07.2. Lebah Pembawa Petaka

1.8K 247 24
                                        

          Pucuk rerumputan bergoyang pelan tertiup angin, sedang matahari mulai naik dengan terik

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

          Pucuk rerumputan bergoyang pelan tertiup angin, sedang matahari mulai naik dengan terik. Riki menggoyang-goyangkan ranting pohon yang dipungutnya dari gundukan dedaunan kering di sisi barat kebun belakang rumah. Ia agak jengkel pada abang-abangnya karena saat berniat ingin membantu, mereka malah memintanya untuk minggir agar enggak mengganggu. Padahal Riki bisa melakukan sesuatu―ya, kalau mereka memang butuh bantuan―tapi kayaknya, mereka enggak akan membiarkannya menyentuh apa pun apalagi sayur-sayuran yang sudah sejak lama ditanam oleh Mami. Takut ada yang patah, katanya, atau malah dicerabut paksa dikira rumput liar.

Tentu saja, enggak ada yang tega membiarkan Riki melakukan sesuatu tanpa pengawasan. Hesa dan Jafar saja bahkan sudah sepakat untuk menjauhkan Riki dari kebun supaya enggak menginjak-injak tanaman. Tapi si bungsu juga ingin bantu, meski awalnya ia yang merengek tak setuju.

Jemarinya sibuk mengucal ujung rerumputan dan mencabutnya kasar dengan perasaan dongkol luar biasa. Riki mendengkus saat enggak sengaja bersitatap dengan Jendra dan Sergin yang tengah menuang tanah pada wadah plastik berukuran sedang yang kemudian diaduk oleh Hesa bersama jerami-jerami kering. Si bungsu serta-merta membuang pandang dan kembali memainkan ranting di tangannya, mengundang dua abangnya tersebut untuk terkekeh pelan.

Jendra tampak menekuk lutut, berjongkok di sebelah Hesa selagi berbisik, "Adek kayaknya lagi bad mood berat, Bang. Apa enggak sebaiknya kita minta dia lakuin sesuatu? Dari tadi dia ngerengek terus, 'kan?"

Hesa melirik ke arah Riki sebentar, mendapati adiknya lantas melompat-lompat untuk meraih jambu air yang menggantung rendah di atas kepalanya, cowok itu akhirnya agak bersimpati. Hesa bangkit berdiri selagi menepuk-nepuk tangannya yang kotor oleh tanah. Ia melambai sesaat. "Ki, sini sebentar, deh! Bantuin Abang aduk tanahnya," kata si sulung.

Riki kontan menoleh, di sepasang matanya terbit antusiasme, tapi rasa gengsi menenggelemkannya dalam sekejap dan diganti dengan wajah jutek juga dengkusan pendek sekali lagi. "Tadi katanya Adek enggak boleh bantu apa-apa, kenapa sekarang minta tolong?!" gerutunya, melipat tangan di depan dada.

"Ya, tadi kamu mau bantunya cabutin bunga sama sayur-sayuran, yang ada Abang malah digilas sama Mami." Hesa sedikit berdecak, kali ini berkacak pinggang tak sabar. "Jadi, mau bantu nggak? Kalau enggak, ya, Abang kerjain sendiri aja."

Agak lama terdiam setelah Hesa menyudahi kalimatnya―sepertinya sedang mikir keras untuk mempertahankan atau membuang jauh-jauh rasa gengsinya―Riki masih berdiri di bawah pohon sembari bergerak-gerak gelisah. Ya, gimana enggak gelisah, ia sudah kadung mencak-mencak sama abangnya. Bahkan di detik-detik terakhir sebelum akhirnya berjalan mendekat ke arah Hesa, Jendra, dan Sergin, wajahnya masih ditekuk dengan begitu masam.

"Sini," ucapnya, menengadahkan tangan meminta sekop taman mini yang Hesa gunakan untuk mengaduk-aduk tanah sebelumnya. Si sulung lantas mengangsurkan benda tersebut, kemudian Riki berjongkok di tempat yang sama untuk menggantikan Hesa.

"Dicampur yang rata, ya, Ki? Kalau jeraminya kurang, masukin lagi dikit-dikit jangan dimasukin sekaligus satu karung. Paham 'kan?"

"Iya, iya, Bang." Si bungsu mencetus sambil lalu, memulai pekerjaan pertamanya dengan hati yang gembira. "Dah, sana abang-abang pergi aja! Adek bisa kerjain ini sendiri, kok."

BUNGSUCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang