Dua seminggu setelah izin sakit, Kirei kembali menginjakkan kakinya di halaman sekolah —bersama Nathan di sampingnya.
Senyum Kirei tidak pernah pudar semenjak ia berada di sekolah, apalagi saat ini Nathan kembali dan selalu menjaganya. Keduanya saling beradu tawa, kini bukan hanya Kirei yang tampak cerewet. Tetapi, Nathan juga jauh lebih cerewet.
Kirei menoleh ke arah Nathan, senyum jahilnya kembali muncul ke permukaan ketika Nathan masih menasihatinya agar tidak banyak tingkah.
"Siapa yang sampai kelas duluan dia menang!" seru Kirei lalu melempar tasnya kepada Nathan sebelum berlari kencang.
"Jangan lari, Ki. Nanti kamu jatuh!"
Menghiraukan peringatan Nathan, Kirei masih tetap berlari kencang. Langkah Nathan dan Kirei semakin jauh, tidak mau kalah. Nathan berusaha mengejar.
Kondisi sekolah yang masih sepi memudahkan Nathan menggapai Kirei kembali sembari menyamakan langkahnya. Tawa mereka menggema di sepanjang koridor.
Nafas keduanya tersengal-sengal akibat berlari terlalu kencang, Kirei menoleh ke arah Nathan sambil menampilkan senyumnya begitu pun Nathan.
"Jangan gitu lagi, lo tahu sendiri fisik gue lemah. Nggak kayak lo," pinta Nathan. Satu tangannya terulur mengusap peluh di sekitar dahi Kirei dan berakhir mencubit pelan pipinya.
"Atan! Jangan dicubit nanti aku nggak mau makan," ucap Kirei. Kedua tangannya melindungi pipinya dari serangan Nathan lagi.
Sifat jahil Nathan membuat Kirei sedikit heran, tidak seperti biasanya Nathan bersikap seperti ini. Nathan yang biasanya kaku, berubah menjadi manusia hangat seperti sekarang. Kirei kembali memandangi wajah Nathan, mencari tahu di mana letak beban yang terpendam. Seingatnya, Nathan tidak pernah lagi membahas Neysha. Setiap kali bertemu, Nathan selalu membahas tentang mereka bukan tentang orang lain.
Dibuat penasaran dengan isi kepala sendiri, Kirei tidak sadar jika ia melamun cukup lama. Hingga Nathan datang menghampirinya membawa dua kotak susu coklat, ia sampai tidak sadar jika Nathan pergi meninggalkannya sebentar.
"Lo kerasukan Jin pendiam?" tanya Nathan sambil menyodorkan susu coklat.
"Ngasal banget, ya, kalo ngomong. Bidadari seperti aku ini tidak mungkin kerasukan Jin, malah Jin-nya suka sama aku. Contohnya aja orang di depan aku ini." Kirei mengibas rambut pendeknya angkuh.
"Hm, terserah. Ayo ke kelas," ajak Nathan sembari membantu Kirei berdiri.
Baru saja dua langkah berjalan, Kirei sudah mengeluh capek hingga dengan seenaknya ia melempar tasnya lagi kepada Nathan. Maka, mau tidak mau Nathan harus menggendong tas Kirei lagi.
"Makasih, ya, Atan. Nanti kamu bakal masuk surga kalo terus-terusan bantu bidadari terjebak di bumi ini. Aku udah pesan tiket surga buat kamu." Kirei berlari kecil, sesekali ia mengecek satu persatu kelas orang lain, berteriak lalu tertawa tidak jelas.
"Satu hari aja nggak malu-maluin bisa nggak, sih?" tanya Nathan, ia mulai resah dengan kelakuan baru Kirei. Sebenarnya bukan baru lagi, tetapi, sudah bertahun-tahun ia menahan malu dan keresahan.
***
Bangku kelas masih kosong, belum ada satu pun anak-anak lain datang. Senyum terbit di wajah Nathan tatkala melihat kondisi kelas, suasana ini sangat pas untuknya bersama Kirei lebih lama.
Kirei duduk tenang di bangkunya tanpa menghiraukan Nathan yang masih berdiri di depan pintu kelasnya.
"Tugas lo kemarin masih ada yang belum, 'kan? Ayo kita kerjain itu sebelum bel masuk bunyi." Nathan duduk di samping Kirei, mengeluarkan satu persatu alat tempur.
Kirei heran, sejak kapan Nathan baik sekali ingin mengerjakan tugasnya dan sejak kapan juga Nathan sudah ada di sampingnya padahal tadi masih berdiri di depan pintu.
"Gue cuma ngajarin aja, lo ngerjain sendiri. Nggak usah manja," ucap Nathan cepat ketika ia melihat senyum di wajah Kirei. Senyum yang menandakan jika Kirei enaknya saja.
"Kamu aja Atan, lagian bidadari seperti aku mana mungkin mengerjakan sendiri."
Nathan memandang Kirei frustrasi, ia merasa kalah hanya karna Kirei menyebut dirinya bidadari. Lagi-lagi Nathan mengalah, tugas Kirei langsung dirinya kerjakan.
Tidak berselang lama satu persatu anak kelas Kirei datang. Mereka tidak langsung duduk di kursi masing-masing, melainkan menghampiri Kirei. Bertanya basa basi tentang keadaan Kirei, ada yang memeluk —terutama Sasha yang paling dramatis padahal ia baru masuk kelas, serta meledeknya duduk bersama Nathan lagi dan banyak si rusuh lainnya.
"Ada yang Ce El Be Ka nih, piw piw," ucap Dion menanggapi komentar dari anak lain.
"Mending lo jangan sama dia deh, Ki, ntar ada yang ngamuk lagi kayak kemarin," sindir Sasha sembari melirik ke arah Neysha yang baru saja masuk.
"Sayang, nggak boleh gitu lagi, ya. Nggak baik ghibahin orang pagi-pagi apalagi nggak ngajakin gue," ucap Dion mendapatkan tatapan sinis dari Sasha.
"Najis banget dipanggil sayang sama lo!"
"Lah? Kok lo gitu sih, yang? Di chat mesra banget, giliran di sini galaknya melebihi orang ngutang."
"Terserah gue, pergi sana! Ganggu mood gue yang lagi bagus," usir Sasha meski saat ini Dion merengek kepadanya.
Mendengarkan ucapan tidak berfaedah dari teman-teman Kirei membuat Nathan harus bertahan cukup lama lagi agar tidak mengganggu mereka semua akan kehadiran dirinya.
Apalagi sekarang tubuh Nathan bergerak sendiri ketika merasakan seseorang sedang memperhatikannya sedari tadi. Seperti apa yang ia harapkan, Neysha melihat ke arahnya meskipun harus membuang muka ketika tidak sengaja bertemu pandang.
"Udahan ngobrolnya, kerjain yang ini," pinta Nathan langsung direspon cepat oleh Kirei.
***
Kirei kembali ke rumah lamanya setelah berdebat dan berdiskusi panjang walaupun pada akhirnya yang tua harus mengalah serta menuruti perkataan anak perempuan kesayangan keluarga. Amina sebagai ibu pun dipaksa ikut tinggal bersama Kirei. Meski tidak enak hati, Amina tetap menuruti kemauan Kirei walaupun harus berperang dingin melawan rasa di dalam hatinya. Terlalu banyak bekas luka di rumah ini.
"Mamaaaa, Kiki pulang membawa pangeran ganteng kesayangan Kiki!" teriak Kirei dari ujung gerbang terdengar sampai dapur.
Amina berlari cepat, memastikan jika Kirei tidak membawa laki-laki sembarangan. Melihat siapa yang datang, Amina bernafas lega. Bilang saja dirinya terlalu panik sebab ia baru pertama kalinya mendapatkan sikap Kirei yang super-super manja.
"Nggak usah teriak-teriak, Ki. Lo ngomong kecil aja orang-orang udah denger." Nathan berusaha menutup mulut mercon Kirei dengan satu tangannya.
"Masuk dulu nak Nathan, tante udah masak nanti sekalian makan siang bareng." Amina tersenyum hangat, mencoba mencairkan suasana canggung.
Nathan mengangguk pelan sembari menyeret tubuh Kirei yang masih dikunci mulutnya agar tidak berbicara yang tidak-tidak.
"Asin banget mana bau terasi, habis makan apa sih, Atan?" protes Kirei. Satu tangannya bekerja untuk menutup hidungnya.
"Duduk, abis makan gue temenin lo kerjain pr," ucap Nathan. Baru saja ingin protes, Nathan sudah lebih dahulu memotong ucapannya, "nurut atau besok nggak gue kasih nafkah?" Kirei terdiam jika tidak diancam dengan uang mungkin sekarang ia akan mengacak-acak muka Nathan.
"Mamaaa ... lihat Nathan, tuh!"
"Nathan benar, sayang. Kamu harus banyak-banyak belajar, 'kan sebentar lagi mau ujian kenaikan kelas. Nathan juga udah mau kelas 12, nanti nggak ada kesempatan lagi buat ngajarin kamu terus," jelas Amina sembari mengusap rambut anaknya. Tentu saja Amina sedikit demi sedikit mencari tahu tentang Nathan lewat sahabatnya sendiri —ibu Nathan.
Kirei mengangguk patuh sambil mengunyah pelan, matanya terus melirik Nathan yang saat ini tersenyum puas melihat Amina membelanya di depan dirinya.
"Awas aja nanti," ucap Kirei pelan seperti berbisik disertai tangan yang mengancam Nathan menggunakan sendok.
- T B C -
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELWEISS [On Going]
Ficção Adolescente❝Kamu itu layaknya bunga Edelweiss, bisa kulihat. Namun, tak bisa kupetik❞ - Kirei Nashira - Kejadian menyakitkan itu terulang kembali ketika dirinya menginjak bangku SMA, kejadian yang menjadi trauma bagi seorang Kirei Nashira. Perjalanan cintany...
![EDELWEISS [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/251037222-64-k296507.jpg)