27. Sekotak Susu Cokelat

1K 78 12
                                        

Kamis pagi itu, setelah tiba di kelas, Riki dibuat terheran-heran dengan adanya sekotak susu cokelat yang tergeletak rapi di atas mejanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamis pagi itu, setelah tiba di kelas, Riki dibuat terheran-heran dengan adanya sekotak susu cokelat yang tergeletak rapi di atas mejanya. Enggak ia temukan siapa si peletak susu, melempar tanya ke teman-teman sekelas juga tak kunjung mendapat jawaban. Lantas, sepanjang hari itu, isi kepalanya dibuat habis untuk berpikir mengenai sekotak susu cokelat yang misterius.

Riki sudah hampir bercerita pada para abang tentang kejadian tersebut, tapi ia mengurungkannya karena enggak ingin di-cengcengin sama mereka. Apalagi kalau Jovan sampai dengar, sudah pasti esok di sekolah akan geger dan Riki akan malu berat.

Maka hari itu ia memilih diam, berniat pada diri sendiri akan berangkat lebih pagi esok hari untuk mengetahui siapa pemberi susu cokelat kalau-kalau akan ada minuman itu di atas mejanya lagi. Namun, di Jumat pagi itu, Riki malah terlambat bangun. Suara Jafar sudah menggema di seisi rumah saat Riki secara serampangan mengambil handuk untuk pergi mandi padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang dua puluh menit.

"Nggak usah mandi aja apa ya, Ki! Dibangunin dari tadi boro-boro lekas bangun, heran! Ngapain aja sih kamu?! Main gim sampai larut malam?"

Riki cuma diam saat Jafar sudah ngomel-ngomel seperti itu. Ia mengaku salah karena tidur terlambat akibat kepikiran tentang penemuan susu cokelat tersebut. Tapi ia benar-benar nggak main gim. Menyentuh ponselnya saja enggak karena otaknya digunakan untuk berpikir hebat semalaman. Tapi ya, ia nggak bisa membela diri. Jafar pasti akan menanyainya sampai Riki harus mengaku soal susu cokelat itu. Dan si bungsu belum mau ketahuan perihal itu.

"Aku, Jo sama Sergin berangkat dulu aja ya, Bang?" ucap Jendra yang sudah siap mengenakan seragam dengan rapi. Sergin menimpali dengan anggukan sebab jika mereka tak berangkat sekarang, bisa dipastikan kalau ketiganya akan terlambat ke sekolah. Sebagai informasi saja kalau Sano sudah lebih dulu berangkat soalnya bus jemputan tiba di komplek perumahan mereka paling pagi.

Jafar hanya menghela napas mendengar itu. Bukan cuma mereka bertiga, tapi si abang nomor dua ini juga pasti terlambat hari ini. Namun, jika si bontot ditinggalkan begitu saja, sudah pasti rumah isinya jerit tangis pilu dan tudingan menyalahkan para abang padahal yang bangun kesiangan dia sendiri.

"Ya udah kalian berangkat dulu aja, nanti Riki biar abang yang antar ke sekolah," jawab Jafar akhirnya.

"Adek bisa pakai sepeda," Riki menyahut dari dalam kamar mandi dengan suaranya yang teredam guyuran air.

Mata Jafar spontan membola—meski si pengucap tak terlihat di depannya. "NGGAK ADA SEPEDA-SEPEDA!!!" teriaknya.

Mendadak suasana berubah hening, bahkan gemericik air dari dalam kamar mandi sudah mulai nggak terdengar lagi. Jendra, Sergin, dan Jovan bergegas pamit undur diri dari pada harus mendengar teriakan Jafar lagi setelah ini.

Sepeninggal ketiga penghuni rumah, Riki baru keluar dari kamar mandi sambil wajahnya ditekuk dalam—sama sekali nggak berani menatap abangnya yang kelihatannya sudah siap menyemburkan api dari hidungnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BUNGSUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang