ILYCC - 4a

79 9 12
                                        

Hai!
Votenya dong!
Komennya boleh dong, hehehe.
~•~

Aku melangkahkan kaki lebih cepat saat mengetahui sosoknya di depan sana. Aku ingin tahu perihal kecuekannya. Ah, gila! Dia benar-benar aneh, kenapa ia tidak suka melihat perempuan? Aku lihat ia lebih sering menatap lawan bicaranya bila laki-laki saja, tetapi bila lawan bicaranya perempuan cowok cupu itu akan terus menunduk. What the hell?

Langkahnya pelan, tetapi lebar. Aku mendapatkan lirikan aneh dari siswa yang kulewati. Mungkin mereka aneh karena baru kali ini aku mau repot-repot menguntit seseorang. Ya, katakan saja aku penguntit karena memang begitulah kenyataannya.

Aku refleks menghentikan langkah saat dia memberikan tanda akan berhenti melangkah. Dia berbalik badan setelah berhenti. Ah, masih menunduk!

"Kenapa kamu ngikutin saya?"

Aku tertegun. Berat, suaranya berat, tetapi lembut. Oh, astaga, kenapa dadaku berdebar? Baru kemarin aku memakinya, kan? Kenapa hanya mendengar suaranya saja aku sudah melayang? Bagaimana bila ia menatapku?

Ah, sialan!

"Eh, anu. Mau tanya, Sarah benar sepupu lo?" Basa-basi aja, sih, aku juga tahu dia itu sepupu Sarah. Aku tidak punya alasan lain!

"Sepupu? Enggak, kata siapa?"

Aku tersentak. "What?" Tapi ... Sarah bilang Andi sepupunya. Wah, enggak beres, nih! "Sarah Velonia? Beneran bukan sepupu lo?"

Siapa yang berbohong? Untuk apa juga cowok di depanku ini berbohong? Dan untuk apa Sarah berbohong? Apakah Sarah menutupi perasaannya pada cowok cupu ini dan mengatakan bahwa cowok itu adalah sepupunya, jadi tidak mungkin opiniku tentang dia yang menyukai sepupu sendiri. Apakah Sarah hendak merahasiakan perasaannya sendiri pada Andi? Tapi, untuk apa?

"Yang kemarin nolongin saya?"

Aku mencoba menatapnya, tetapi yang kudapati dia masih menunduk. "Coba tatap lawan bicara lo. Gue jadi ngerasa lo ngomong sama lantai."

Dia terkekeh. "Kalau kamu bukan perempuan, pastilah aku mau menatap."

"Ya, seenggaknya lo bisa liatin dahi gue atau rambut gue atau di diri guelah. Tahu enggak, sih? Dengan lo liatin ke bawah terus, gue jadi ngerasa kalo gue enggak lebih menarik dari lantai yang lo tatap itu."

Aku mulai jengkel. Andi sialan, di mana-mana, kalo ada cowok yang ngobrol sama gue udah pasti enggak pernah melewatkan buat mandangin gue. Dia benar-benar cowok aneh.

"Tapi ... lantai ini emang lebih menarik daripada kamu."

Aku menganga di tempat, bahkan bisa saja rahang bawahku akan menyentuh lantai sangking terkejutnya. What the hell?

"Maksud lo?" Nada suaraku naik satu oktaf, kulirik sekitar, banyak siswa yang mulai menatapku. Astaga, aku lupa. Jaga image! Jika ayah tahu nadaku sudah naik, bisa habis aku.

Namun, mau bagaimana lagi? Hello? Aku seorang putri sekolah. Masih termasuk cewek tercantik seantero sekolah dan semuanya segan sama aku. Tidak ada yang lebih menarik selain diriku. Aku merasa harga diriku sudah dijatuhkan di hadapan cowok yang bukan siapa-siapa ini. Kampr*t juga ni anak! Belum pernah ngerasain aku bogem yak?

"Ya, maksud saya ... enggak ada yang lebih menarik dibandingkan dengan lan--"

Bugh!

Ups, kelepasan! Aku berbalik badan, meninggalkan cowok cupu itu yang tampak membungkuk akibat perutnya kutinju dengan sekuat tenaga. Masa bodo dengan lirikan terkejut dari pejalan kaki di kooridor ini, masa bodo tentang laporanku yang berantem bila sampai ke ayah.

Gimana, ya? Tanganku sudah gatal soalnya. Entahlah, ucapannya mampu memancing emosiku. Btw, kenapa tidak ada yang pro--

"Andin!"

Mendadak bahu kiriku ditarik hingga membuatku berbalik badan dan menghadap cewek yang menatapku dengan mata melebar sempurna.

Aku tersenyum miring. Pelindungnya datang. "Wah, Pangeran Kesiangannya dateng," cibirku membuat dada tepos Sarah naik-turun. Kenapa dia yang emosi? Hei! Aku sedang mencibir Andi bukan dirinya!

"Lo--"

"Sarahku Sayang, kenapa, sih, dari awal lo enggak jujur sama gue Andi itu siapa? Kenapa lo ngaku-ngaku sebagai sepupu lo?" Dia terdiam, tampak kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya. "Kenapa lo bohong? Oke, pasti karena lo gengsi, kan, mau ngaku kalo lo suka sama dia dan lo pengen ditembak dia, tapi karena dia gay lo jadi minder? Makannya lo ngaku-ngaku, kan?"

"Tutup mulut lo bang***! Andi itu enggak gay! Bocah tahu apa?" Matanya mendelik, dia menyeringgai. Wow! Hebat!

Aku terkekeh ringan. Image number one. Lalu tersenyum menyeringgai. "Hello, Sarah. Gue kenal lo dari orok kalo lo lupa." Aku melirik ke belakang di mana tadi ada Andi di sana, tapi untuk sekarang cowok itu menghilang. Kemudian tatapanku bertemu dengan tatapan jengkel Sarah.

Aku melanjutkan. "Dan lagi, cowok yang lo bela sama sekali enggak peduli. Sadar, Sar! Jangan ngenes lo, masih banyak cowok di sini kali. Buktiin ke gue kalo lo itu Sarah Velonia." Aku melambai kecil di wajahnya kemudian berbalik badan dan melenggang pergi.

Meninggalkan Sarah dengan wajah tegangnya. Ha ha ha, skakmat! Ketahuan, kan, lo Sar! Mati kutu situ!

Buat Andi, siap-siap aja, hidupmu enggak akan tenang setelah menjatuhkan harga diri seorang putri sekolah.

Aku mengeluarkan secarik kertas dengan alamat yang tertulis di kertas ini dari saku rok. Kutatap lamat-lamat seraya tersenyum miring.

Kali ini aku dapat alamat rumahnya, besok-besok mungkin alamat hatinya.

Eh?

***

I Love You, Cowok Cupu ( On Going ) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang