07

905 105 41
                                    

" Ini baru permulaan Kim Nara. Tunggu dan lihat apa yang akan terjadi kepadamu dan papamu itu.. ouh mungkin juga calon suami mu? "

Sore itu Nara pulang ke rumah bersama Jaemin dan Jeno, pengawal pribadi kepada calon suaminya yang tidak pernah ia anggap.
Sesampainya di rumah, Nara yang ingin membuka pintu secara tidak sengaja melihat sebuah paket yang diletakkan di samping pintu rumahnya. Merasa heran dengan itu, ia pun memeriksa paket tersebut yang tertera namanya.
Tiada nama pengirim.
Tanpa berfikir panjang, ia akhirnya mengambil paket tersebut yang ditujukan untuknya, entah dari siapa itu Nara tidak tahu. Dengan rasa penasaran yang besar, Nara duduk di tengah ruang tamu untuk membuka paket misteri yang dikirimkan kepadanya itu.

Saat ia ingin memeriksa isi paket tersebut, secara tidak sengaja ia meringis kesakitan karna ada sesuatu yang melukai tangannya.

" Auch! "

Kedua pengawal pribadi yang setia bersamanya sadari tadi langsung menghampirinya dengan raut wajah yang khawatir,

" Ada apa Nara? " tanya mereka.

" Stt, tanganku sakit " ringisnya sambil menghulurkan tangannya yang dirasakannya sakit tadi.
Melihat tangan Nara yang sudah dibasahi darah seketika membuatkan mereka bertiga panik karna Nara juga tidak menyadari kalau tangannya sudah dipenuh darah yang mengalir dari luka yang didapatinya tadi.

" Astaga, apa yang terjadi? Kok bisa berdarah? " Jeno dengan cepat mengambil sapu tangan yang sentiasa dibawanya dan mengikatkannya di tangan Nara untuk menghentikan pendarahan.

Sementara menunggu Jeno, Jaemin mengambil paket yang tergeletak di hadapan Nara dan mengeluarkan isinya untuk diperiksa.

" Siapa yang mengirim pisau kecil seperti ini? " tanya Jaemin hairan.
Nara memandang ke arah Jaemin sambil mengangkat kedua bahunya.

" Aku tidak tahu siapa .. di paketnya ada namaku. Terus pas aku mau meriksa isinya apa, tanganku udah kesakitan. Aku ga nyangka isinya bakalan seperti itu "
Kedua lelaki tersebut saling bertukar pandang sebelum salah satunya memutuskan kontak mata dan memanggil bibi didapur untuk mengobati tangan Nara.

" Tolong obati Nara dan bawa dia ke kamarnya untuk beristirahat "

" Baik, tuan "

" Ayo nyonya kita ke kamar, saya obatin dulu tangannya sebelum istirahat " lanjut bibi tersebut dengan menunduk hormat, mempersilakan Nara untuk berjalan terlebih dahulu ke kamarnya.

" Iya bi , makasih " jawab Nara lembut sambil menahan sakit di tangannya.

Setelah memastikan Nara dan bibi Jang masuk ke dalam kamar , Jaemin dan Jeno pun mulai membahas tentang isi paket tadi.

" Kira-kira siapa yang mengirimkan paket ini? " tanya Jeno.

Mereka benar-benar keliru dan penasaran dengan pengirim paket tersebut, soalnya tiada nama pengirim yang tertulis. Apakah tujuan sang pengirim melakukan semua ini?

" Kita harus cari tahu dan sesegera mungkin melaporkannya ke Tuan Lee sebelum dia menghabisi kita "

" Benar , apalagi Nara adalah calon istrinya " balas Jeno.
Hampir beberapa menit mereka berdiam diri dan memikirkan pelaku yang berniat melukai Nara.

" Emm .. ini cuman tebakanku aja. Tapi apa mungkin pelakunya adalah lelaki yang memerhatikan Nara di café tadi? " tanya Jeno kepada Jaemin yang kini sedang mengerutkan dahinya, memutar kembali ingatannya tentang 'lelaki' yang dimaksudkan oleh temannya itu.

" Bisa jadi dia pelakunya. Begini aja , kita tanya ke Tuan Lee dulu dan biar dia yang menentukan tindakan selanjutnya " jawab Jaemin sambil mula mendail nomor telfon majikannya itu.

Terpaksa || lee haechanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang