Sudah hampir satu minggu singto tak mau berbicara lagi dengan krist, singto mengabaikan krist meskipun mereka berada di rumah, niat mereka untuk honeymoon juga terpaksa dibatalkan.
Krist uring-uringan dikantor, ia benar-benar tak fokus berkerja, apa benar apple hamil anaknya? Krist memang terlalu mabuk saat itu hingga tak sadar apa yang telah dilakukannya. Apple juga menunjukan bukti testpack dan surat keterangan dari dokter, memang benar, apple tengah mengandung dan usia kandungannya masih sangat kecil.
***
Sedangkan ditempat lain saat ini, singto tengah menangis bercerita tentang semuanya kepada namtarn.
Jujur saja namtarn pernah punya rasa pada singto, tapi itu dulu sekarang ia sudah ikhlas melihat singto bahagia bersama krist, tapi sekarang apa? Krist malah menyakiti singto lagi.
"Apa kamu yakin itu anak krist?" Ucap namtarn.
"Apple juga memberikan bukti surat keterangan dari dokter, dia mengatakan jika mereka melakukan seks saat phi krist mabuk setelah memergoki kita beciuman di kafe" ucap singto.
"A-aku minta maaf, sing. Itu semua salah ku" lirih namtan.
"Lupakan, semua sudah terjadi" ucap singto.
"Baiklah, abaikan jika dia sedang hamil, kamu harus kuat, aku tak yakin jika itu anak krist. Bisakah kamu bersikap biasa saja pada krist? Jika kamu tak menghiraukan krist, bisa saja nanti apple merebut krist lagi darimu" ucap namtarn.
"Maksudmu?"
"Bersikap biasa saja seakan tak ada masalah, bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kamu mengabaikan krist akhir-akhir ini? Aku hanya takut di saat kamu mendiamkan krist, apple kembali masuk ke dalam hidup krist dan memberikan perhatian yang tidak kamu berikan pada krist, lalu krist nyaman bersama apple. Apa kamu mau kehilangan krist untuk kedua kalinya?" Ucap namtarn.
"T-tapi.. bagaimana dengan anak yang berada di dalam kandungan apple?" Ucap singto.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika krist bukan tipe pria yang brengsek? Ia tak mungkin bermain dengan wanita diluar sana 'kan?" Ucap namtarn.
"Tapi jika phi krist sedang mabuk, dia memang seperti itu, dia tak pernah sadar dengan apa yang dilakukannya" lirih singto sedih.
"Meskipun aku tak mengenal krist dengan baik tapi aku percaya apa katamu, aku yakin krist memang bukan tipe pria yang brengsek. Bukankah lebih baik kamu temui krist sekarang? Jangan abaikan lagi dia" ucap namtarn.
Singto hanya mengangguk dan beranjak pergi dari sana, ia pulang ke rumah dan memasak sesuatu, singto ingin memberikan krist kejutan dengan membawakan krist makan siang. Setelah memasak singto menjalankan mobilnya ke kantor krist.
Singto masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu, ia melihat krist tengah melamun bahkan seperti tak menyadari jika dia berada di ruangannya.
"Phi krist" ucap singto.
Krist tersadar dari lamunannya dan melihat keberadaan singto di ruangannya. Apa ini mimpi? Bukankah singto sedang marah padanya?
"Apa phi sudah makan siang?" Tanya singto.
"Belum, sing. Aku masih sibuk" ucap krist.
"Sibuk apa? Ku lihat phi hanya sibuk melamun tadi" ucap singto.
"Apa kamu sudah tak marah pada ku?" Ucap krist hati-hati.
Singto meletakkan bekal yang dibawanya dan duduk dipangkuan krist.
"Aku tak bisa marah terlalu lama pada phi" ucap singto
"Maafkan aku. Aku memang tak mengingat apapun, aku mabuk saat itu, hati ku terasa hancur saat melihat kamu berciuman dengan wanita itu" ucap krist.
"Phi tak perlu minta maaf" ucap singto.
"T-tapi.. bagaimana dengan anak yang dikandung apple?" Lirih krist.
"Aku tak masalah jika phi ingin memperhatikannya, tapi bukan berarti phi harus menikahinya" ucap singto.
"Terima kasih sudah mau mengerti, sing" ucap krist.
Krist menangkup wajah singto dan mengelus bibir merah singto. Ia merindukan bibir singto, dulu hampir setiap hari ia dapat mengecupnya, sekarang sudah hampir seminggu ia tak pernah bisa mengecupnya lagi.
Krist mendekatkan wajahnya ke bibir singto dan menyambar bibir merah tersebut. Ia menyesap hati-hati bibir bawah milik singto dengan singto yang menyesap bibir atas krist.
Mereka saling melumat, menyesap satu sama lain, tangan krist menekan tengkuk leher singto dan memperdalam ciuman mereka. Mereka beradu lidah didalam sana, saling mengungkapkan rasa rindu masing-masing.
Kini rist menyudahi ciuman mereka, ia menatap wajah singto penuh cinta. Krist mengusap sisa saliva dibibir singto menggunakan ibu jarinya lalu menyatukan kening mereka.
"Percaya pada ku, meskipun aku bertanggung jawab pada anak yang di kandung apple, aku tetap akan memperhatikan mu" ucap krist.
Singto hanya mengangguk, jujur saja ada secuil rasa sakit saat krist membahas tentang itu, tapi singto tak bisa bersikap egois, biar bagaimana pun, anak itu juga anak krist.
Singto kembali menyambar bibir krist menghisapnya kuat, kali ini ciumannya diiringi dengan nafsu yang membara, keduanya saling menumpahkan nafsu satu sama lain.
Singto menurunkan ciumannya ke leher putih milik krist, menghisap dan menggigitnya kecil sehingga meninggalkan bekas kemerahan.
Tangannya mulai masuk kedalam kemeja krist, mengusap apa yang dapat diusapnya, kali ini krist hanya diam membiarkan singto bermain sendiri.
Terdengar suara ketukan pintu membuat singto menghentikan kegiatannya.
Singto masih tetap duduk dipangkuan krist, ia tak peduli dengan siapa yang datang.
"Kenapa kamu kesini?" Tanya krist saat melihat apple masuk ke dalam ruangannya.
"Anakmu merindukan daddynya" ucap apple.
"Cih, itu pasti bohong" ucap singto.
"Kenapa kamu duduk di pangkuan krist!!" Ucap apple marah.
"Phi krist masih suamiku!" Ucap singto.
"Tapi sebentar lagi kalian akan bercerai!" Ucap apple.
"Aku tak akan menceraikan singto, apple! Jangan asal bicara!" Ucap krist
"Bagaimana dengan ku, krist?" Ucap apple.
"Aku akan bertanggung jawab atas anak itu, tapi tidak dengan menceraikan singto!!?" Ucap krist.
"T-tapi aku ingin kamu menikahi ku!" Ucap apple.
"Dalam mimpi mu!? Aku tak akan mengijinkan phi krist menikahi mu!" Ucap singto.
Singto menatap ke arah apple dan memandang remeh apple.
"Sebaiknya kamu pergi, aku ingin melanjutkan permainan tadi dengan phi krist" ucap singto.
"Siapa kamu berani menyuruh ku pergi!" Ucap apple.
Singto tak menghiraukan ucapan apple, ia dengan sengaja mencium bibir krist didepan apple.
"Beri tahu alamat rumahmu dimana, krist! Aku ingin ikut tinggal bersama kalian!!" Ucap apple.
"Jangan keterlaluan, apple!!" Ucap krist.
"Tapi aku sedang hamil, tak ada yang menjaga ku, kamu tahu sendiri aku sudah tak punya siapa-siapa lagi disini, aku bahkan sudah tak punya orang tua, krist" ucap apple.
"Aku akan membiayai hidupmu hingga anak itu lahir, jika sudah lahir berikan pada ku dan kamu pergi jauh-jauh dari hidup ku!" Ucap krist.
Apple terkejut mendengarnya dan menatap tajam singto yang masih betah berada dipangkuan krist.
"Sebaiknya kamu tinggal dirumah lama ku" ucap krist.
Hanya dengan cara itu krist bertanggung jawab untuk anaknya, dia tak mungkin membawa apple ikut tinggal bersama mereka 'kan? Apa lagi rumah lamanya memang kosong, itu bentuk rasa peduli krist pada anaknya.
Singto mempererat pelukannya ditubuh krist, membiarkan krist beradu mulut dengan apple, ia terlalu malas untuk ikut campur.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf Untuk Itu
FanfictionMenceritakan masalah rumit rumah tangga krist dan singto, karna memang pada awalnya di dasari dengan sebuah perjanjian dan cinta sepihak. Top krist, bot sing, mpreg!
