk beberapa saat yang tak dapat dihitung sebab interval yang Lisa gunakan selalu berbeda, lalu gadis itu akan lempar sembarangan ke arah danau. Ia tahu kalau ada yang Lisa tahan-tahan agar tidak meluap, ia juga paham jika ada sungai yang Lisa bendung agar tidak banjir, ia tahu semua yang Lisa sembunyikan karena itu terlalu gamblang. Lisa terbaca dengan gerak-gerik yang disembunyikan.

    Ia mengembuskan napas kasar. Raih sebuah kerikil, kemudian duplikat cara Lisa ciptakan bulatan-bulatan berbeda ukuran yang terlukis di permukaan air danau.

    "Kau tidak mau berbagi cerita untuk hari ini, hm?" Jungkook bertanya dengan tatapan lurus memandangi riak air danau.

    Lisa menunduk sembari pahat senyum tipis-tipis. Jungkook adalah tulang-belulang—penopang seonggok daging yang bernyawa tanpa semangat hidup, sepertinya. Jungkook tahu, pria itu selalu tahu tentang apa pun. Dia tidak perlu berbasa-basi untuk sekadar meminta secuil perhatian, sebab Jungkook akan dengan senang hati melimpahkan seluruh afeksi secara cuma-cuma asal dia bahagia. Lembut sekali perasaan yang Jungkook ulurkan.

    "Aku butuh rumah untuk pulang."

    Jungkook bertanya, "Kau mau model yang seperti apa? Sepulang dari sini, kita bisa cek lokasinya jika kau sudah ada gambaran mengenai rumah impianmu."

    Lisa mendongak, mengarahkan tatapan matanya dengan Jungkook yang ternyata juga tengah memaku fokus. Dia lempar senyum seperti tadi, lantas bersua, "Aku sudah ada gambarannya, sih. Kau mau lihat?"

    Jungkook anggukan kepala. Ia ikuti pergerakan Lisa yang berjalan pelan-pelan mendekati pinggiran danau. Perempuan itu berjongkok seraya selipkan anak rambut nakal yang sudah lepas saja dari kunciran. Ia turut berjongkok sembari tatapi apa yang Lisa tatapi sejak tadi. Hanya ada air danau yang memantulkan konfigurasi wajahnya dan Lisa secara samar-samar karena ada sedikit riak dari danau yang membuat air hijau tersebut memecah detik-detik konfigurasi sempurna.

    Lisa mengarahkan jari telunjuk pada pantulan wajah Jungkook di atas air. "Itu, yang seperti itu."

    Jungkook mengernyit, tapi tetap lontarkan tanya dengan suara jelas, "Air? Kau mau rumahnya berwarna hijau begini? Oh, atau kau mau rumahmu dekat daerah sini?"

    Selain pintar membaca pikiran, Jungkook juga sangat ahli dalam bidang membuat kekasih kesal. Ya, begini, Jungkook itu pria terlemot yang terkadang bisa membuat seseorang naik darah karena apa yang ingin disampaikannya tidak tersampaikan kendati sudah disampaikan dengan bahasa dan penyampaian yang baik. Nah, Jungkook itu seperti narasi yang dia tulis di kalimat sebelum ini; berbelit-belit. Padahal dia sudah menyisipkan satu kata kunci, Jungkook tetap membuat itu berbelit-belit dengan banyak bertanya mengenai hal yang tak sama sekali dia garis bawahi sebagai topik utama. Tapi tidak masalah, dia suka Jungkook yang manusiawi begini. Dia lebih suka Jungkook yang lemot daripada Jungkook yang mendesis kesal saat salah satu pegawai kantornya salah memilih warna map. Hei, itu hanya warna map, dia tidak paham kenapa Jungkook bisa serumit itu dalam berpikir atau menentukan warna.

    "Ih, bukan itu," katanya, "aku mau yang seperti pantulan itu."

    "Aku?" Jungkook bertanya ragu sambil menunjuk dirinya sendiri.

    "Bukan, tuh, kodok yang sedang duduk di atas daun teratai," sahut Lisa asal dengan tatapan mata tajam yang memicing mengarah pada hewan amfibi di atas permukaan daun teratai.

    "Kau mau—"

    "Iya, Kook, iya! Yang kumaksud itu kau." Lisa tunjuk cuping hidung Jungkook. "Begitu saja tidak paham, dasar."

  Jungkook gigit kecil jari Lisa yang menyentuh permukaan kulit hidungnya dengan gemas sampai membuat sang empu berteriak kecil—padahal ia yakin kalau yang tadi itu hanya seperti gigitan semut. Ia ulas senyum yang lebih lebar dari apa yang Lisa presentasikan tadi di depannya.

    "Baiklah, kalau begitu jadikan aku sebagai rumahmu untuk pulang dan menetap. Kau diperbolehkan untuk ke luar rumah, tapi kau harus ingat jalan pulang, ya. Dan satu lagi, jangan sampai tersesat, nanti bisa menyesal sampai akhir hayat."

🦋

Your Eyes TellCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang