Kini usia kongpob dan arthit sudah 4 tahun, dan usia fiat 15 tahun. Fiat sudah memasuki usia remaja, dan menjadi kakak yang baik untuk kedua adiknya sedangkan kongpob dan arthit sampai sekarang masih belum akur, selalu ada yang mereka ributkan.
"Kongpob!! mobil itu punya phi!" Teriak arthit.
"Ini punya kong!!" Teriak kongpob yang tak mau kalah.
Fiat hanya melihat kongpob dan arthit tanpa berniat untuk melerainya, ia tengah fokus main PS saat ini, hingga tak memperdulikan kedua adiknya yang tengah bertengkar.
Singto datang dari dapur membawa cemilan dan susu untuk ketiga anaknya.
"Kongpob, arthit, jangan bertengkar, bukankah kalian saudara, tidak boleh bertengkar" ucap singto.
"Phi arthit dulu yang mulai, pa!!" Ucap Kongpob.
"Tapi kong merebut mobil punya arthit, pa" adu arthit.
"Ini punya kong!! Bukan punya phi arthit" ucap Kongpob.
Singto benar-benar pusing melihat kedua anaknya bertengkar, ia mengambil mobil yang di pegang oleh kongpob.
"Biar adil mobil ini papa sita, sekarang minum susu setelah itu tidur siang, dan kamu fiat! Berhenti bermain, apa kamu sudah mengerjakan tugas sekolah mu?!" Ucap singto.
"Sebentar, pa. Aku sedikit lagi menang" ucap fiat yang tengah fokus bermain.
Kongpob dan arthit meminum susu mereka setelah itu berlari kekamar untuk tidur siang.
Kongpob dan arthit naik ke kasur dan merebahkan tubuh mereka dikasur, mereka tertidur dengan saling memunggungi, seolah enggan untuk menatap satu sama lain.
Sedangkan singto saat ini masih terus memarahi fiat.
"Fiat, apa kamu mendengar papa bicara? Berhenti bermain game dan belajar sekarang! Kamu sudah terlalu lama bermain!" Ucap singto.
Krist baru saja pulang dari kantor, ia menghampiri singto yang sedang memarahi fiat.
"Sing, jangan terlalu keras pada fiat, kasian dia. Mungkin fiat lelah belajar, biarkan dia bermain" ucap krist.
"Dia terus bermain sejak tadi, phi!" Ucap singto kesal.
"Fiat, masuk kamar dan belajar, bukankah kamu sebentar lagi ada ujian?" Ucap krist.
Fiat berdecak kesal mendengarnya dan terpaksa mematikan game miliknya, ia beranjak dari kursi dan berjalan pergi ke kamarnya.
Setelah fiat pergi, singto kembali ke dapur, ia menyiapkan makan siang untuk suami tercintanya.
Bi ayu memang sudah lama berhenti bekerja di rumah mereka, karna Kongpob dan Arthit sudah cukup besar, jadi singto membiarkan bi ayu yang ingin berhenti.
Krist berjalan menuju kamar kongpob dan arthit, dilihatnya kedua anaknya sudah tertidur. Ia berjalan mendekati mereka yang tertidur pulas, ia mengusap rambut Kongpob dan Arthit secara bergantian.
Krist benar-benar heran dengan kedua anaknya itu yang tak pernah bisa akur sejak mereka masih bayi bahkan hingga sekarang, apa karna mereka tak ada hubungan darah sama sekali, apa itu sebabnya mereka tak pernah akur?
Krist menjadi khawatir, jika suatu saat mereka tahu mereka bukan saudara kandung, entah bagaimana lagi tingkat mereka bertengkar.
Tentunya ia kasian pada arthit yang sudah tak memiliki siapa-siapa didunia ini, bahkan ayah kandungnya saja krist tak tahu, apple tak pernah menceritakannya.
Krist memikirkan kedepannya, takut kongpob tahu jika arthit bukan phi kandungnya, apa nanti kongpob akan mengejek arthit.
Krist menggelengkan kepalanya, membuang pikiran itu, mungkin suatu saat anak-anaknya bisa akur, semoga saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf Untuk Itu
FanfictionMenceritakan masalah rumit rumah tangga krist dan singto, karna memang pada awalnya di dasari dengan sebuah perjanjian dan cinta sepihak. Top krist, bot sing, mpreg!
