⋆ ᴇɴʜʏᴘᴇɴ ʟᴏᴋᴀʟ ⋆
Byakta Riki Mandala itu anak bungsu dari tujuh bersaudara. Seperti anak bontot pada umumnya, kerjaannya kalau di rumah cuma cari ribut sama abang-abangnya, kalau enggak gitu ya buat prahara yang bikin keenam abangnya itu cuma bisa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jam besar yang berada di ruang tengah rumah berdentang sembilan kali, menunjukkan bahwa sudah waktunya bagi siapa saja yang esoknya akan bersekolah, harus segera masuk ke dalam kamar masing-masing untuk selanjutnya pergi tidur. Namun, meski telah mendengarnya dengan sangat jelas lantaran posisinya yang tepat berada di belakang sofa, trio bontot (Riki, Jovan, dan Sano) masih begitu bersemangat menekan setiap tombol pada stik Play Station mereka yang menayangkan gim balap mobil. Ketiganya duduk bersila di atas karpet, di depan mereka terdapat ceceran bedak yang sudah dialasi kertas koran yang sudah enggak digunakan. Kondisi itu menjelaskan bagaimana kini wajah mereka bertiga sudah penuh bedak di berbagai sisi, karena hukuman jika kalah dalam permainan adalah diolesi bedak oleh siapa pun yang memenangkannya.
Jovan terlihat mendapat torehan bedak paling banyak, berbanding terbalik dengan Riki yang hanya mendapat olesan bedak di ujung hidungnya, sementara Sano tak mendapat lebih banyak daripada Jovan. Ketiganya masih terlihat asik main di jam sembilan malam itu―Jovan bahkan bertekad kuat untuk mengalahkan Riki pada putaran kali ini. Ia harus mengolesi Riki lebih banyak bedak sebab merasa konyol jika ia harus kalah dari si bungsu dengan cara seperti ini.
Namun, keinginannya yang begitu kuat tersebut harus pupus seketika setelah menemukan Hesa berkacak pinggang sambil berdiri tepat di tengah-tengah televisi layar lebar yang mereka amati baik-baik. Jovan serta-merta merengek, memohon sekuat tenaga pada si abang, "Ya ampun, Abang minggir dulu dong! Itu udah mau finish. Buruan, Abang!"
Alih-alih menuruti, Hesa malah semakin intens menutupi layar televisi. Kali ini, cowok itu bahkan merentangkan kedua tangannya selagi melenggak-lenggok meledek. Baru setelah terdengar suara 'You Lose' dari salah satu bagian layar yang terbagi dua, Hesa menghentikan aksinya sembari tersenyum penuh kemenangan.
Jovan mendecak, ia kalah lagi dari Riki.
"Yahuuu ...," Riki berteriak dengan girang. Buru-buru, ia melempar stik PS dan menepukkan jari-jari tangannya pada bedak yang tersisa, mengoleskannya dengan brutal ke wajah Jovan hingga anak itu kini sepenuhnya terlihat putih bahkan beberapa partikel bedak sampai masuk ke hidungnya.
Riki tergelak senang sekali, hal tersebut juga diikuti oleh Sano yang bahkan tak ikut bermain pada putaran terakhir itu. Tapi siapa, sih, yang kuat menahan tawa jika melihat Jovan dalam kondisi seperti itu? Hesa yang awalnya berniat mengusir mereka untuk segera pergi tidur, malah turut tertawa terpingkal-pingkal saking tak sanggup menahan kelucuan. Apalagi dengan sorot mata Jovan yang tertuju lurus terhadapnya lengkap beserta ekspresi yang luar biasa kesal, Hesa dapat merasakan kalau adiknya itu benar-benar sebal karena gara-gara si abang menutupi layar televisinya, ia jadi kalah bermain dan harus rela mendapat torehan bedak yang begitu banyak. Dasar Bang Hesa ini!
"Gara-gara Abang, nih, Jo jadi kalah begini! Huh! Harusnya tadi bisa menang padahal," ungkapnya kesal.
"Salah siapa masih main mulu? Enggak dengar tadi jamnya udah berdentang sembilan kali?" balas Hesa, kini memasang wajah galaknya yang kemudian sukses membuat nyali Jovan menciut. "Dah, sana semuanya bubar! Cuci muka di kamar mandi, lalu pergi tidur ke kamar masing-masing."