31. EDELWEISS

58 6 8
                                        

Neysha tersenyum getir, menatap punggung pria yang ia cintai menjauhinya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Neysha sangat membenci Kirei karena merebut Nathan darinya. Dari sifat memang Neysha jauh lebih dewasa, otaknya juga pintar. Kurang apalagi dirinya, bukankah semua yang ia miliki dirasa cukup untuk bersanding bersama Nathan.

"Ayo kita sudahi permainan ini," pinta Nathan. Wajahnya kembali ke setelan awal, menatap datar Neysha.

"Permainan apa, Kak?" tanya Neysha pura-pura tidak tahu. Padahal Neysha lah yang meminta agar Nathan berpacaran dengannya, Neysha dengan iming-iming ingin mengetes bagaimana perasaan Kirei terhadap Nathan. Bisa dibilang, kemesraan yang Nathan ciptakan hanyalah semata-mata drama belaka.

"Pada akhirnya gue paham sama perasaan gue sendiri, gue ternyata nggak suka sama lo. Maaf kalo gue bikin lo sakit hati, tapi memang ini kenyataanya. Gue nggak bisa bohongin perasaan gue lagi, gue harap lo paham." Nathan juga kembali mengubah gaya bahasanya, kemarin aku-kamu sekarang lo-gue.

Merasa tidak terima Neysha menahan lengan Nathan, tidak mencoba melepas tangan Neysha dari lengannya. Nathan kembali memberinya kesempatan untuk berbicara, barangkali Neysha masih ingin menyampaikan unek-uneknya.

"Kenapa kak Nathan selalu memandang aku sebelah mata? Kenapa Kakak nggak pernah mandang aku sebagai pacar Kakak? Kenapa, Kak? Apa karena aku bukan Kirei? Sekarang aku sadar, nggak sebaiknya hubungan pertemanan antara cewek dan cowok. Sebaiknya dari dulu aku larang kak Nathan buat berhubungan lagi sama Kirei!" Neysha menangis serta kedua telapak tangan ia gunakan untuk menutup wajahnya tetapi Nathan tidak mencoba untuk menghentikan tangisannya.

"Lupain yang kemarin Sha, bukannya lo bilang sendiri jika itu hanya permainan," ujar Nathan dengan santai.

"Kak Nathan paham nggak sih sama perasaan aku?"

"Nggak."

"Kakak kok ngeselin banget sih! Aku tuh cinta sama kak Nathan, semua hal dalam hidupku ini milik Kakak, asal kak Nathan tahu aku bisa ngelakuin apa pun supaya semua orang tahu sekuat apa aku memperjuangkan cinta aku sama kak Nathan. Lagi pula, kenapa kak Nathan terima cintaku kalau ujung-ujungnya jadi begini," tuntutnya semakin menatap berani mata tajam milik Nathan meski air mata masih membanjiri wajahnya.

"Karna Kirei." Setelah mengatakan itu Nathan langsung pergi begitu saja. Sesak di dada Neysha kian terasa, ia teduduk lemas dan menangis untuk meluapkan rasa sakitnya. Hingga lengan baju sekolahnya basah akibat air mata.

***

"Nathan lepasin, aku nggak bisa nafas," gumam Kirei. Tangannya tidak tinggal diam mencoba memukul punggung Nathan agar mau melepaskannya.

Tersadar dengan apa yang ia lakukan sekarang, Nathan terkekeh pelan. Baru hendak mencium kening Kirei, kepalanya langsung ditarik oleh Girald.

"Heh, bocah baru puber. Lo kalo nafsuan jangan ke adek gue dong! Liat situasi, kalo di semak-semak ya gas aja. Asal ada duit tip buat gue." Girald tertawa kencang setelahnya sambil merangkul pundak Nathan agar melepas rasa canggung di antara mereka, apa lagi sekarang Andre menatap tajam ke arahnya.

"Kak Girald! Kok jahat banget sih sama aku. Papa, lihat kak Girald mau jual aku," rengeknya meminta pembelaan dari Andre. Tidak ingin merusak mood Kirei, Andre lantas tertawa pelan.

"Kok Papa malah ketawa sih!"

"Kamu tuh, ya. Baru juga bangun udah bikin jengkel, baring lagi sana! Emang kamu nggak malu ngerengek kayak anak kecil di depan Nathan?" tutur Andre selembut mungkin. Kirei yang cepat luluh pun membaringkan tubuhnya kembali ke ranjang.

Sejak Girald memutuskan keluar dari ruangan Kirei, sejak itulah Kirei mulai membuka matanya kembali. Melihat putri kesayangan mereka sudah sadar, keduanya tidak dapat menahan tangis haru serta berkali-kali mengucapkan syukur.

EDELWEISS [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang