11. Mami Pulang!

1.5K 213 30
                                        

          Sepekan kemudian, Mami benar-benar pulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

          Sepekan kemudian, Mami benar-benar pulang.

Riki sebetulnya sudah menyusun rencana untuk kabur sebelum Mesha tiba di rumah. Tapi tujuan pelariannya dengan cepat diketahui oleh Hesa dan Jafar, membuat kedua cowok itu lantas menemukan Riki di salah satu rumah temannya, bernama Zio—yang rumahnya berjarak tiga rumah dari kediaman mereka.

Riki tampak pias saat menjumpai kedua abangnya tersebut berkacak pinggang di depan pagar rumah Zio. Bahkan teman si bungsu itu sama kedernya ketika Jafar melotot dan meminta agar Riki segera keluar. Meski hampir menangis karena terus didesak oleh Hesa dan Jafar, anak itu akhirnya menurut dan keluar untuk ikut mereka pulang.

"Ngapain, sih, pakai kabur-kaburan begitu?" Jafar agak memicing ke arah Riki ketika mengucapkan kalimat tersebut. Sejak pagi mereka kembali uring-uringan karena enggak menemukan Riki di mana pun. Jafar pikir Riki hilang lagi. Beruntung tadi Mas Arul sempat lihat anaknya masuk ke rumah Zio pagi-pagi sekali. Jadi, berdasarkan informasi tersebut, mereka akhirnya menemukan Riki di sana. "Untung tadi Abang belum sempat lapor polisi," sambung Jafar.

Riki tertunduk, masih terdiam. Sesekali ia melirik ke arah Jafar, tapi kemudian menunduk lagi. Hesa yang melihatnya hanya menahan senyum, meski sebenarnya ia kesal juga terhadap sikap Riki hingga membuat Mami hampir menangis karena belum menemukannya selama satu setengah jam setibanya ia di rumah.

"Kamu kalau sampai bikin kita semua panik lagi, Abang enggak bisa kasih toleransi," timpal Hesa.

Kini Riki memandang lurus ke arah Hesa, matanya mengerjap dengan dahi yang berkerut. "Teler... teler... apa, sih, Bang?" tanyanya bingung.

Jafar nyaris saja menyemburkan tawa, bersamaan dengan Hesa yang mengusap lehernya dengan sabar. Cowok tersebut lantas menjelaskan, "Toleransi, Ki, bukan teler. Pokoknya enggak kasih kamu ampun, ya!"

Sejurus, si bungsu mengerucutkan bibir sambil menunduk lagi. Ia sadar betul kalau ucapan Hesa kebanyakan pasti dibuktikan dengan perbuatan—meski di dalam hatinya, Riki berharap kalau Hesa hanya bergurau kali ini.

Setibanya di rumah, Mesha yang menunggu dengan cemas di beranda, segera berlari memeluk Riki setelah menjumpai anak itu berjalan masuk bersama kedua abangnya. Kendati sudah mengetahui di mana keberadaan si bungsu, ia masih merasa begitu cemas sebelum benar-benar melihatnya secara langsung. "Ya ampun, Adek, Mami mau pingsan rasanya waktu tahu kamu hilang. Jangan begitu lagi, ya? Mami takut banget," ucap Mesha dengan wajah sedih.

Bukannya merasa kasihan dengan sang Mami, Riki malah melangkah mundur sambil bersedekap tinggi-tinggi. "Mami pulang buat sunatin Adek, 'kan?!" kata Riki dengan nada sebal. "Adek udah bilang enggak mau disunat sekarang, 'kan, Mi?"

"Sekarang atau nanti itu sama aja, Dek." Mesha mengelus lengan putranya sejenak, berusaha kembali mendekat. "Lagian, kata Bang Hesa seminggu ini kamu udah ngompol lima kali dan harus dikasih terpal kecil di atas sprei. Mami enggak bisa nunggu lama lagi, bisa-bisa keempat abangmu jadi kurus kering karena tiap hari harus keluarin kasur."

BUNGSUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang