"Gue pakai wish ke dua gue sekarang juga, ayo kita putus."
Erin mengernyit kemudian beberapa saat kemudian dia berdecak sambil tertawa kecil seolah mengejek.
"Shit, lucu banget ya hidup gue sampai lo beneran jadiin mainan kayak gini? Oke deal kita putus, sekarang gue mau masuk dan besok gak usah anter gue pulang. Saldo gopay gue masih cukup buat ngojek nyampe rumah." Ujar Erin sebelum akhirnya beranjak dari tempat duduk. Wajahnya terlihat kesal dan Dhanu juga bisa lihat bahwa Erin sama sekali tidak baik-baik saja.
"Lo sendiri yang bilang untuk gak main-main kan Rin di umur segini? Oke gue turuti, lo bilang kalau hubungan kita main-main kan sekarang? Ya gue kelarin di sini juga di hari ini juga supaya lo gak lagi harus ngontrol perasaan lo ke gue setelah ini." Jelas Dhanu panjang. Erin yang baru saja ingin membuka pintu yang sebelumnya sengaja ia tutup itu berhenti.
Ia menarik napas dalam sembari menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi ia berbalik dan menghampiri Dhanu yang masih memasang ekspresi santai khasnya.
Dibuat makin kesal lah dia saat tahu bahwa apa yang laki-laki itu ucapkan terkesan hanya sekedar kalimat tanpa arti penting.
"Emang seharusnya dari awal gue gak setuju, oke di sini emang gue yang bego gara-gara main setuju aja sama apa yang lo rencanain. Gue tau terlalu banyak resiko yang gue ambil untuk setuju sama rencana lo, gue tau kalau ada apa-apa hubungan kita yang udah lama ini gak bakal baik-baik aja."
Demi apapun Erin merasa dirinya kali ini hancur, walau jujur saja ia sudah mempersiapkan soal ini sejak jauh-jauh hari namun mengapa rasanya masih terlalu sakit dan sesak.
Dhanu berdiri tepat di depan Erin, menatap dalam manik gadis di depannya seolah mencari celah sesuatu dari tatapan yang dibuat agar terlihat sekuat mungkin itu.
Ia menarik napas dalam sembari menggigit bibir bawahnya. Lagi-lagi ia berbalik dan menghampiri Dhanu yang masih memasang ekspresi santai khasnya.
Dibuat makin kesal lah dia saat tahu bahwa apa yang laki-laki itu ucapkan terkesan hanya sekedar kalimat tanpa arti penting.
"Emang seharusnya dari awal gue gak setuju, oke di sini emang gue yang bego gara-gara main setuju aja sama apa yang lo rencanain. Gue tau terlalu banyak resiko yang gue ambil untuk setuju sama rencana lo, gue tau kalau ada apa-apa hubungan kita yang udah lama ini gak bakal baik-baik aja."
Demi apapun Erin merasa dirinya kali ini hancur, walau jujur saja ia sudah mempersiapkan soal ini sejak jauh-jauh hari namun mengapa rasanya masih terlalu sakit dan sesak.
Dhanu berdiri tepat di depan Erin, menatap dalam manik gadis di depannya seolah mencari celah sesuatu dari tatapan yang dibuat agar terlihat sekuat mungkin itu.
"Berhenti nyalahin diri lo sendiri padahal gak ada kesalahan yang lo perbuat. Mau tau gak wish gue apa?"
"Apa? Gue beneran gedeg sama lo sekarang."
Tangan yang sebelumnya berada di saku jaket kini terulur meraih tangan Erin yang mengepal kuat. Dhanu membuka kepala tersebut dan melihat adanya bekas jari akibat kepalan tangan yang terlalu kuat sebelumnya. Dhanu mengelus telapak tangan itu dengan ibu jarinya kemudian menatap ke arah Erin.
Erin yang hendak menarik tangannya lebih dulu membatalkan niat karena Dhanu menahannya dengan genggaman yang lebih kuat walau tidak sampai menyakiti tangannya.
"Sama kayak lo, gue juga mau berhenti untuk main-main. Gue mau berhenti juga untuk lihat lo dipermainkan. Jadi gue harus putusin lo untuk nyelesaiin permainan bodoh yang gue buat sendiri."
"Jangan kebanyakan basa basi Nu, kalau dari awal emang gak ada apa-apa jangan buat gue berharap lagi bisa gak?" Keluh Erin dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Rin, for my last wish... Gue mau kita mulai dari awal."
Erin diam, berusaha mencerna apa yang dimaksud oleh Dhanu dengan memulai dari awal. Apa ia harus melupakan apa yang Dhanu katakan satu bulan lalu? Atau ada arti lain dari kalimat terakhir laki-laki itu.
Dhanu merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya yang membuat Erin membelalak saat melihatnya.
Untung saja keduanya bukan penakut, jadi meskipun saat ini jam menunjukkan waktu tengah malam keduanya masih setia di depan dengan ditemani oleh nyamuk dan hawa dingin yang mulai menyeruak.
Ardhanu tersenyum melihat bagaimana ekspresi bingung Erin di hadapannya.
"Tadinya gue mau ngasih inu tadi pas dinner, eh yang gue bawa cuma kotaknya doang. Isinya ketinggal di rumah. Jadi?"
Erin langsung tersadar kemudian menormalkan ekspresinya. "Jadi apa? Kalau ngomong yang bener jangan setengah-setengah."
Decakan ringan keluar dari mulut Dhanu disertai dengan senyuman miring khas nya.
"Yerina gue bukan orang yang romantis dan lo tau itu lebih dari siapapun, gue cuma pemikir yang punya perasaan lebih ke lo. Gue gak mau kita cuma sekedar temenan dan gue juga gak mau kita pacaran karena menurut gue gak ada bedanya pacaran atau enggak. Gue mau lo bukan sekedar sahabat SMA gue, tapi gue juga mau lo jadi temen hidup gue. So, will you marry me, Rin?"
Lagi-lagi keheningan menghampiri keduanya. Erin yang terkejut mendengar ucapan Dhanu dan sebaliknya Dhanu diam karena menunggu respon Erin.
"Nu."
"Ya?"
"Jawabannya nunggu sebulan dulu mau gak? Gue harus mastiin sesuatu?" Dhanu menaikkan sebelah alisnya. Ia tidak tahu apa yang keluar dari mulut Erin ini serius atau balasan atas apa yang pernah ia lakukan.
Gelak tawa pelan keluar dari mulut Erin dan itu berhasil membuat Dhanu heran sendiri.
"Lo majuan sini, gue mau jawab." Tanpa ragu Dhanu maju selangkah dan kurang dari sepersekian detik ia hampir saja memekik karena kakinya tiba-tiba di injak oleh Erin.
"Balasan gara-gara udah nge prank gue," Ujar Erin singkat kemudian menyodorkan salah satu tangannya ke arah Dhanu.
"Pakein cincinnya, kalau pas gue terima." Ujarnya dengan ekspresi yang bagi Dhanu benar-benar terlihat tengil.
Dhanu bergerak menyematkan cincin yang rencananya ia berikan tadi saat di cafe Juan atau besok pagi ke jari manis Erin di tengah malam ini. Ia tersenyum karena rupanya ukurannya pas, yang artinya lamaran yang menurutnya sendiri saja aneh ini diterima.
"Jadi? Sekarang lo calon istri gue?"
"Menurut lo gimana?" Ujar Erin sambil menunjukkan tangan yang salah satu jarinya tersemat cincin. Dhanu tersenyum, ia kagum karena Erin bisa berubah secepat ini dan itu adalah salah satu nilai plus Erin sehingga Dhanu akhirnya jatih kepadanya.
Tangan Dhanu terulur membuka ponsel dan sudah tercatat jam 12.13 saat ini, yang artinya ini sudah memasuki tanggal 19 dan itu adalah hari saat Erin dilahirkan 26 tahun lalu.
"By the way, selamat bertmbah tua ya Rin. Mulai hari ini gue calon suami lo jadi lo harus baik-baik sama gue ya? Oke?"
"Gue harus bilang makasih gak diucapin gini sama lo?"
End
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Wishes ✔
Romance"Tiga permintaan dari hari ini sampai tanggal 19 bulan depan." - #Ini udah pernah aku up di instagram terus sekarang geregetan mau up di sini, semoga suka yaa
