Senyum tidak pernah luntur diwajah Neysha ketika kehadirannya kini tidak diusir lagi oleh Nathan. Pipinya memanas, semburat merah sangat kentara dipipi putih mulusnya.
Nathan tidak membuka percakapan, bertemu dengan Neysha dijalan juga membuatnya gugup. Entahlah ia tidak tahu perasaan apa ini, ketika melihat Kirei dekat dengan lelaki lain. Dirinya marah. Ketika Neysha diganggu lelaki lain, dirinya tidak terima.
"Kak Nathan, udah lama banget ya deket sama Kirei?" tanya Neysha masih menampilkan senyum indahnya membuat siapa pun yang melihatnya akan candu.
Nathan mengangguk mantap tanpa menjawab. Di lihat dari ekor mata Nathan, gadis itu tampak menghela nafas. "Lo sendiri pindahan dari SMA mana?" tanya Nathan tiba-tiba.
"Aku pindahan dari Surabaya, kak. Papaku pindah tugas kesini," jawabnya tersenyum senang.
"Oh, semangat ya! Gue pulang duluan." Nathan tersenyum tipis, berjalan lebih dulu meninggalkan Neysha yang masih terpaku tidak percaya.
Senyum yang selama ini hanya untuk Kirei akankah berpindah haluan kepada Neysha? Entahlah semua itu hanya Nathan dan Tuhan yang tahu.
"Demi kerang spongebob yang bisa bicara, kak Nathan senyum sama aku!!" pekiknya kegirangan dalam hati.
**
Membuka pintu rumahnya dengan hati-hati, Kirei masuk kedalam rumah dengan perasaan bercampur aduk. Ia melihat Nathan sudah merasa nyaman dengan gadis lain, Abang dan Papanya yang tidak tau entah kemana.
Telpon sudah ia lakukan, namun tidak kunjung terjawab. Nomer kedua orang itu tidak aktif sampai sekarang. Anak itu takut kepada Ibunya yang selalu mencari-cari kesalahannya, jika ada Abang dan Papanya sang Mama tidak akan berani bersikap kasar kepadanya. Maka dari itu, ia butuh sosok pelindung untuknya.
Yura datang menghampiri Kirei yang tengah menunduk lalu mengangkat dagu anak itu hingga menatapnya. "Dari mana saja kamu?! Cepat selesaikan pekerjaanmu atau aku akan siksa dirimu, lebih kejam dari biasanya!"
"I-iya, Ma." Anak itu langsung berlari masuk ke dapur.
Kepala anak itu melihat kesana-kemari, ia tampak mengendap-endap kemudian anak itu mengeluarkan ponselnya guna menelepon supir Papanya.
Kirei mengucap syukur ketika telpon itu tersambung, namun ketika ia ingin berbicara ponselnya langsung direbut paksa oleh Mamanya.
Tatapan tidak suka terpancar dari wajah itu, Yura geram. Anak ini selalu saja tidak menurut kepadanya.
"Lancang ya, kamu! Jangan coba-coba menelepon Papa kamu, dia tengah sibuk saat ini." Yura membanting ponsel itu hingga hancur.
Menangis, itulah yang dilakukan anak itu. Ia tersungkur dilantai dengan tatapan tertuju pada ponselnya yang telah rusak. Lagi-lagi dirinya tidak berani melawan sang Mama.
"Mama, apa salahnya aku ingin mendengar kabar Papa. Papaku dimana?!!" teriaknya diakhir katanya.
"Berani ya, kamu. SINI IKUT SAYA!" Yura menyeret tubuh anak itu, membawanya kedalam gudang.
"Jangan pukul aku lagi, Ma.." lirihnya ketika sebuah balok kayu mengenai kakinya.
Pukulan itu tidak cuma satu atau dua kali, Yura memukul anak itu sampai puas dihatinya. Memar terlihat jelas dikaki dan pinggang Kirei, entah seberapa banyak luka yang Yura torehkan. Yang jelas Kirei tetap menyayanginya.
"Am-pun, Ma ... ini sakit sekali ..." rintihnya berbaring lemah dilantai gudang yang penuh debu dan kotor.
Anak itu terkulai lemas ketika Yura sudah beranjak pergi dari tempat itu, penglihatannya merabun hingga gelap menghampirinya.
Pukul enam pagi, anak itu terbangun dari pingsannya ketika Yura menyirami tubuhnya dengan seember air bekas kain pel.
Kirei bernafas susah payah lantaran air masuk kedalam hidungnya, sesak menghantam pernapasannya. Ingin menangispun rasanya tidak bisa, dirinya hanya bisa pasrah. Belum lagi jambakkan Yura sangat kencang membuat tubuhnya terhuyung kedepan.
"Bangun anak bodoh! Pergi dari rumah ini sekarang, saya muak lihat muka kamu!!" teriaknya mendorong tubuh yang tidak berdaya itu dengan kasar.
Secepat mungkin anak itu bangkit kemudian masuk kedalam kamarnya, selesai mandi dan mengganti bajunya menggunakan baju sekolah. Sebenarnya Kirei tidak berniat untuk sekolah hari ini, sebab pening melanda tubuhnya ditambah lagi wajahnya yang pucat.
Dirinya berlari ketika melihat Yura keluar dari kamarnya, ia takut akan disiksa lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Ketika sudah sampai didepan jalan, Kirei menatap sekeliling. Tidak ada sosok Nathan pagi ini, menghela nafas sebentar kemudian berlari kencang kearah sekolahnya.
Dinginnya pagi menerpa wajah pucat itu, perutnya pun ikut bergemuruh minta di isi.
Kaki itu seakan tidak mampu berdiri lagi ketika Kirei sudah sampai didepan pintu kelasnya, namun ia sebisa mungkin untuk tetap tersenyum dan menyapa teman-temannya.
Anak itu duduk disebelah Sasha, menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan diatas meja. Melihat itu sontak Alvino datang menghampiri Kirei lalu bertanya dengan nada cemas. "Lo kenapa, Ki? Sakit?"
Mendongak lalu menatap Alvino dengan tatapan mata sayu. "Ngantuk, malam tadi aku begadang."
"Begadang tidak mungkin bisa membuat kaki lo memar." Alvino menatap miris kaki anak itu.
"Mesum! Tidak ada otak lihatin kaki cewek!" Kirei mengalihkan pembicaraan, Alvino terkekeh geli lalu menempelkan punggung tangannya didahi anak itu. Dahinya panas, bisa jadi Kirei demam saat ini.
"Bercanda, Ki. Bercanda, by the way mending lo ke UKS aja, gue takutnya nanti lo pingsan." Dirinya mengulurkan tangan dengan Kirei, namun anak itu hanya menatap manik matanya dengan lekat.
Anak itu menggeleng kembali menenggelamkan wajahnya sama seperti posisi tadi, Sasha pun tidak tinggal diam. Dia yang tadinya sibuk bercermin lantas membantu Kirei untuk bangun.
"Ki, benar kata Vino. Mending lo ke UKS aja, gue prihatin liat lo seperti ini." Dengan raut wajah memohon, Sasha membujuk anak itu agar mau menurut.
"Kalian lebay banget, aku tidak apa-apa. Cuma butuh tidur sebentar sebelum guru masuk." Anak itu terkekeh pelan dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Bukannya lebay, Ki. Kita khawatir lihat keadaan lo," ucap Sasha menimpali.
"Makanya itu Kirei Nashira, lo harus istirahat di UKS." Sudah beberapa kali Alvino dan Sasha membujuk anak ini, namun tidak juga berhasil.
Kirei menggeleng lemah dan kembali memejamkan matanya.
**
Istirahat telah berlangsung sejak 10 menit yang lalu, Kirei belum mau beranjak dari tempat duduknya. Teman-temannya yang lain sudah pada keluar kelas, Alvino yang masih setia menemaninya.
Dirinya menatap gelisah keluar kelas, ia bingung kenapa Nathan tidak kunjung menghampirinya.
Melihat kegelisahan dari raut wajah pucat anak itu, Alvino lantas menghampirinya. Lalu bertanya tentang apa yang membuatnya gelisah. "Lo kenapa, Ki? Kepala lo pusing?"
"Bu-bukan itu."
"Terus apa? Bilang ke gue."
"Nathan, dia tidak menemui ku hari ini," ucapnya langsung memasang wajah murung.
Alvino tersenyum miris, keadaan sakit seperti ini Kirei hanya memikirkan Nathan dan tidak memikirkan kesehatannya. Padahal lihat saja, Nathan tidak berkunjung ke kelasnya sampai jam istirahat seperti ini.
"Andai lo tau, Ki. Gue disini peduli banget sama lo."
-TBC.
Maaf bgt ya, kalo ceritanya terlalu aku bawa santai. Bahkan masih bertele-tele banget, konfliknya pun belum kerasa :(. Huhu, moga aja masih ada yang nungguin cerita ini sampai end hehe. Ily All ❤.
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELWEISS [On Going]
Teen Fiction❝Kamu itu layaknya bunga Edelweiss, bisa kulihat. Namun, tak bisa kupetik❞ - Kirei Nashira - Kejadian menyakitkan itu terulang kembali ketika dirinya menginjak bangku SMA, kejadian yang menjadi trauma bagi seorang Kirei Nashira. Perjalanan cintany...
![EDELWEISS [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/251037222-64-k296507.jpg)