Part 9

4.4K 336 164
                                        

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum teman teman semua. Masih nungguin ceritaa Yas dan Zahra gak sih???

Mohon maaf yang sebesar besarnya, karena tanpa aku niatkan, tanpa aku sengaja, aku udah gantung cerita ini lama bangetttt....

Tapi sungguh, gada niat sama sekali. Memang situasi dan kondisi saat itu yang membuat aku terpaksa gak lanjut dulu.

Terimakasih banyakk untuk pembaca setia When Gus Meet Ning meskipun baru 8 part. Bahkan, sampai ada yang hubungi aku secara pribadi via DM instagram ( @annisafitri_19 difollow jangan lupa hehe). Dan sejujurnya aku baru sadar bahwa ada tanggung jawab yang aku tinggalkan disini. Tapi its okay, mudah mudahan teman teman semua bersedia memaafkan aku hehe. So, yang kangen Yas dan Zahra, ini part didedikasikan untuk kalian. Mungkin ga terlalu komplit part ini, karena aku butuh waktu untuk susun alurnya lagi, karena sejujurkan aku udah lupa alur yang aku buat awal cerita ini publish.

HAPPY READING ALL❤️✨

****

Pagi ini Zahra hanya bisa duduk bersandar pada headboard kasur tanpa bisa melakukan apa apa selain muraja'ah hafalannya. Sebenarnya dia berniat untuk turun ke dapur menyiapkan sarapan, hal itu ia urungkan karena Yas sendiri yang melarang. Berbicara saja sesekali ia masih gugup, apalagi membantah ucapan Yas. Sangat tidak mungkin dilakukan Zahra, entahlah jika nanti.

Mengingat Zahra yang kesulitan bergerak, Yas memutuskan untuk shalat dirumah mengimaminya. Sehabis subuh, Mas Zafran mengajak Yas berolahraga santai mengelilingi pondok sekalian memperkenalkan denah pesantren pada Yas, niat Zafran. Sekarang sudah menunjukkan pukul 07.15, namun suami Zahra tersebut belum juga pulang. Entah sejauh apa Mas Zafran mengajak Yas berkeliling.

Ceklekk

"Assalamu'alaikum," salam seseorang. Siapa lagi kalau bukan Gus Yas.

"Wa'alaikumussalam. Baru pulang mas?" Basa basi Zahra.

"Iya" jawab Yas singkat seraya berjalan menuju lemari.

"Biar Zahra aja, Mas" ucap Zahra berusaha turun dari kasur. Hal itu menghentikan Yas yang berniat mengambil pakaiannya.

"Mau ngapain?" tanya Yas mengamati Zahra yang masih berusaha turun dari kasur. Tampaknya kaki Ning yang satu ini belum membaik, terlihat dari sang empu yang sesekali meringis.

"Hm?? M-mau nyiapin baju. K-kenapa Mas?" Jawab Zahra terbata.

"Ga perlu. Istirahat saja. Kaki kamu belum membaik, dipaksakan yang ada semakin lama sembuhnya. Saya bisa sendiri kok" ucap Yas melanjutkan kegiatannya. Setelahnya, ia berlalu menuju kamar mandi dengan handuk yang disampirkan dibahu kanannya.

Zahra hanya terdiam tanpa menjawab ucapan Yas. Entahlah, ia bingung harus menjawab apa. Disatu sisi dia merasa bersalah karena tidak bisa memenuhi kewajiban nya terhadap Yas. Bahkan Yas terpaksa shalat subuh dirumah pagi ini. Tapi di sisi lain suaminya juga benar.

15 menit setelah itu, Yas keluar dari kamar mandi dengan aroma mawar yang semerbak. Tidak salah lagi, itu sabun Zahra. Dan Zahra teringat sesuatu.

"Astaghfirullah, Zahra lupa bawa perlengkapan mandi, Mas. Kayaknya ada di atas nakas kamar Mas deh. Astaghfirullah Zahra, ceroboh kamu ga ilang ilang. Afwan ya Mas, beneran deh, Zahra lupa masukin ke dalam tas. Padahal udah disiapin, udah Zahra masukin pouch juga. Atau nanti Zahra minta tolong santri buat beliin sabun dan perlengkapan lainnya Mas? Gapapa kan Mas?" ucap Zahra beruntun, Zahra sampai ngos - ngosan setelah berbicara.

Yas yang melihat reaksi Zahra hanya mampu terdiam. Lucu juga, pikirnya. Dia tau, Zahra merasa bersalah karena tidak bisa mengurus nya pagi ini. Tapi melihat reaksi Ning itu membuatnya heran, untuk hal sepele perihal sabun mandi??! Dia sampai lupa untuk bernapas. Saking speechless nya, Yas terpaku memandang lekat istrinya itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 22, 2021 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

When Gus Meet NingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang